Misteri Desa Penuh Emas, Desa Kemasan Dan Emas Peninggalan Majapahit
Daftar Isi Artikel
Dulu, sewaktu masih sekolah seringkali mendengar cerita dari seorang teman yang kebetulan mengambil jurusan Sejarah, dan saya anggap sebagai bualan belaka.
Katanya : “Di masa kejayaan Majapahit, saat menyambut duta dari luar negeri, maka akan diadakan sebuah pesta besar. Dimana peralatan makan yang digunakan, semuanya terbuat dari emas. Dan hebatnya, ketika alat-alat makan tersebut selesai digunakan, bukannya dikumpulkan dan dicuci tetapi langsung dibuang saja ke sebuah danau buatan”.
Dan ternyata, apa yang saya anggap sebagai bualan belaka tersebut memang ada asalnya.
Dan hal ini terkait dengan sebuah desa yang bernama Kemasan dan tentang emas peninggalan kerajaaan Majapahit.
Salah seorang budayawan Trowulan yang bernama Dimas Cokro Pamungkas, mengatakan :
"Saat itu hampir setiap hari ditemukan emas. Sampai muncul para pemburu harta karun selain warga setempat yang ikut memburu emas. Ini terus berlangsung sampai tahun 1965. Terjadi Gerakan 30 September yang membuat warga dan para pemburu harta karun meninggalkan Desa Kemasan. Warga desa kembali menjadi petani dan para pemburu emas yang berasal dari negeri seberang meninggalkan Indonesia,".
Situs Trowulan awal ditemukan
Sumber : Wikipedia
Awal mula harta karun dan emas peninggalan kerajaan Majapahit memang berasal dari Trowulan.
Trowulan sendiri – atau tepatnya situs Trowulan – sebelum ditemukan oleh tim ahli yang melakukan ekspedisi tepatnya hanya berupa hutan dan semak belukar yang tidak dijamah manusia.
Dan sejak ditemukan, situs Trowulan terus digali dan dipelajari. Pelestarian Trowulan sendiri awalnya dirintis oleh Henry Maclaine, yang juga merupakan pendiri Institut Teknologi Bandung ( ITB ).
Saat itu, Henry Maclaine mengajak Adipati Mojokerto serta warga setempat untuk melakukan kegiatan konservasi pusaka kecil-kecilan di Trowulan.
Di situs Trowulan yang awalnya terpendam ini kemudian banyak ditemukan tidak hanya bangunan candi dan patung-patung, bersama timnya, Maclaine juga menemukan banyak sekali artefak lainnya. Dan sebagian besar dari artefak tersebut berbalut emas.
Hanya saja ketika bangsa Jepang masuk dan kemudian menguasai Indonesia Henry Maclaine ditangkap. Dan setelah itu terjadilah ekspoitasi situs secara besar-besaran.
Dari situ kemudian muncul asal mula dari artefak emas yang ditemukan.
Konon, dengan adanya duta dari Tiongkok dengan angkatan perang negeri Tartar-nya, Majapahit di bawah raja Hayamwuruk mengadakan pesta besar. Dan untuk menunjukkan kebesarannya, Raja menyuguhkan jamuan dengan menggunakan perkakas yang semuanya terbuat dari emas.
Dan hebatnya lagi di depan semua tamu undangan kehormatan, ketika pesta telah usai, semua peralatan yang terbuat dari emas tersebut dibuang ke sebuah kolam - bernama kolam Segaran - di mana pesta berlangsung.
( Segaran berasal dari bahasa Jawa “Segoro” artinya waduk atau danau, atau lautan ).
Peta udara kolam segaran
Memang ada yang menganggap bahwa peralatan emas yang “dibuang” ke dalam kolam Segaran tersebut nantinya akan diambil kembali setelah pesta benar-benar usai dan tamu pulang. Namun ada pula yang beranggapan, perabotan emas yang dibuang tersebut tidak pernah diambil kembali.
Hingga sampai sekarang, masih cukup banyak ditemukan perabot makan yang terbuat dari emas di situs bekas kolam Segaran ini.
Situs kolam segaran
Dan di seputar Trowulan pula kemudian muncul kisah tentang Desa Kemasan ( terletak di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur ).
Nama desa Kemasan berasal dari istilah “ke-emas-an”, yang mengacu kepada banyaknya emas yang ditemukan di dalam tanah desa ini. Dan emas ini diduga kuat merupakan sisa peninggalan kerajaan Majapahit.
Lihat juga yang menarik ini: