Seperti Ini Dahsyatnya Pengajaran Ilmu Sunan Kalijaga Dalam 2 Tembang Dolanan Ini

Seperti Ini Dahsyatnya Pengajaran Ilmu Sunan Kalijaga Dalam 2 Tembang Dolanan Ini

Sebagaimana disebutkan, dalam menyebarkan dan mengajarkan ilmu ( agama Islam ) Sunan Kalijaga menggunakan cara-cara yang sangat moderat. 
Beliau berpendapat, jika “diserang” ( frontal ) masyarakat justru akan lari meninggalkan. 
Karena itulah, selain menggunakan pendekatan adat istiadat dan kebiasaan, Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan budaya. 
Sehingga Sunan Kalijaga dikenal sebagai ulama budayawan yang ulung. 

Salah satu pendekatan yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga dalam mengajarkan ilmu agama Islam  misalnya melalui tembang-tembang dolanan ( lagu-lagu bermain anak ). 

Yang paling terkenal ( di Jawa ) hingga saat ini misalnya seperti yang terdapat dalam lagu dolanan Lir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul. 
Meski secara sepintas tembang tersebut terkesan main-main, kocak dan riang gembira, namun sesungguhnya begitu dalam dan dahsyat maknanya. 

Seperti ini “dalamnya” pengajaran Ilmu Sunan Kalijaga dalam 2 tembang dolanan Jawa tersebut. 

1. Pengajaran Sunan Kalijaga dalam tembang dolanan Lir-Ilir 

● Lirik Lagu Lir-ilir ( dalam bahasa Jawa ) 

Lir-ilir, lir-ilir, tandure wes sumilir 
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar 
Cah angon, cah angon, penekno blimbing kuwi 
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro 
Dodotiro, dodotiro, kumitir bedah ing pinggir 
Dondomono, jlumatono, kanggo sebo mengko sore 
Mumpung pandhang rembulane, mumpung jembar kalangane 
Yo surako surak hiyo. 

● Lirik Lagu Lir-ilir ( terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia ) 

Bangunlah, bangunlah, Tanamannya sudah bersemi 
Demikian menghijau, bagaikan pengantin baru 
Anak gembala, anak gembala panjatlah (pohon) belimbing itu 
Biar licin dan susah tetaplah kau panjat untuk membasuh pakaianmu 
Pakaian-pakaianmu yang koyak di bagian samping 
Jahitlah, benahilah untuk menghadap nanti sore 
Selagi bulan bersinar terang,selagi banyak waktu luang 
Ayo bersoraklah dengan sorakan iya 

● Makna (bebas) yang terkandung dalam lagu Lir-ilir 

( Masyarakat ) bangun dan sadarlah dari keterpurukan, kejahilan, ketidak benaran dan kemungkaran 
Kini jalan menuju kebenaran dan kebahagiaan telah datang 
Begitu lengkap dan indahnya jalan kebenaran ini sehingga menjadi rahmat bagi alam semesta 
( Karena itu, wahai ) orang-orang yang menguasai jiwa, diri dan keluarga ( penguasa ) segera berusahalah menggapai jalan kebenaran dan kebahagiaan itu. 
Penuhilah rukun Islam yang 5 dan selalu tunaikan shalat 5 waktu. 
Meski jalan untuk mendapatkan kebahagiaan itu disertai dengan segala rintangan dan kesulitan 
 Sesulit apapun tetaplah terus berusaha meraihnya 
Demi menebus kesalahan, kemungkaran dan dosa yang telah dilakukan, demi mencapai kebahagiaan yang kekal 
Hal-hal yang selama ini merupakan kebodohan, kesalahan dan kemungkaran ( yang justru dianggap sebagai kebesaran dan kebanggaan ) segera tinggalkan dan campakkanlah 
Benahi dan gantilah dengan tindakan dan amal yang sholeh dan mulia yang dilandasi dengan keimanan dan takwa 
Selagi masih ada waktu, selagi masih kelapangan dan ada umur yang masih tersisa sebelum ajal datang menjelang 
Mari bersegera dan bergembiralah dalam menunaikannya 
Semoga menggapai kebahagiaan, Semoga Tuhan merahmati kita semua. 

