Cara Melakukan Mouth Taping Yang Benar dan Aman ? Pro dan Kontra
Daftar Isi Artikel
Belakangan ini, jika rajin menggunakan TikTok, anda akan menemukan postingan tentang orang-orang - yang sebagiannya influencer - yang menutup mulutnya dengan plester saat tidur, yang kemudian menjadi viral dan trend.
Praktik menutup mulut dengan plester saat tidur – yang kemudian disebut sebagai Mouth Taping - populer terutama di kalangan tren TikTok sleepmaxxing , karena diklaim memiliki beberapa manfaat.
Di satu sisi para praktisi dan ahli kesehatan kurang sependapat dengan klaim ini, sehingga menimbulkan pro dan kontra.
Jadi apa, mengapa dan bagaimana Mouth Taping yang nge-trend di Tik Tok ini?
Lalu, bagaimana cara melakukan Mouth Taping yang aman ?
Apa itu Mouth Taping ?
Mouth taping adalah tindakan atau praktik menutup mulut menggunakan plester atau perekat khusus yang memaksa mulut tertutup saat tidur untuk memicu atau mendorong pernapasan melalui lubang hidung.
Prinsip dasar dari Mouth Taping adalah untuk memastikan seseorang untuk bernapas melalui lubang hidung selama tidur.
Dengan metode Mouth Taping ini, secara teori mendorong pernapasan hidung secara eksklusif saat tertidur sepanjang malam, sehingga kemudian di klaim penggunanya akan mendapatkan tidur yang sehat dan berkualitas serta beberapa manfaat kesehatan.
Praktik Mouth Taping ini secara medis (barat) disinyalir merujuk pada temuan seorang dokter dan ilmuwan yang berasal dari Ukraina bernama Konstantin Pavlovich Buteyko.
Ia mengembangkan Metode Buteyko, yaitu sebuah metode terapi pernapasan yang dirancang untuk mengatasi penyakit pernapasan kronis - terutama asma - melalui pernafasan hidung secara sadar guna mengurangi hiperventilasi (cara bernafas yang terlalu cepat dan dalam).
Metode Buteyko ini awalnya dikembangkan pada tahun 1950-an setelah Dr. Buteyko mengamati bahwa pasien yang sakit kronis cenderung bernapas dengan cepat dan berat.
Buteyko meyakini bahwa napas berlebih (hiperventilasi) adalah penyebab utama asma, tekanan darah tinggi, dan gangguan pernapasan lainnya.
Prinsip dasar Metode Buteyko adalah melatih tubuh untuk mengurangi volume napas (dengan bisa bernapas lebih sedikit), berfokus bernafas melalui hidung, dan seringkali melibatkan latihan menahan napas atau teknik bernafas pelan.
Secara prinsip, Metode pernafasan Buteyko hampir seperti teknis pernafasan pada Yoga. Atau kalau di Indonesia mungkin mirip atau serupa dengan teknik pernafasan yang diajarkan oleh beberapa perguruan pencak silat atau tenaga dalam.
Meskipun dianggap bermanfaat oleh sebagian orang sebagai terapi pelengkap, metode Buteyko masih diperdebatkan di kalangan medis karena dianggap belum cukup bukti dan "tidak menemukan kesimpulan kuat”.
Beberapa dokter bahkan bersikap skeptis karena praktisi metode Buteyko sering membuat "klaim yang berlebihan dan tanpa dasar".
Lalu, mengapa Mouth Taping viral dan nge-trend di Tik Tok?
Nah ini masalahnya.
Anda – terutama Gen-Z lebih tahu bahwa masyarakat saat ini didominasi dengan “Budaya TikTok” dengan fenomena Standar TikTok, FYP, POV, Story Telling juga Tik Tok Brain yang merujuk kepada suatu norma, estetika, dan tren gaya hidup (yang dianggap) ideal yang sering viral dan mempengaruhi perilaku masyarakat.
Yang mana “Budaya Tik Tok” ini ditandai dengan konsumsi konten yang cepat, kreativitas tinggi, dan adopsi bahasa gaul baru yang memengaruhi komunikasi sehari-hari.
Jika para influencer melakukan suatu hal, maka para “influenza” ( yang terpengaruh ) juga akan melakukannya. Meski terkadang sekedar ikut-ikutan atau mencoba-coba.
Terlebih lagi dengan adanya klaim bahwa Mouth Taping merupakan teknik sederhana untuk mendapatkan tidur sehat berkualitas, mengatasi gangguan tidur sehingga dapat memberikan manfaat positif bagi kesehatan, dan merupakan metode kesehatan yang mudah, murah, dan cepat.
Hingga adanya klaim estetis bahwa metode ini dapat mempertegas garis rahang (jawline) dan mengurangi penuaan dini, menjadikannya bagian dari tren kecantikan.
Tentu saja tidak bermaksud untuk menghakimi – bahwa ini benar atau ini salah – namun ada baiknya dan alangkah bijaksannya jika berfikir logis dengan mempertimbangkan data dan fakta yang ada.
