Cara Cegah Demam Berdarah Dengan Mengintip Kebiasaan Nyamuk

Cara Cegah Demam Berdarah Dengan Mengintip Kebiasaan Nyamuk

Entah karena telah terjadi pergeseran musim, pada bulan seperti ini antara kondisi cuaca yang panas dan turunnya hujan sepertinya tidak menentu. Pagi panas, malamnya hujan. Atau sebaliknya. Pagi hujan, malamnya panas.
Persis seperti kondisi cuaca ketika sedang pancaroba atau pergantian musim. Selain menyebabkan rasa gerah pada tubuh, kondisi cuaca yang seperti ini seringkali “mendatangkan” berbagai macam penyakit.
Yang paling ringan biasanya flu dan masuk angin, sampai pada “penyakit musiman”, seperti penyakit typus dan demam berdarah ( DBD ).

Khusus untuk penyakit terakhir, hal ini sangat dimungkinkan terjadi sebab adanya genangan-genangan air yang menyebar ditambah kondisi cuaca yang terkadang hangat. Sehingga nyamuk Aedes Aegypti , penyebab penyakit Demam Berdarah ( DB ), semakin leluasa berkembang biak.
Pada bulan ini pun, meski belum sampai mewabah, serangan penyakit DB sudah terlihat mulai meluas. Bahkan di beberapa wilayah, termasuk di daerah khusus ibukota Jakarta sudah mulai dilakukan “penyemprotan” untuk membasmi nyamuk.

Cara untuk mencegah dan meminimalisir serangan nyamuk Aedes Aegypti ini, sebagaimana yang diajarkan dulu, masyarakat dianjurkan untuk lebih menjalani pola hidup bersih dan sehat.

Membersihkan dan membuang tumpukan sampah terutama yang bisa ditempati genangan air, membersihkan selokan, menghindari terjadinya genangan air dan atau mengurasnya, memasang kawat ram di rumah atau selambu sampai dengan penggunaan obat nyamuk dan penyemprotan massal.
Dengan cara-cara seperti ini diharapkan nyamuk Aedes Aegypti ini tidak bersarang dan berkembang biak.
Serangan nyamuk penyebab penyakit demam berdarah ini sebenarnya tidak pilih-pilih, siapapun dapat digigitnya sehingga bisa terserang penyakit DB, tergantung pada kondisi tubuhnya saat itu.
Namun menurut catatan data, sampai saat ini pasien Deman berdarah yang menjadi korban serangan nyamuk ini mayoritas adalah anak-anak.
Catatan data menunjukkan anak-anak yang berusia antara 7-12 tahun merupakan jumlah tertinggi sebagai penderita demam berdarah. Karena itu semua keluarga wajib memperhatikan dan melindungi anak-anaknya di rumah dari kemungkinan serangan nyamuk menjengkelkan ini.

Selain dengan melakukan upaya di atas, sebenarnya masih ada satu cara lagi yang sangat efektif untuk mencegah terjadinya demama berdarah akibat serangan nyamuk Aedes Aegypti ini, yaitu dengan mengetahui pola dan kebiasaannya.

Cara ini hampir serupa dengan metode yang diterapkan pihak kepolisian dalam menangkal terjadinya tindak kejahatan, yaitu dengan mengetahui dan mempelajari modus kejahatan.
Sehingga dengan mengetahui kebiasaan nyamuk dalam menyerang korbannya, maka resiko terkena penyakit demam berdarah dapat dihindari dan dikurangi.
Sebab layaknya manusia, nyamukpun sebenarnya selalu memiliki pola dan kebiasaan.

Dari hasil penelitian para ahli, nyamuk Aedes Aegypti memiliki kebiasaan untuk mencari makan pada pagi dan sore hari, yaitu pada jam-jam antara 09.00-11.00 WIB dan jam 15.00-18.00 WIB.
Karena itu jam-jam rawan gigitan nyamuk ini perlu diwaspadai. Sangat disarankan agar anak-anak tidak tidur pada jam-jam ini.
Dan seandainya harus tidur, diusahakan untuk memberikan perlindungan semaksimal mungkin. Misal dengan memasang kelambu, menggunakan obat anti nyamuk dan sebagainya.
Intinya, waspadai dan hindari serangan gigitan nyamuk Aedes Aegypti pada jam-jama rawan tersebut.

Disarankan melihat juga :

Bila Artikel Ini Bermanfaat, Tolong Bagikan :

Related Posts:
Disqus Comments