-->

Inilah Cara Gila Menjadi Kaya

Jika sebelumnya Purdi E Chandra pernah menemukan dan mempopulerkan “ Cara Gila Menjadi Pengusaha”, terinspirasi oleh hal tersebut, posting artikel saya beri judul “Cara Gila Menjadi Kaya”.


Jujur saja, cara seperti ini bukan merupakan pengalaman pribadi, tetapi saya “temukan” ketika sedang blog walking pada salah satu situs ( saya lupa namanya ).
Hanya saja saya melihat bahwa dari artikel tersebut ada “sesuatu” yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita semua, meski nantinya dengan cara yang berbeda.

Karena apa ?
Karena jika cara ini 100 % dijjiplak untuk dilakukan, bisa jadi dan mungkin agak kurang sesuai dengan etika dan kebudayaan di negera kita. Karena memang cara ini “agak kurang ajar” dan memang agak “gila”.

Tetapi sekali lagi, artikel ini ingin mengajak kita bersama untuk membuka cakrawala dan cara pandang, bahwa dengan kreasi dan inovasi yang terus diasah, maka sesuatu yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Yang mulanya bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa mendadak bisa menjadi kaya selama mau dan terus berusaha.

Langsung saja :

Ceritanya adalah, Sony Dickson. Seorang blogger remaja dari yang berasal dari Melbourne, Australia.

Laiknya seperti anak muda lainnya, Sony Dickson pada awalnya juga belum punya apa-apa. Namun karena kreasi dan satu tindakan yang dilakukannya ia tiba-tiba menjadi kaya.

Ia memang tidak mau mengungkap berapa banyak uang yang dikantongi setelah ia melakukan tindakannya. Tetapi ia pernah berkata :

"Aku bisa pergi ke gerai dan membeli salah satu tasnya dengan uang yang saya dapat bulan ini," katanya, seperti dikuti dari Fortune.

Lalu apa sebenarnya yang ia telah lakukan sehingga “mendadak” jadi kaya ?
Sony Dickson menghabiskan waktunya sebagai blogger untuk melakukan posting foto-foto komponen produk terbaru perusahaan berlogo apel tergigit pada blognya. Posting seperti itu sebenarnya adalah hal yang biasa, seperti blogger-blogger lainnya.

Tapi yang membuatnya kaya adalah ternyata apa yang dipostingnya sebenarnya bisa dikategorikan sebagai rahasia perusahaan atau rahasia dagang. Karena apa yang dipostingnya merupakan data foto produk-produk baru yang belum diluncurkan. Dickson kaya dengan "menjual" bocoran produk baru.

Artinya, Sony Dickson memposting data bocoran tentang produk-produk tersebut. Makanya meski pihak perusahaan itu sendiri secara resmi belum mengeluarkan rilis beberapa bocoran produk terbarunya, sudah beredar di dunia maya.

Bahkan beberapa waktu lalu Sony Dickson pernah juga memposting foto smartphone yang berwarna emas di blognya. Sehingga hal ini menimbulkan spekulasi bahwa smarthhone rilis terbaru nantinya juga akan tersedia dalam varian warna yang lebih banyak daripada pendahulunya.

Konon, setelah mendapatkan bocoran produk, Dickson lalu menjualnya seharga ratusan dolar. Dickson sendiri mengklaim bahwa ia bisa menjual bagian belakang casing plastik seharga $ 250 per casingnya ( jika diupiahkan sekitar Rp 2,7 jutaan, dengan kurs $1 = Rp 11.000).

Padahal menurut salah seorang pemilik sebuah situs yang berbasis di Amerika yang juga telah memposting video produk, harga komponen tersebut di Amerika Serikat biasanya berkisar $ 300 sampai $ 500 per casing. Selain itu, Dickson mengaku bahwa ia mendapatkan penghasilannya melalui tiga sumber, yaitu :

1. Membuat posting video YouTube yang bermuatan iklan melalui channel sonnydickson, yang sempat juga populer.

2. Menjual iklan melalui blognya sonnydickson.com.
Tercatat pada bulan lalu pageview blognya dikabarkan bahkan sudah mencapai angka 1.364.675.

3. Melakukan bisnis perbaikan ,
Bisnis ini menghasilkan sekitar setengah dari total penghasilannya.

Ia sendiri mengaku kepada Fortune Magazine, bahwa ia mendapatkan informasi bocoran tersebut dari sumber orang dalam yang bekerja untuk cabang perusahaan di China. Sekedar informasi, kantor pusat perusahaan itu sendiri berada di Cupertino.

Tapi konsekuensinya blognya telah dikunjungi oleh berbagai server yang berbasis di Cupertino lebih dari 900 kali bulan lalu hanya gara-gara menjadi pembocor produk terbaru. Situsnya juga telah dikunjungi sebanyak 67 kali oleh Homeland Security Amerika Serikat.