Mengapa Umat Islam Wajib Puasa Ramadhan ? Tinjauan Logis Puasa Ramadhan : Gen-z Berakal Sebaiknya Simak
Daftar Isi Artikel
Kerap terlontar pertanyaan dari non muslim (bahkan orang muslim sendiri) : mengapa orang Islam (harus/wajib) berpuasa di bulan Ramadhan ?
Rata-rata 12 jam sehari dan 30 hari-lagi ? Kok berat amat ?
Mengapa agama Islam banyak aturan dan ribet banget ?
Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menceramahi, tapi mengajak kita bersama untuk meninjau dan mengkaji dengan berfikir secara logis (dan ilmiah) tentang puasa Ramadhan.
Pertama-tama, mari kita telaah dan fahami pola pikir serta cara pandang tentang kewajiban puasa Ramadhan
Ibaratkan, anda membeli mobil sport keluaran terbaru.Agar mobil dapat bekerja secara optimal serta awet-tahan lama, oleh pabrikannya, anda diberi Buku Manual sebagai petunjuk penggunaannya.
Harus menggunakan bahan bakar jenis ini, menggunakan oli ini, harus diservis setelah sekian kilometer, dan sebagainya.
Apakah dengan ini anda berfikir bahwa pabrikan mobil tersebut banyak aturan, ribet dan sewenang-wenang membatasi anda ?
Jika berfikir logis, anda pasti akan menjawab “tidak”. Bahkan sangat wajar, karena anda justru membutuhkannya.
Demikian halnya, Allah. Sebagai perancang dan pencipta manusia, Allah tahu pasti apa yang dibutuhkan dan yang terbaik untuk manusia ciptaannya.
Puasa Ramadhan adalah salah satu “Buku Manual” untuk kebaikan manusia itu sendiri, agar manusia bisa “optimal, awet dan tahan lama”.
Dan jika memang benar-benar berfikir logis, maka jawaban kita mestinya sama dengan jawaban pada mobil sport di atas.
Jadi, mengapa umat Islam wajib berpuasa di bulan Ramadhan?
Anda sudah tahu, bahwa puasa (shaum/shiyam) di bulan Ramadhan adalah salah satu dari Rukun Islam, yang merupakan sendi dasar ( pondasi dan pilar utama ) dalam Islam yang wajib diyakini dan diamalkan oleh setiap muslim sebagai bentuk ketundukan kepada Sang Penciptannya, Allah SWT.
Tanpa sendi utama ini, struktur keislaman seseorang dianggap tidak lengkap atau rapuh.
Ibaratkan (lagi), anda membangun rumah, tapi tanpa pondasi dan pilar (yang kokoh). Maka jangan salahkan jika rumah menjadi ambles, miring, doyong atau bahkan roboh.
Disini mestinya kita sudah bisa menyimpulkan, umat Islam wajib puasa bulan Ramadhan untuk membangun sendi dasar yang kokoh agar “rumah keIslamannya” tidak roboh.
Mengapa puasa Ramadhan menjadi sendi dasar ( pondasi dan pilar utama ) agama ?
Kewajiban puasa di bulan Ramadhan bagi seorang Islam sebagaimana tertuang dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 : (Yang artinya :)
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa".
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa puasa adalah untuk membentuk manusia yang bertakwa.
Para ulama sepakat bahwa “bertakwa” secara singkat dapat dikatakan sebagai taat menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan Tuhan.
Itulah sebabnya mengapa puasa Ramadhan menjadi salah satu sendi dasar ( pondasi dan pilar utama ) agama.
Ayat ini juga menegaskan bahwa puasa bukan hanya untuk menahan lapar dan dahaga, namun juga untuk mengendalikan hawa nafsu dan menahan diri dari perbuatan yang sia-sia guna mencapai kesucian jiwa.
Ini menunjukkan bahwa ibadah puasa tidak hanya mencakup aspek / dimensi hubungan vertical antara manusia dengan Tuhannya, tetapi juga aspek/dimensi hubungan horizontal antara manusia dengan lingkungannya.
Anda tentu masih ingat bahwa Islam adalah rahmat bagi alam semesta.
Selanjutnya, mari telaah bagaimana puasa bisa menjadikan seorang beriman menjadi bertakwa.