Perbedaan Mouth Taping dan Teknik Pernafasan Hidung
Secara teoritis, teknik pernafasan hidung memang memiliki banyak manfaat.
Teknik Pernafasan Hidung sudah dikenal dan dipraktekkan selama berabad-abad. Teknis pernafasan hidung sudah sejak jaman kuno dilakukan oleh para praktisi timur, baik untuk tujuan kesehatan, untuk tujuan kanuragan guna membangkitkan tenaga dalam / inner power (prana, cakra, chi ), hingga praktik kebatinan di dunia timur.
Sebagaimana juga pada bayi. Bayi lahir dengan bernapas melalui hidung. Mengapa?
Tubuh manusia memproses udara yang dihirup melalui hidung secara berbeda dibandingkan dengan mulut, dan dengan cara yang dapat membantu menjaga kesehatan.
Namun ada perbedaan utama dan mendasar antara mouth taping dan teknik pernafasan hidung.
Perbedaan utama yang mendasar dari praktik Mouth Taping dan teknik pernafasan hidung adalah Mouth Taping dilakukan secara memaksa dan dalam kondisi tidak sadar (tidur).
Sedangkan teknik pernafasan hidung dilakukan secara sadar melalui latihan-latihan khusus yang panjang.
Jika dilakukan secara benar, teknik pernafasan hidung dapat memberi banyak manfaat kesehatan antara lain :
- Memaksimalkan pasokan Oksigen secara konsisten ke tubuh
- sebagai filter udara alami, memurnikan dan menghangatkan udara yang dihirup
- menjaga kelembapan udara yang masuk ke paru-paru sehingga membantu mengurangi risiko iritasi saluran pernapasan dan membantu mencegah mulut kering
- Satu penelitian menunjukkan bahwa bernapas melalui hidung meningkatkan produksi oksida nitrat , sebuah molekul yang meningkatkan penyerapan oksigen dan mendukung fungsi kekebalan tubuh
- mengurangi gangguan tidur yang disebabkan getaran saluran napas
- mengurangi frekuensi terbangun di malam hari dan menghasilkan tidur yang berkualitas
- menurunkan risiko gigi berlubang dan radang gusienurunkan tekanan darah
- mengurangi dengkuran
- dan lebih banyak lagi untuk disebut satu per satu
Jadi, apa sebenarnya faedah atau manfaat dari Mouth Taping?
Para pelaku Mouth Taping meng-klaim adanya beberapa manfaat yang bisa didapat jika melakukan metode ini ( meskipun belum didukung bukti ilmiah yang kuat dan cenderung berbahaya ) antara lain :
- mengurangi gangguan tidur
- meningkatkan kualitas tidur
- menghilangkan mendengkur saat tidur
- mengurangi mulut kering
- mengurangi getaran saluran nafas
- mengatasi masalah bau mulut
- menurunkan risiko gigi berlubang dan radang gusi
- menstabilkan tekanan darah dan denyut jantung
- meningkatkan kesehatan kulit
- dapat mempertegas garis rahang (jawline)
- mengurangi penuaan dini
- bermanfaat bagi penderita apnea tidur karena mendorong pernapasan melalui hidung dan menstabilkan aliran udara
( Anda sudah tahu Apnea tidur adalah gangguan serius di mana pernapasan seseorang terhenti sementara secara berulang (selama 10 detik atau lebih) saat tidur, menyebabkan penurunan oksigen dan tidur yang tidak nyenyak)
Meski demikian, ada baiknya benar-benar memahami secara seksama perbedaan antara Mouth Taping dan teknik Pernafasan Hidung seperti diuraikan sebelumnya.
Lalu, apa un-faedah, dampak negatif atau bahaya praktek Mouth Taping ?
Yang ini sebaiknya juga dipahami secara seksama.
Para praktisi kesehatan dan beberapa ahli medis menyatakan bahaya Mouth Taping ( terutama yang dilakukan secara sembrono ), diantaranya :
- risiko iritasi kulit
- gangguan pernapasan jika tidak dilakukan dengan benar, terutama bagi yang memiliki masalah hidung tersumbat
- memperburuk kondisi seperti sleep apnea (henti napas saat tidur).
- memberikan tekanan tambahan pada sistem pernapasan
- meningkatkan risiko mati lemas ketika pasien mengalami obstruksi hidung
Pro Kontra Mouth Taping
Hal-hal inilah yang membuat Mouth Taping menjadi pro kontra.Beberapa ahli kesehatan, peneliti dan lembaga riset medis mengkritik klaim-klaim yang disampaikan oleh para pelaku Mouth Taping.
Studi yang dilakukan Lawson Research Institute (Lawson) dari St. Joseph's Health Care London, London Health Sciences Centre Research Institute (LHSCRI) dan Schulich School of Medicine & Dentistry di Western University tidak menemukan bukti kuat adanya manfaat kesehatan dari praktek mouth taping.
