Cara Membedakan Ular Jadi-jadian Dengan Ular Sungguhan Dan Cara Mengusirnya

Daftar Isi Artikel
Di jaman modern yang telah berada di era digital-Artificial Intellegent (AI), hampir semua hal “diarahkan” kepada rasionalitas dan ilmiah, yang (sayangnya-menurut AI sendiri) ilmiah menurut ilmu pengetahuan/science modern lebih cenderung kepada sifat materialistis. 
Hal-hal yang di luar jangkauan kaidah ilmiah (misal : karena science tidak atau belum bisa memberikan penjelasan) maka dianggap tidak ada, hanya mitos, tahayul, gugon tuhon dan sejenisnya. 
Faktanya, rasio/akal manusia terbatas. Faktanya pula ada banyak hal dimana ilmu pengetahuan/science modern belum bisa memberikan penjelasan. 
Fenomena jin sebagai contohnya. 
Ilmu pengetahuan/science modern hingga saat ini belum bisa memberikan penjelasan rasional, sehingga dianggap sebagai mitos atau tahayul belaka. 
Dalam konteks yang sama, adalah adanya ular jadi-jadian yang selama ini hanya dianggap mitos belaka. 

Mitos tentang manusia ular atau ular jadi-jadian? 

Meski dianggap sebagai mitos dan tahayul, fenomena manusia ular (manusia bertubuh ular) sudah ada sejak lama seiring dengan peradaban manusia. 
Anehnya, mitos manusia ular ini tidak hanya didapati di satu tempat, tetapi ada tersebar hampir di seluruh pelosok dunia yang terpisah jauh ribuan kilometer jaraknya dan berbeda era. 
Manusia ular merupakan mitologi universal. 
Dimana sosok ini sering digambarkan sebagai dewa-dewi, makhluk penjaga, atau siluman 
Uniknya justru digunakan sebagai perlambang dualitas kebijaksanaan, penciptaan, dan keabadian, namun juga melambangkan kejahatan. 

Sebagai contoh, berikut adalah beberapa mitos manusia ular di seluruh dunia: 

-Nirah (Mesopotamia kuno) 
Di jaman Mesopotamia kuno, Nirah yang digambarkan sebagai ular pada kudurrus , atau batu batas adalah dewa pembawa pesan IÅ¡taran 

- Quetzalcoatl (Aztek kuno) Ular berbulu (Aztek Kuno)
Dipandang sebagai entitas kembar yang mewujudkan dewa dan manusia serta manusia dan ular, namun terkait erat dengan kesuburan. 

-Nüwa dan Fuxi (Tiongkok) 
Berwujud setengah manusia dan setengah ular. Dipercaya sebagai dua pencipta pertama dalam mitologi Tiongkok.Nüwa digambarkan menciptakan manusia dari tanah liat. 

-Siluman Ular Putih atau Bai Suzhen (Tiongkok) 
Siluman ular putih yang merubah diri menjadi wanita cantik dan menikahi manusia fana, melambangkan cinta yang terhalang 

- Naga dan Nagagini (India/Asia Tenggara) 
Makhluk setengah manusia, setengah ular yang menghuni dunia bawah (Patala) dan penjaga sumber air. Shesha adalah raja naga yang menopang Dewa Wisnu. 

-Ular Pelangi (Aborigin Australia) 
Dipercaya sebagai dewa pencipta yang membentuk lanskap bumi dan dikaitkan dengan air dan kehidupan. 

-Nyi Blorong (Jawa/Indonesia) 
Digambarkan sebagai siluman ular yang berbentuk wanita cantik. Sering dikaitkan dengan pesugihan. 

-Medusa (Yunani) 
Sosok mahluk wanita dengan rambut ular yang bisa mengubah manusia menjadi batu dengan pandangannya 

-Ouroboros (Global/Mesir/Yunani) 
Ular yang melingkar yang memakan ekornya sendiri, melambangkan siklus kehidupan, kematian, dan keabadian. Sering dijadikan simbol perkumpulan rahasia. 

-Reptilian ( era modern ) 
Penganut teori konspirasi meyakini adanya entitas cerdas lain (alien) di bumi berbadan manusia berkepala seperti ular/kadal. 

Apa itu ular jadi-jadian ? 

Sebagian masyarakat Indonesia percaya adanya ular jadi-jadian. 
Ular jadi-jadian adalah satu mitos atau kepercayaan mistis masyarakat (Indonesia) yang menganggap bahwa ada ular tertentu yang bukan ular sebenarnya tetapi sebangsa mahluk halus atau siluman atau penjelmaan jin, yang biasanya masuk ke dalam rumah atau muncul secara misterius. 
Dalam bentuk fisiknya memang ular beneran tetapi hakekatnya bukan hewan ular.
cara membedakan ular jadi-jadian
Dalam budaya Indonesia, kehadiran ular jadi-jadian sering dikaitkan dengan pertanda buruk, energi negatif, atau bahkan kiriman sihir atau santet. 