Bagaimana puasa bisa menjadikan orang Islam bertaqwa?
Menurut satu riwayat, maksud ibadah puasa adalah untuk menjatuhkan musuh Allah, yaitu setan yang terkutuk.
Pada dasarnya, sarana yang dipergunakan setan untuk menggoda dan menjatuhkan manusia adalah dengan nafsu syahwatnya. Dan dengan makan dan minum, nafsu syahwat manusia akan begitu kuat, karena semua nafsu syahwat bermula / berawal dari syahwat perut.
Jika nafsu syahwat perut lemah maka akan lemah pula nafsu syahwat lainnya.
Dengan melakukan ibadah puasa, maka nafsu syahwat dapat dipatahkan.
Diriwayatkan tentang disyariatkannya puasa, sebagaimana tertulis dalam kitab Duratun Nashihin :
Ketika Allah telah menciptakan akal, Allah berfirman “ Menghadaplah “
Maka akal-pun lalu menghadap.
Kemudian Allah berfirman lagi :” Membelakanglah”
Dan akalpun lalu membelakang.
Lalu Allah berfirman :” Siapakah engkau ini dan siapakah Aku ?”
Berkatalah akal :” Engkau adalah Tuhanku dan aku adalah hambaMu yang lemah”.
Berfirmanlah Allah SWT :” Hai akal, tidak pernah Aku menciptakan mahluk yang lebih mulia daripada engkau”.
Tetapi tidak demikianlah ketika Allah kemudian menciptakan nafsu.
Berfirmanlah Allah kepada nafsu :”Menghadaplah”
Tetapi nafsu tidak menurut.
Kemudian Allah berfirman kepada nafsu :”Siapakah engkau ini dan siapakah Aku ?”
Nafsu menjawab :” aku ya aku, dan Engkau ya Engkau”.
Maka Allah kemudian menyiksanya dengan api neraka Jahanam seratus tahun lamanya.
Kemudian Allah mengeluarkannya dan berfirman :”Siapakah engkau dan siapakah Aku ?”
Tapi nafsu tetap menjawab : aku ya aku dan Engkau ya Engkau”, seperti semula.
Maka Allah kemudian meletakkannya di dalam neraka “ Kelaparan” selama seratus tahun.
Lalu Allah mengeluarkannya dan bertanya pada nafsu, seperti pertanyaan semula.
Barulah nafsu mengakui bahwa dirinya adalah hamba sedang Allah adalah TuhanNya.
Dari situlah akhirnya Allah mewajibkan puasa.
Hanya dengan berpuasa akhirnya nafsu manusia mengakui kedudukannya dan menjadi taat kepada Sang Pencipta-Nya.
Apakah itu berarti bahwa Allah butuh pengakuan dan keimanan manusia?
Menurut akidah Islam jawabannya sangat tegas : TIDAK.
Allah sama sekali tidak membutuhkan pengakuan dan keimanan manusia sebagai mahluknya.
Allah adalah Al-Ghani (Maha Kaya/Maha Berkecukupan) dan Maha lainnya, tidak memerlukan bantuan atau pengakuan apapun dari makhluk-Nya. Allah SWT tidak membutuhkan pengakuan, iman, ibadah, maupun ketaatan manusia sedikit pun.
Allah tetaplah Tuhan yang Maha Esa dan Maha Agung meskipun manusia tidak mengakui-Nya.
Bahkan seluruh manusia dan mahlukNya tidak beriman dan ingkar kepadaNya, tidak akan mengurangi sedikitpun kekuasaan, kebesaran, dan keagunganNya.
Jika seluruh manusia ingkar atau tidak beriman, Allah mampu melenyapkan mereka dan menggantinya dengan kaum lain yang lebih taat, tanpa kesulitan.
Jika seluruh manusia di bumi beriman seluruhnya atau kafir semuanya, hal itu tidak akan menambah atau mengurangi keagungan dan kekuasaan Allah.
Pengakuan keimanan dan ketaatan kepada Allah pada dasarnya adalah untuk kebaikan diri manusia itu sendiri.
Puasa hanyalah salah metode pendidikan diri yang dirancang Allah SWT untuk meningkatkan derajat manusia, bukan karena Allah membutuhkannya.
