-->

MENPORA Larang Personil Timnas U-19 Terlibat Iklan. Bagaimana Mereka Dapat Tambahan Penghasilan ?

Penyataan MENPORA yang menegaskan bahwa para personil anggota Timnas U-19 Indonesia DILARANG terlibat dalam kontrak-kontrak iklan ( baca : terjun dalam selebritas ) sungguh sangat bisa difahami.


Pernyataan ini juga sejalan dengan penegasan pelatih kepala Timnas U-19, Indra Syafri yang mengatakan bahwa para anak asuhnya DILARANG dekat-dekat dan didekati dunia politik. Penegasan Indra Syafri ini lebih beralasan lagi, karena ketika pemain dudah dekat-dekat dan didekati oleh kepentingan politik, biasanya semuanya malah jadi amburadul.

Sedangkan para punggawa GARUDA MUDA ini adalah “anak-anak yang baru menginjak remaja” yang masih buta dan polos, sehingga relatif lebih mudah untuk dipengaruhi dengan kepentingan seperti ini.

Pernyataan dari MENPORA tersebut sesungguhnya mempunyai maksud yang sangat baik dan sangat beralasan. Beliau tentu mengharapkan jika Timnas U-19 Indonesia yang merupakan bibit-bibiit unggul dan harapan kebangkitan sepakbola, serta yang menjadi kebanggan bangsa Indonesia saat ini jangan sampai terjangkiti virus-virus komersialisasi atau terkotori oleh kepentingan ekonomi industrialis atau bahkan terjebak dalam gemerlapnya dunia hiburan semata.

Karena memang sudah banyak contoh dan bukti, pemain-pemain muda yang dulunya digadang-gadang dan diharapkan bisa moncer bersinar prestasinya kelak, pada akhirnya “mogol”, - tidak jadi - ketika sudah bersinggungan dengan dunia seperti ini.

Hanya saja, ada sedikit “celah” yang perlu dicermati dan dipikirkan dengan lebih seksama lagi mengenai pernyataan dan keputusan tegas dari MENPORA ini.

Seperti bersama diketahui bahwa para personil pemain GARUDA MUDA tidak semuanya beruntung berasal dari keluarga yang berada. Bahkan konon, ada beberapa orang tua personil Timnas U-19 ini yang harus berjuang mati-matian ( benar benar mati-matian ) dan berhutang ke sana sini untuk sekedar membiayai latihan anaknya, yang akhirnya bisa menjadi pemain Timnas kini.

Artinya adalah, mereka, para orang tua dan tetu saja para pemain itu sendiri berharap, kelak suatu saat ketika “sudah jadi” , sepak bola adalah ladang kerja, gantungan hidup mereka yang bisa memberikan pemasukan dari segi ekonomi.

Artinya pula, mereka memang menginginkan bahwa suatu saat mereka akan menjadi pemain sepak bola profesional, pemain yang memperoleh penghasilan untuk hidupnya memang dari sepak bola. Sepak bola adalah pekerjaannya ( tentu saja dengan segala implikasi dari hasil dan prestasinya ).
Bahkan beberapa waktu lalu dalam sebuah wawancara, salah seoarang personil jelas mengatakan bahwa ia memang bersedia – jika ada kesempatan – tampil dalam iklan guna memperoleh penghasilan. Karena ingin sekali membalas meringankan dan membahagiakan semua perjuangan dan pengorbanan orang tuanya.

Maka dengan pernyataan tegas dari MENPORA, kemungkinan untuk itu praktis tertutup sudah. Mereka sudah tidak bisa dan tidak boleh lagi berharap mendapatkan “sedikit cipratan tambahan penghasilan” selain dari yang mereka dapatkan selama ini.

Masalahnya adalah ……………….

Apakah yang telah dan akan mereka terima selama ini sudah sebanding dengan dengan hasil dan prestasi yang mereka capai selama ini.
Yakin, mereka tidak pernah berfikir dan berkata :
Apa yang bisa diberikan negara kepadaku

Yang ada di benak mereka hanyalah :
Apa yang bisa kuberikan kepada negaraku

Kini mereka telah membuktikan bahwa mereka telah mempersembahkan segala yang mereka punya untuk negara. Maka tentu saja akan sangat layak pula jika negara juga “ memikirkannya “ memberikan imbal baliknya.

Ini sangat penting dan perlu.

Karena jika MENPORA dengan tegas menyatakan “larangan” tersebut, maka seharusnya beliau juga memikirkan konsekuensinya.

Karena pengalaman menunjukkan,di negara ini, sudah terlalu banyak atlet-atlet yang begitu berprestasi pada awalnya, tetapi justru terlunta-lunta di kemudian harinya. Karena tidak sebanding ( atau bahkan tidak ada) “perhatian yang layak dari negara”.

Ibaratnya : habis manis sepah dibuang. Begitu prestasi telah habis, justru tidak punya uang.

Tentu saja seluruh rakyat Indonesia ( utamanya punggawa Timnas dan keluarga ) sangat mengharapkan hal ini jangan sampai terjadi lagi. MENPORA pasti mengharapkan yang terbaik bagi negara dan mereka.
Begitu juga rakyat Indonesia.
Maka dengan segala prestasi yang telah mereka capai, tolong PERHATIKAN mereka !

BRAVO, MAJU TERUS GARUDA MUDA !