Pandangan Islam tentang ular jadi-jadian 

Ajaran Islam mewajibkan pemeluknya untuk percaya (beriman) kepada hal yang ghaib. 
Salah satu hal ghaib dalam ajaran Islam adalah mahluk yang disebut Jin. 
Jin yang diciptakan dari api termasuk makhluk ghaib, karena tidak bisa dilihat manusia biasa – meskipun ada orang-orang tertentu dengan ijin Allah – bisa melihat jin. 
Dalam konsep Islam tidak dikenal adanya ular jadi-jadian. 
Namun dalam ajaran Islam, jin dapat berbentuk/berwujud bermacam-macam salah satunya berwujud ular. 

Sebagaimana sabda Rasulullah : 
"Jin itu ada tiga jenis, yaitu: (1) jin yang memiliki sayap dan terbang di udara, (2) jin yang berwujud ular dan kalajengking, dan (3) jin yang menetap dan berpindah-pindah." (HR at-Thabrani) 

Dalam sebuah hadist yang cukup panjang sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya (No. 4151/4152) dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, 
Tentang seorang pemuda dari kalangan Anshar yang baru menikah pulang ke rumahnya dan mendapati istrinya berdiri di ambang pintu. Sehingga cemburu dan hendak menghunus pedang. Namun, istrinya meminta pemuda itu masuk untuk melihat apa yang ada di dalam rumah. 
Di dalam rumah, ia mendapati seekor ular besar melingkar di atas tempat tidur. 
Ia langsung menyerang dan menikam ular tersebut dengan tombak/pedang hingga ular itu mati. Namun secara bersamaan, pemuda tersebut langsung meninggal di tempat. 
Tidak diketahui siapa yang lebih dulu mati, apakah pemuda itu atau ular tersebut. 

Ketika berita ini sampai ke Rasulullah SAW, beliau menjelaskan bahwa sesungguhnya di Madinah terdapat sekelompok jin yang telah masuk Islam. 
Dari kejadian ini akhirnya Rasulullah membimbing umatnya agar tidak terburu-buru dalam membunuh ular yang dijumpai di dalam rumah, kecuali setelah memberi peringatan kepada ular tersebut sebanyak 3 kali. 

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (artinya), 
“Sesungguhnya pada rumah-rumah ini terdapat ‘awamir (ular-ular). Jika kalian melihat ada dari ular-ular itu maka berikanlah peringatan sampai tiga kali, jika dia masih bertahan, maka bunuhlah karena dia adalah jin kafir.” (HR. Muslim). 

Dalam Sunan Abu Dawud diriwayatkan Abu Sa’id al-Khudri berkata: 
"Rasulullah bersabda, ‘Beberapa ular adalah jin; maka bila ada orang yang melihat salah seorang dari mereka di rumahnya, hendaknya ia memberi peringatan tiga kali. Jika kembali (setelah itu), dia harus membunuhnya, karena itu adalah setan." 

Menurut lmam Malik rahimahullah, bentuk peringatan yang diberikan kepada ular tersebut adalah : “Aku ingatkan engkau dengan Allah dan Hari Akhir agar engkau tidak menampakkan diri dan mengganggu kami.” 

Cara sederhana membedakan ular jadi-jadian dan ular sungguhan 

Terlepas apapun sebutannya – sesuai kepercayaan masing-masing - apakah disebut sebagai ular jadi-jadian sebagaimana mitos yang berkembang atau merupakan jin yang berwujud ular, ada beberapa cara sederhana untuk membedakan apakah ular yang masuk/berada di dalam rumah adalah ular sungguhan atau tidak. 
Bagaimanapun ular –sebagai hewan lazimnya – memiliki ciri-ciri tersendiri, demikian pula jika sebaliknya. 

Berikut cara sederhana untuk membedakan ular jadi-jadian dan ular sungguhan : 

1. Bagaimana cara ular tersebut masuk ke dalam rumah 
Sebagai hewan melata, lazimnya ular memasuki rumah melewati lubang yang ada dan mungkin bisa dilalui tubuhnya di sebuah rumah. 
Misalnya : pintu, jendela, lubang ventilasi, saluran pembuangan atau pipa air, celah-celah yang cukup untuk dilewati, sampai kemungkinan melewati atap/genting. 
Jika ular bisa masuk ke dalam rumah, sedangkan kita yakin (benar-benar yakin) bahwa di rumah semuanya sudah tertutup rapat (pastikan benar-benar rapat, termasuk tidak ada celah yang bisa dilalui, misal bawah daun pintu ), tanpa bermaksud berprasangka buruk, namun cukup perlu untuk diwaspadai (jika ular tersebut adalah jelmaan jin). 

2.Perhatikan warnanya : hitam pekat 
Meskipun tidak harus atau tidak semuanya atau tidak selalu benar sepenuhnya, namun ular yang hitam pekat merupakan indikator dari ular jadi-jadian. 
Meski demikian ada beberapa jenis ular sungguhan yang memiliki warna hitam pekat, baik berbisa maupun tidak, antara lain Ular Raja Hitam Meksiko (Lampropeltis getula nigrita), Ular Indigo Timur, Ular Tikus Hitam (Pantherophis obsoletus), King Kobra (Ophiophagus hannah) saat masih muda berwarna hitam legam. Namun Ular ini umumnya aktif siang hari, meski bisa ditemukan di berbagai habitat, dari hutan hingga sekitar pemukiman. 
Karena itu disarankan agar ketika mendapati ular seperti ini berhati-hati dulu, jangan langsung dibunuh. 