Mari ingat kembali kepada ibarat mobil sport terbaru dan pabrikannya di atas.
Tujuan Puasa bulan Ramadhan
Hebatnya ajaran Islam, dan sebagai bukti betapa Maha Pengasih dan Penyayangnya Allah, meskipun semua peribadatan –termasuk puasa Ramadhan - yang dilakukan manusia pada dasarnya untuk kebaikan dirinya sendiri, Allah tetap menjanjikan imbalan berupa pahala.
Namun alih-alih berfokus pada masalah pahala, sehingga khawatir “terjebak” hanya untuk mengejar hal ini, ada baiknya kita bahas dan kupas lebih mendalam secara logis dan ilmiah tentang tujuan dan manfaat yang bisa didapatkan dengan menjalankan puasa.
Secara ringkas, Puasa Ramadhan merupakan pilar yang mengokohkan iman dan kepatuhan Allah SWT serta karakter seorang muslim.
Mengapa dapat meningkatkan derajat manusia ?
Maka mari kita bedah bersama apa tujuan puasa.
Jika difikir lebih dalam, akan kita dapati bahwa dengan menjalankan ibadah puasa bertujuan :
1. Tujuan Rohaniah : Mental-Spiritual
- Menjalankan perintah Allah
Ini adalah tujuan “standard”, karena puasa merupakan salah satu Rukun Islam. Puasa adalah bentuk kepasrahan total dan perwujudan cinta seorang hamba kepada Sang Pencipta.
- Sarana mengendalian diri (Self-Control) dan berdisplin
Dengan menahan diri dari makan/minum di siang hari, seorang muslim diharapkan lebih dapat menahan diri dan lebih berdisiplin.
- Mengendalikan hawa nafsu
Puasa mendidik seorang untuk menahan nafsu syahwat, amarah, dan nafsu lainnya yang merupakan dasar dari karakter dan ahlak yang baik
- Melatih kejujuran
Puasa adalah ibadah yang tidak terlihat. Puasa adalah ibadah rahasia, yang tahu hanyalah yang bersangkutan dan Allah.
Orang tidak tahu jika anda mengatakan sedang puasa, meskipun pada kenyataannya tidak. Atau diam-diam makan atau minum sebelum waktu berbuka.
Disinilah kejujuran seseorang dilatih dan diuji.
- Membentengi / melindungi diri dari perbuatan buruk, dosa dan maksiat.
Dengan berpuasa akan menjadikan orang menahan diri untuk melakukan perbuatan buruk atau dosa kemaksiatan, baik yang dari batin ataupun yang lahir.
Makanya dalam sebuah hadist disebutkan bahwa puasa adalah perisai yang melindungi seorang hamba dari api neraka dan azab.
- Membersihkan jiwa dan aspek sosial
Berpuasa membantu seseorang untuk membersihkan jiwa dari penyakit dan kotoran hati serta dan menumbuhkan rasa empati sosial sehingga memperkuat pilar persaudaraan dan kepedulian sosial
- Sarana Mencapai Ketakwaan
Tujuan utama puasa adalah agar manusia lebih bertakwa, yaitu dengan meningkatkan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya.
2. Tujuan Jasmaniah
- Membersihkan raga/tubuh
Berpuasa membantu seseorang untuk menjadikan raga/tubuh menjadi lebih sehat. Penelitian ilmiah modern telah membuktikan bahwa berpuasa sangat bermanfaat bagi kesehatan.
Manfaat Puasa Ramadhan bagi kesehatan manusia
Manfaat puasa secara rohaniah sejalan dengan tujuannya sebagaimana diuraikan di atas, yang intinya meningkatkan kualitas keimanan seseorang, meskipun tingkat pencapaiannya sangat tergantung kepada kualitas puasa yang dijalankan.
Sedangkan manfaat puasa secara jasmaniah secara ringkas adalah untuk kesehatan, menjadikan tubuh seseorang lebih sehat.
Manfaat medis puasa sebagaimana yang telah diteliti oleh para ahli kesehatan modern, antara lain :
- Detoksifikasi
Ketika diistirahatkan dari proses pencernaan, tubuh akan melakukan proses detoksifikasi atau membersihkan racun di dalam tubuh.