Sebuah makalah yang diterbitkan di PLOS One menyebutkan, menempelkan plester pada mulut, membawa risiko kesehatan yang serius, terutama bagi mereka yang menderita gangguan pernapasan saat tidur dan apnea tidur obstruktif.
Bahkan seorang pakar tidur dari Kanada menyatakan : Media sosial mempromosikan penggunaan plester mulut sebagai solusi untuk bernapas melalui mulut di malam hari. Sains mengatakan tidak ada bukti bahwa ini berhasil, dan bahkan dapat membahayakan kesehatan Anda jika Anda Tren viral menempelkan selotip di mulut 'mencurigakan'.
Cara Mouth Taping yang benar dan aman
Tetap ingin mencoba praktek Mouth Taping ? Berikut saran cara Mouth Taping yang benar dan aman.
Peringatan :
Mouth Taping tidak disarankan pada :
- orang yang mengalami hidung tersumbat, atau kondisi gangguan pernapasan, atau gangguan tidur yang belum terdiagnosis
- penderita polip
- penderita infeksi sinus
- penderita asma
- penderita septum hidung yang bengkok
- orang yang mendengkur parah atau gejala apnea tidur obstruktif (OSA)
- orang dalam masa pemulihan dari infeksi telinga atau sinus atau penyakit pernapasan
- orang dengan obesitas (BMI di atas 35)
- penderita gangguan jantung atau paru-paru
- orang yang mengonsumsi alkohol atau obat penenang sebaiknya menghindarinya
- orang yang menggunakan terapi CPAP
- orang dengan gangguan kecemasan berat atau klaustrofobia
- bayi dan anak-anak
Sekarang anda sudah mendapatkan informasi yang lebih utuh tentang Mouth Taping.
Dan jika memang masih ingin mencoba praktek Mouth Taping, anda bisa melakukan langkah yang benar dan aman sebagai berikut :
1. Pertimbangkan kondisi kesehatan
Jika anda termasuk ke dalam orang yang diperingatkan di atas, sebaiknya jangan coba-coba melakukan praktek Mouth Taping.
2. Pilih dan gunakan Plester / tape khusus
Jangan gunakan lakban atau plester sembarangan. Pilih dan gunakan plester yang memang dirancang digunakan untuk Mouth Taping.
Plester / tape khusus untuk Mouth Taping biasanya sudah memiliki ventilasi udara kecil untuk keamanan tambahan.
Usahakan menggunakan tape medis yang lembut dan mudah dilepas. Bagi yang memiliki kulit sensitif, sebaiknya pilih hypoallergenic tape yang secara khusus dibuat untuk pemakaian kulit.
Dengan plester / tape khusus ini anda bisa meminimalkan resiko iritasi atau timbulnya ruam kulit.
3. Bersihkan area mulut
Sebelum menggunakan plester khusus mouth tape, bersihkan area sekitar mulut dari bekas keringat, minyak atau sisa kosmetik
4. Tempelkan mouth tape pada arah yang paling nyaman bagi anda
Horizontal: Tempelkan satu strip pendek dari sisi kanan ke sisi kiri bibir. Ini merupakan metode yang paling umum digunakan.
Vertikal atau dalam bentuk silang (X): Pilihan ini memberikan lebih banyak ruang di sisi bibir jika sewaktu-waktu perlu membuka mulut saat tidur.
5. Uji Kenyamanan
Sebelum Tidur
Sebelum tidur uji terlebih dahulu selama 5–10 menit. Ini penting untuk memastikan Anda tidak merasa sesak napas, cemas, atau tidak nyaman.
Cara melakukan uji kenyamanan Mouth Taping :
- Berbaring pada posisi tidur yang biasa Anda lakukan.
- Rasakan apakah plester / tape menyebabkan ketegangan di kulit atau sulit bernapas.
- Jika merasa tidak nyaman, pertimbangkan untuk menggunakan tape dengan ventilasi atau mencoba ukuran/posisi yang berbeda.
Uji kenyamanan akan membantu beradaptasi secara psikologis, terutama bagi yang belum pernah menggunakan mouth tape.
6. Lepaskan mouth tape di pagi hari
Setelah bangun, di pagi hari, lepaskan plester mouth tape secara hati-hati agar tidak melukai kulit di sekitar bibir, terutama yang berkulit sensitif
Cara aman melepas tape:
• Mulailah dari salah satu ujung tape, tarik perlahan ke arah luar bibir.
• Jika tape terasa lengket, basahi dengan air hangat agar lebih mudah dilepas.
• Setelah terlepas, bersihkan area mulut dengan air dan keringkan.
Kesimpulan
Jika anda ingin melakukan praktek Mouth Taping, sebaiknya pahami dengan benar data dan fakta yang ada. Apa untung dan ruginya jika melakukannya. Akan lebih bijaksana jika tidak hanya ikut-ikutan atau sekedar mencoba trend yang viral di media sosial.