3. Perhatikan apakah tanda khusus di bagian kepala ular 
Meskipun tidak harus atau tidak semuanya atau tidak selalu benar sepenuhnya salah ciri khas dari bukan ular sesungguhnya adalah adanya tanda putih di bagian kepala ular. 
Ciri ular jadi-jadian umumnya selain berwarna hitam pekat, jika diperhatikan dengan seksama, juga memiliki satu tanda titik putih di kepala, tepatnya terletak di tengah-tengah hidung ular. 
Kombinasi warna hitam dan tanda putih khusus ini sangat jarang ditemukan pada ular biasa ( atau bahkan mungkin amat sangat sulit sekali ditemukan).

4.Perhatikan apakah kepalanya selalu berdiri tegak saat berjalan? 
Kebanyakan ular sungguhan umumnya kepalanya akan rata dengan tanah saat berjalan. meskipun beberapa jenis ular yang suka mengangkat kepalanya, misal ular Kobra. 
Namun hal seperti ini biasanya dilakukan pada kondisi tertentu saja, misalnya ketika ular merasa terancam atau akan menyerang musuhnya. 
Pada ular jadi-jadian biasanya kepalanya tidak mau rata dengan tanah meski saat ia berjalan, tetapi akan cenderung selalu berdiri saat berjalan. 

5. Menimbulkan hawa / rasa kurang nyaman yang tidak wajar
Adanya ular jadi-jadian di dalam rumah-karena memang beda mahluk- umumnya dapat menimbulkan rasa tidak nyaman. 
Gejala ini bisa berupa rasa panas atau dingin yang tidak biasa dan tidak nyaman atau bahkan suasana seram yang tiba-tiba muncul. 
Namun, rasa seperti ini umumnya hanya bisa dirasakan oleh yang memiliki kepekaan batin. Bagi yang tidak peka, kehadiran ular jadi-jadian mungkin tidak begitu terasa. 

6.Gerak-gerik ular yang tidak lazim 
Ular jadi-jadian sering kali memiliki gerak-gerik yang tidak umum sebagaimana ular betulan. 
Misalnya, ular jadi-jadian mungkin bergerak dengan cara yang aneh atau memiliki perilaku yang tidak lazim bagi ular biasa. 

7. Peringatkan dengan ucapan untuk mengusir ular 
Ular sungguhan – karena memang tidak mengerti bahasa verbal manusia- biasanya tidak bereaksi dengan peringatan berupa ucapan kata-kata. 
Namun jika ular tersebut adalah perwujudan jin, maka ia /faham/mengerti apa yang diucapkan. 

Maka coba peringatkan ular dengan mengucapkan sebagaimana yang diajarkan Imam Malik, ra : 
“Aku ingatkan engkau dengan Allah dan Hari Akhir agar engkau tidak menampakkan diri dan mengganggu kami.” 

Peringatkan dengan jelas kepada ular tersebut hingga sebanyak tiga kali. Bila ular adalah jin muslim biasanya ular akan pergi meninggalkan rumah. 
Tetapi jika tidak, sekarang ada 2 kemungkinan, ular sungguhan atau ular perwujudan jin kafir. 

7. Bacakan ayat suci
Coba bacakan ayat suci Al Qur’an dengan niat memohon pertolongan Allah agar dilindungi dari gangguan makhluk halus, yaitu ayat : Ayat Kursi (Al-Baqarah: 255), Surat Al-Falaq dan An-Nas (Al-Mu'awwidzatain), Dua Ayat Terakhir Al-Baqarah (285-286),Al-Fatihah, Al-Baqarah Ayat 102, dan terakhir Surat Al-Jinn. 
Jika ular bereaksi pada bacaan ayat suci, tubuhnya bergerak tidak lazim, atau mengeluarkan sesuatu dari tubuhnya, menandakan bukan ular sungguhan. 

8. Terakhir, usir paksa secara fisik 
Tapi jika ular tidak bereaksi dengan bacaan di atas, berarti itu ular sungguhan. Maka jalan terakhir yang dilakukan adalah mengusir paksa ular secara fisik. 
Namun hati-hati saat mengusir ini, untuk berjaga-jaga jika ular tersebut adalah ular berbisa.

Gunakan tongkat panjang untuk menjangkau ular, karena ada beberapa jenis ular berbisa yang melawan saat diusir, misalnya Ular Bangkai Laut (Ular Hijau Ekor Merah/ Viper Hijau) 
Jika memungkinkan, gunakan ranting bambu yang cukup panjang. 
Ranting bambu efektif untuk mengusir/memukul ular. 

Kesimpulan 

Terlepas dari kepercayaan masing-masing tentang apa yang sering disebut sebagai ular jadi-jadian, mengetahui suatu hal sebagai langkah antisipasi bisa jadi adalah lebih baik.
Dari pada menjadi kebingungan saat masalah benar-benar terjadi.