2. Pengajaran Sunan Kalijaga dalam tembang dolanan Gundul-gundul Pacul 

Meski ada sumber yang mengatakan bahwa lagu Gundul-gundul Pacul merupakan hasil karya R.C. Hardjosubroto, namun sumber yang lebih banyak dipercaya menyebutkan jika tembang dolanan Gundul-gundul Pacul sebenarnya ciptaan Sunan Kalijaga pada sekitar tahun 1400. 

● Lirik Lagu Gundul-Gundul Pacul ( dalam bahasa Jawa ) 

Gundhul gundhul pacul cul gembelengan 
Nyunggi nyunggi wakul kul gembèlengan 
Wakul ngglimpang segané dadi sak latar 
Wakul ngglimpang segané dadi sak latar 

● Lirik Lagu Gundul-Gundul Pacul ( terjemahan bebas dalam bahasa Indonesia ) 

Gundul gundul cangkul, bertindak sembrono semaunya sendiri dan sombong 
Mengusung bakul di atas kepala ( malah ) bertindak sembrono semaunya sendiri dan sombong 
( Padahal jika sampai ) Bakulnya terguling, nasinya tumpah semua memenuhi halaman 
( Padahal jika sampai ) Bakulnya terguling, nasinya tumpah semua memenuhi halaman 

● Makna (bebas) yang terkandung dalam lagu Gundul-Gundul Pacul


Seorang yang diangkat menjadi pemimpin sebenarnya telah diberikan suatu kehormatan yang sangat besar, meski tanpa mahkota. 
Karena itu mestinya ia bekerja dengan sangat keras ( membawa cangkul ) demi kesejahteraan yang dipimpinnya. 
Jangan malah bersikap semborono, semaunya sendiri dan sombong. 
Sebab pada kehormatan tersebut terdapat amanat yang sangat berat demi kemashalahatan orang banyak. Sehingga jika sampai amanat tersebut diciderai, dikhianati dan disalahgunakan, akibatnya rakyat kecil-lah yang akan tertimpa sengsara. 

Keterangan

- Gundul adalah kepala ( yang dicukur ) plontos hingga tanpa rambut. 
Sedangkan kepala merupakan lambang kehormatan dan kemuliaan seseorang, dan rambut merupakan lambang ( mahkota ) keindahan kepala. 
Artinya, gundul adalah kehormatan meski tanpa mahkota. 

- Pacul atau cangkul adalah alat tradisional yang digunakan untuk bekerja mengolah sawah dan ladang guna mendapatkan nafkah dan penghasilan. 
Dalam falsafah masyarakat Jawa ( jarwo dhosok ) pacul adalah papat kang ucul. (Indonesia : "empat yang lepas") 
Pengertiannya adalah bahwa kehormatan dan kemuliaan seseorang sebenarnya sangat tergantung bagaimana ia menggunakan panca inderanya yang empat, yaitu cara menggunakan mata, hidung, telinga, dan mulutnya. Apabila keempat hal tersebut sampai terlepas, maka lepas pula kehormatan dan kemuliaannya. 

- Gembelengan dapat berarti sembrono, semaunya sendiri, besar kepala, dan sombong karena merasa memiliki kehormatan. 

- Nyunggi wakul' 
Bakul adalah tempat nasi tradisional. 
Yang jika ditempatkan di atas kepala dapat berarti menjunjung suatu amanah yang besar dan berat dari rakyat. Sebab nasi merupakan makanan pokok. 

- Wakul ngglimpang 
Bila sampai bakul jatuh terguling dapat diartikan sebagai amanah rakyat yang dikhianati dan disalah gunakan 

- Segane dadi sak latar 
Akibatnya nasi menjadi tersebar kemana-mana, sia-sia tidak bermanfaat. 
Melambangkan suatu kesengsaraan yang harus diderita ( karena tidak bisa mendapatkan penghidupan dan makan ). 

Nah seperti itulah pengajaran Ilmu Sunan Kalijaga dalam 2 tembang dolanan Jawa tersebut. Yang meski terlihat sepeti main-main dan kocak, maknanya sangat dalam dan luar biasa. 

Berikut filosofi ajaran Sunan Kalijaga :

Share this:

Disqus Comments