Sejarawan Yahudi Ini Menjawab Mengapa Zionis Israel Melakukan Agresi Di Palestina

Daftar Isi Artikel
Jika mencermati agresi Zionis Israel ke Palestina, ini bukanlah sekedar agresi militer biasa. 
Ini adalah bagian dari konflik dan peperangan lama Israeli-Palestinian Conflict yang telah berlangsung berkepanjangan selama berabad-abad sehingga bisa disebut sebagai protracted conflict. 
Banyak ahli sejarah dan pakar geopolitik terkemuka di dunia yang telah membedah dan memberikan analisis sebab-sebab dari konflik Israel-Palestina, mengapa Zionis Israel melakukan agresi militer ke Palestina. 
Namun jawaban yang paling menarik tetapi sangat menohok justru diberikan oleh ahli sejarawan Yahudi ini. 
Seperti apa jawabannya ?
Simak terus. 

Sejarah konflik Israel-Palestina 

Israeli-Palestinian Conflict telah terjadi sebelum era modern, bahkan sebelum masehi.
Kitab suci telah mencatatnya dalam kisah pertempuran yang sangat mashur antara David Vs Goliath ( Daud Vs Jalut ). 
Di era modern, konflik Israel-Palestina ini secara historis dan politis sering dianggap sebagai bagian perluasan dari Konflik Arab-Israel. 

Era modern mencatat Peristiwa Nakba ( Nakba berarti bencana, malapetaka ).
Yaitu peristiwa pengusiran massal dan pembersihan etnis Palestina yang dilakukan oleh Zionis Israel dalam rentang waktu 1947 – 1949 yang mencapai puncaknya pada Mei 1948.
Menjadikan hancurnya masyarakat Palestina dan hilangnya tanah air mereka.Tercatat sekitar 750.000 warga Palestina kehilangan rumah dan terusir dari kampung halamannya. 
Sehingga tanggal 15 Mei diperingati sebagai hari Nakba, hari dimana bangsa Palestina “mulai” kehilangan tanah airnya. 

Disusul Perang Naksa ( An Naksa berarti kemunduran ) yang lebih popular dengan sebutan Perang Enam Hari pada 5 Juni 1967, yang juga memicu terjadinya pengungsian massal rakyat Palestina. Sekitar 325.000 warga Palestina terpaksa mengungsi dari Tepi Barat dan Gaza. 
Dan tanggal 5 Juni kemudian diperingati sebagai hari Naksa. 

Setelah itu berturut-turut dan periodik disusul dengan pendudukan-pendudukan Zionis Israel di wilayah Palestina sehingga menyulut perlawanan perang selanjutnya. 
Tercatat adanya perlawanan Intifada Pertama tahun 1987, Intifada Kedua tahun 2000, Perang Hamas-Israel mulai tahun 2007 dan Perang Gaza (Gaza Wars) 2008 – hingga saat ini.

Korban Agresi Israel ke Palestina 

Sejarah berulang kembali dan korban kembali berjatuhan.
Karena keganasan dan kekejian agresi zionis Israel di Palestina yang makin hari makin menjadi-jadi. Sehingga jatuhnya korban baik berupa harta, benda bahkan sampai jiwa yang mungkin tidak berdosa makin hari makin bertambah dan terus bertambah. 
Meski berdalih menggempur sasaran militer, namun faktanya justru ditujukan pada fasilitas-fasilitas sipil, termasuk fasilitas pendidikan dan kesehatan sehingga korban jiwa sebagian besarnya justru merupakan warga sipil, yang ironisnya termasuk orang-orang lansia, wanita dan anak-anak, bahkan bayi yang tidak berdosa. 

Merujuk data terakhir dari Data Biro Pusat Statistik Palestina, tercatat sedikitnya 72 ribu orang telah menjadi korban jiwa. Dan ribuan orang Palestina terpaksa harus mengungsi.

Img Src : Al Jazeera

Protes aksi kekejaman agresi Zionis Israel 

Media dan pemberitaan mencatat sudah tidak terhitung banyaknya aksi-aksi protes dari berbagai kelompok masyarakat, di berbagai bangsa di belahan dunia. 
Aksi protes juga terjadi di Amerika yang notabene dikenal sebagai pendukung utama Israel. 
Bahkan aksi protes juga dilakukan oleh warga Israel sendiri. 
Pernah beredar di sebuah Televisi swasta Nasional yang memuat pemberitaan tentang sebuah unjuk rasa yang dilakukan oleh seorang gadis Israel. 
Karena tidak sesuai dengan hati nurani, maka gadis Israel tersebut malah mengunjuk rasa tindakan negaranya sendiri di luar negeri. 
Aksi kekejaman ( atau pembersihan etnis ) ini juga sudah menjadi bahasan di forum PBB. 
Tetapi, Zionis Israel tetap saja tidak bergeming. 

Gencatan Senjata Israel-Palestina 

Yang terjadi selanjutnya – sebagai solusi (sementara) – adalah disepakatinya gencatan senjata demi gencatan senjata. Karena setiap terjadi satu gencatan senjata selalu dilanggar oleh Zionis Israel. Dan selalu berulang. 
Termasuk gencatan senjata yang disepakati terakhir kalinya. 
Karena itulah banyak pengamat yang berpendapat bahwa, gencatan senjata yang disepakati hanyalah “akal-akalan” dan taktik militer Israel belaka. 

Belakangan beredar video di Youtube yang memuat prediksi seorang Youtuber ( dari Inggris?) yang mendapat vision bahwa "sedikit masa tenang" yang terjadi di Gaza (Palestina) saat ini hanyalah sesaat dan semu.
 
Ini adalah masa tenang sebelum badai besar yang akan menjelang

Menurut pandangan prediksinya, Israel sebenarnya sedang “mempersiapkan dan menyambut sesuatu yang lebih besar”. 
Wallahu’alam. 

Apa sebenarnya akar permasalahan dan penyebab agresi Zionis Israel ke Palestina ? 

Akan ada banyak analisis dan teori tentang hal ini. 
Namun yang sangat menarik justru pernyataan yang diberikan oleh seorang ahli sejarah Yahudi (Israel) ini. 
Orang tersebut adalah Illan Pappe
Ia adalah seorang Yahudi tulen. Dan Ia adalah seorang sejarawan. 
Yang menjadikan berbeda dengan ahli sejarah (dan para pakar pengamat lainnya) adalah, sebagai seorang sejarawan, Illan Pappe justru lebih memilih berpihak pada hati nuraninya sendiri. 
Karena itulah Illan Pape berani bicara kebenaran. Ia tidak segan-segan dan tidak takut-takut dalam mengungkap dan membongkar mitos-mitos Zionisme. 
Termasuk kekejaman dan kebrutalan Israel. 
Bahkan karena keberaniannya itu, Illan Pappe dijuluki sebagai “ Orang Israel Yang Paling dibenci di Israel“. 

Ketika ditanya, mengapa Zionis Israel melakukan agresi dan melakukan berbagai kekejaman terhadap orang Palestina?

Illan Pappe menjawab : 
“Ini buah dari sebuah proses panjang pengajaran paham, indoktrinasi, yang dimulai sejak usia taman kanak-kanak, semua anak Yahudi di Israel dididik dengan cara ini. 
Anda tidak dapat menumbangkan sebuah sikap yang ditanamkan di sana dengan sebuah mesin indoktrinasi yang kuat, yaitu menciptakan sebuah persepsi rasis tentang orang lain yang digambarkan sebagai primitif, hampir tidak pernah ada, dan penuh kebencian.
Orang itu memang penuh kebencian, tapi penjelasan yang diberikan di sini adalah ia terlahir primitif, Islam, anti-Semit, bukan bahwa ia adalah seorang yang telah dirampas tanahnya. ”




Eksternal source : (Baudoin Loos, “An Interview of Illan Pappe, ” 29 Nov 1999, http://msanews. Mynet.net/Scholars/Loos/pappe.Html).