-->

Benarkah Tuyul Memang Bisa Mencuri ? Apa Sebenarnya Tuyul Itu ?

Anda pastinya pernah mengetahui – setidaknya mendengar – tentang tuyul. ( Jika kebangetan belum pernah dengar, coba Tanya saja pada Mbak Yul ).

Tapi apa sebenarnya tuyul itu ?

Untuk menjawab dan mengetahui pertanyaan ini, sebenarnya bisa dijawan dengan sebuah pertanyaan pula. Apa sebenarnya Gendruwo itu ? atau Apa sebenarnya Kuntilanak itu ? atau Apa sebenarnya pocong itu ? atau yang lebh melegenda, Apa sebenarnya Ratu Pantai Selatan alias Nyi Roro Kidul itu ?
Sebab fenomena tuyul ( tapi bukan mbak Yul ) memang identik dengan beberapa yang disebut terakhir.

Sebab – menurut syariah – kesemuanya termasuk bangsa jin. Termasuk juga pocong, sekali-kali bukan orang mati yang bangkit lagi. Sebab orang yang mati tidak seperti kotoran, bisa balik dan menempel lagi. Hanya saja, jin yang satu ini memiliki bentuk dan penampakan yang sangat spesifik.
Berupa ( seperti ) seorang anak yang kecil, yang gundul dan yang suka mencuri lagi.

Entah mengapa jin menjelma bentuk seperti anak kecil – atau juga seperti pocong orang mati – yang tahu jin itu sendiri.
Namun asumsi termudahnya adalah untuk menggoda dan menjerumuskan manusia.
Yang pasti itu adalah golongan “mahluk halus”, bangsa jin.
Mohon diingat bahwa jin memiliki kemampuan menjelma dalam berbagai bentuk.

Lalu benarkah tuyul bisa mencuri ? Dan mengapa tuyul mencuri ?

Sebagaimana bangsa jin lainnya, perwujudan seperti anak kecil berkepala gundul ini juga memiliki kemampuan untuk memindahkan sebuah barang.
Hanya saja, kemampuan antara satu jin dengan jin lainnya – dalam memindahkan barang – memang berbeda, seperti layaknya manusia. Ada yang loyo, tapi ada pula yang joss, “rosa”.
Dan mahluk gundul kecil ini sepertinya termasuk yang “rosa”. Meski tetap saja terbatas.

Karena itulah, tuyul juga memindahkan barang ( baca : mencuri ) uang.
Namun karena keterbatasan kemampuannya, ia mampu menggasak semua tumpukan uang yang dijumpainya.

Apa dasarnya ?

Kasus jin yang mencuri, tidak hanya terjadi di tanah Jawa saja dan tidak hanya terjadi pada saat ini saja.
Sejak jaman nabi, fenimena ini sebenarnya sudah ada.
Ada sebuah riwayat yang sudah cukup masyhur dari Abu Hurairah, ra.

Suatu ketika beliau ditugasi Rasulullah, SAWuntuk menjaga zakat ramadhan.
Malam harinya ada “seorang” pencuri dan mengambil makanan. Dan langsung ditangkap oleh Abu Hurairah. “Akan aku laporkan kamu ke Rasulullah, SAW”
Pencuri itu lalu memelas, memohon untuk dilepaskan karena ia memang sangat membutuhkan dan punya tanggungan keluarga.
Oleh Abu Hurairah, dilepaskannya pencuri itu.
Siang harinya, Nabi , SAW bertanya kepada Abu Hurairah tentang kejadian semalam.
Setelah Abu Hurairah melaporkan, Nabi, SAW bersabda: “Dia dusta, dia akan kembali lagi.”

Dan Benar, pada malam kedua pencuri itu datang lagi. Ditangkap lagi oleh Abu Hurairah.
Pencuri itupun kembali memelas, sehingga Abu Hurairah melepasnya kembali.
Tapi pada malam ketiga lagi-lagi pencuri itu datang lagi.
Hanya saja Kali ini Abu Haurairah tidak mengampuninya.
Pencuri itupun tetap minta dilepaskan. “Lepaskan aku, nanti aku ajari bacaan yang bermanfaat untukmu.” Kemudian pencuri itu mengajarkan bacaan ayat kursi sebelum tidur.

Di pagi harinya, kejadian ini dilaporkan kepada Nabi, SAW. kemudian beliau bersabda:
“Kali ini dia benar, meskipun aslinya dia pendusta.” (HR. Bukhari 2311)

Dan sebagaimana dijelaskan nabi, ternyata yang ditangkap oleh Abu Hurairah waktu itu adalah bangsa jin yang menjelma menjadi seorang (manusia) pencuri.
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan,
“Jin terkadang menjelma dengan berbagai bentuk sehingga memungkinkan bagi manusia untuk melihatnya…” (Fathul Bari, 4:489).

Tetapi tuyul kan tidak butuh uang, berari Ada Yang menyuruh dong ?

Jika seperti pada kasus Abu Hurairah diatas, jin itu mencuri atas kemauan sendiri, karena memang butuh makanan, katanya. Tetapi bisa jadi memang ada yang menyuruhnya ( tuyul ) untuk mencuri.

Sebab kasus orang yang “merawat” ( memelihara ) tuyul juga pernah terjadi di masa silam.
Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

Beliau pernah menyebutkan tentang al-Hallaj yang memiliki atribut khusus, dan terkadang setan membantunya.
Suatu ketika, dia bersama pengikutnya di bukit Abu Qubais, kemudian pengikutnya minta manisan. Kemudian al-Hallaj pergi ke tempat tertentu yang tidak jauh dari markasnya, lalu dia kembali dengan membawa sepiring manisan.
Masyarakat pun mencari tahu kejadian sejatinya, ternyata sepiring makanan itu berasal dari toko manisan di Yaman, yang dibawa oleh setan ke tempat itu.
(Alam Jin wa asy-Syayathin, Hal. 93).
Wallahu ‘alam bishowab.

Simak juga :