Terkuak, Rahasia Cara Pembuatan Pedang Paling Tajam Di Dunia

Terkuak, Rahasia Cara Pembuatan Pedang Paling Tajam Di Dunia

Selama ini ada anggapan bahwa pedang yang paling tajam di dunia adalah pedang yang biasa digunakan oleh para Samurai, ksatria Jepang.


Anggapan ini bisa jadi karena dipengaruhi oleh film-film laga Jepang yang selalu menampilkan adegan-adegan duel maut dengan menggunakan senjata utama pedang. Dimana dengan pedangnya, seorang samurai bahkan mampu menebas putus anggota tubuh lawan dengan sekali ayun.

Dan persepsi ini sepertinya semakin diperkuat dengan adanya sebuah film Hollywood yang sempat menjadi “box office” di akhir tahun 80-an, The Bodyguard yang dibintangi Kevin Costner dan Whitney Houston.
Dimana dalam salah satu adegannya digambarkan kemampuan dan ketajaman pedang para samurai ini yang mampu membelah putus sehelai kain sutera yang hanya jatuh melayang di atas mata pedangnya.


Penggambaran ketajaman sebuah pedang seperti pada adegan tersebut memang tidak salah. Karena memang ada pedang yang mempunyai ketajaman yang luar biasa seperti itu.
Hanya saja yang telah diketahui sesungguhnya, pedang yang mampu membelah sehelai kain sutra yang melayang jatuh ternyata sebuah pedang yang berasal dari kawasan Timur Tengah, tepatnya dari Damaskus.

Dan pedang berbentuk lengkung ( khas pedang Timur Tengah ) ini ternyata juga pernah dipergunakan oleh Salahuddin Al Ayyubi, salah satu pemimpin muslim ( khalifah ) yang menjadi legenda karena dalam kepemimpinan dan kebijaksanaannya mampu merebut Yerusalem ketika pecah kembali Perang Salib III.
( Diangkat menjadi sebuah film Hollywood dengan judul The Kingdom Of Heaven ).
Tidak hanya membelah kain sutra yang melayang jatuh, pedang Salahuddin ini bahkan mampu dengan mudah memotong pedang musuh dan membelah batu cadas terkeras sekalipun tanpa berkurang ketajamannya. Namun uniknya, alih-alih kelihatan tajam mengkilat, pedang lengkung Salahuddin ini justru tampak biru pudar.
Hanya masalah dan sayangnya, teknik membuat pedang dari Damaskus pada abad ke 8 ini, yang menjadikannnya sebagai pedang paling tajam di dunia, disinyalir sudah punah.
Tak ada lagi orang yang mampu membuatnya kembali.
Sehingga teknik cara pembuatan dan struktur logam yang digunakan pada pedang Damaskus ini menjadi teka-teki dan pertanyaan besar.

Sampai jawaban atas teka-teki dan pertanyaan ini berhasil dipecahkan oleh Peter Paufler, crystallographer di Universitas Teknik Dresden, Jerman.
Peter Paufler saat meneliti pedang Damaskus yang berusia empat abad dengan mikroskop elektron menemukan bahwa pedang tersebut menggunakan teknologi Nanotube.
Dan diklaimnya sebagai temuan nanotube pertama di baja. Ia menemukan partikel serat kawat nano yang menjelujur di seluruh badan pedang yang terbuat dari baja. Sehingga baja itu seperti mendapat “tulang” tambahan yang 100 kali lebih kuat.
Sebab benda yang lunak bisa diperkuat dengan menambah kawat yang kuat.

Para pembuat pedang di Damaskus itu ( mungkin secara tidak sadar ) telah menerapkan teknologi nano saat membuat pedang untuk Salahuddin.

Sebagai catatan, para pembuat pedang di Damaskus membuat pedangnya dengan menggunakan bahan baku berupa baja lantakan yang diimpor dari India yang disebut “Ukku” ( di negara barat disebut “Wootz” ). Selain itu, Pedang Damaskus ini juga memiliki unsur vanadium, kromium, mangan, timah, nikel, dan beberapa unsur lain yang terlacak sampai ke tambang-tambang di India Baja mentah ini mempunyai kualitas yang sangat bagus. Kandungan unsur Carbonnya bahkan mencapai 1,5 persen atau sekitar 15 kali lipat dibanding baja-baja dari tempat lainnya.

Dan sebagaimana diketahui, bahwa unsur Karbon umumnya dianggap sebagai kunci dalam membuat pedang dengan kualitas yang bagus. Namun komposisi campuran harus pas. Jika terlalu banyak Carbon akan menjadikan baja getas. Namun bila terlalu sedikit membuat baja tidak bisa tajam. Lalu jika proses tidak sempurna, juga bisa muncul cementite, fase besi yang sangat rapuh meski keras.

Menurut Paufler, partikel nanotube pada pedang Damaskus itu muncul ketika baja lantakan India tersebut dibakar.
Karbon dari kayu dan daun-daun yang digunakan membakar baja membentuk menjadi nanotube, terutama kayu dari batang Cassia auriculata dan daun Calotropis gigantea.
Dengan melewati proses bakar dan tempa, nanotube kemudian terisi dengan Cementite, zat dari besi yang sangat kuat.

Setelah dibakar dan ditempa, logam baru akan menyatu. Proses diulangi setelah menekuk logam hasil tempaan dan diulangi terus-menerus.
Pukulan palu berulang membuat serat kawat nano mengarah ke luar pedang dan membuat partikel cementite yang lebih besar tersusun berlapis dengan baja yang lebih lunak tapi lentur.
Ketika bentuk pedang telah kelihatan dan tinggal mempertajamnya, Paufler menduga jika para pembuat pedang Damaskus merendamnya dengan air keras.

Air keras, tidak hanya menciptakan alur logam di badan pedang, tapi juga mempertajam. Menurutnya, air keras memang akan melumerkan logam, namun nanotube dari karbon dan cementite di dalamnya tetap bertahan sehingga menjadikannya bagaikan mata gergaji yang sangat lembut. Dan pedang pun menjadi sangat tajam dengan kekuatan 100 kali baja, persis seperti yang dipegang Salahuddin al-Ayyubi.

Simak juga :
> Inilah 10 Pedang bersejarah paling top di dunia

Share this:

Menarik Untuk Dilihat :
Disqus Comments