- Regenerasi Sel
Pada saat yang sama memungkinkan tubuh memperbaiki sel yang rusak dan melakukan regenerasi sel
- Memperbaiki metabolisme tubuh
Pada saat lapar karena puasa, tubuh akan membakar cadangan lemak untuk energi, hal ini akan meningkatkan efisiensi metabolisme tubuh
- Manajemen berat badan : menurunkan berat berat badan
Karena cadangan lemak tubuh dibakar, otomatis akan mengurangi / menurunkan berat badan, sehingga dapat terhindar dari kegemukan/Obesitas
- Meningkatkan daya tahan tubuh
Puasa memicu sel-sel induk untuk memproduksi sel-sel darah putih baru sehingga berdampak pada meningkatnya daya tahan tubuh untuk melawan infeksi. Puasa akan menata sistem imun tubuh agar maksimal.
- Meningkatkan hormon pertumbuhan manusia
Puasa dapat meningkatkan produksi hormon pertumbuhan manusia (HGH). HGH efektif dalam mengatur metabolisme, membangun massa otot, membakar lemak, meningkatkan kekuatan otot, dan menurunkan berat badan tanpa kehilangan otot.
- Mengendalikan nafsu makan
Dengan terbiasa berpuasa, produksi hormon Ghrelin, yaitu hormon yang merangsang rasa lapar, akan berkurang. Sebaliknya, hormon Leptin atau hormon yang memberi sinyal rasa kenyang akan meningkat.
- Mengurangi risiko penyakit kronis
Puasa dapat mengurangi peradangan dan meningkatkan metabolisme Lipid, yang dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.
- Menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah
Puasa dapat menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL), mengurangi tekanan darah, dan meningkatkan kesehatan pembuluh darah.
- Mengontrol kadar gula darah dan mengurangi diabetes
Puasa juga akan mengurangi resistensi Insulin, membantu mengendalikan gula darah, dan pada gilirannya dapat mengurangi risiko serangan diabetes.
- Membantu mengurangi peradangan
Saat berpuasa, tubuh akan meningkatkan kadar Asam Arakidonat, yakni bahan kimia yang bisa menghambat peradangan sehingga membantu mengurangi peradangan kronis yang merupakan faktor risiko berbagai penyakit.
- Mengurangi risiko penyakit kanker
Saat berpuasa terjadi proses Autofagi. Laju pembelahan sel dalam tubuh berkurang , tubuh memulai proses "memakan" atau mendaur ulang sel-sel yang rusak, tua, atau tidak berfungsi.termasuk sel-sel kanker.
Penelitian Profesor Yoshinori Ohsumi, peraih Nobel Kedokteran 2016, menunjukkan bahwa puasa selama 12 jam dapat memulai proses Autofagi dalam tubuh.
- Meningkatkan kesehatan mental dan fungsi otak
Puasa membantu meningkatkan produksi protein yang mendukung sel otak, menurunkan kadar hormon stres atau Kortisol serta merangsang hormon Endorfin yang baik untuk meredakan rasa cemas.
Keton, yang dihasilkan selama puasa, menunda penuaan otak dan tubuh, serta meningkatkan metabolisme.Puasa juga dapat mengurangi risiko penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer dan Parkinson.
- Memperlambat proses penuaan
Penelitian ilmiah tentang puasa menunjukkan, selain memicu mekanisme biologis dalam tubuh yang disebut Autofagi yang meregenerasi sel-sel tua, juga mengurangi radikal bebas dan meningkatkan enzim antioksidan, yang mencegah kerusakan genetik (DNA).
Dan jika diimbangi dengan konsumsi makanan sehat dan padat nutrisi bisa membantu mengurangi risiko penyakit terkait usia, memperlambat proses penuaan dan memperpanjang usia.
Hasil penelitian lainnya menunjukkan puasa akan meningkatkan kadar Sirtuin, protein yang berperan penting dalam regulasi metabolisme dan sering dikaitkan dengan panjang umur
Dengan mengetahui betapa bagusnya kemanfaatan dari puasa, yang bisa didapat secara langsung saat itu juga, jika kita mau berfikir secara sehat dan logis, mestinya tidak alasan yang memberatkan untuk tidak menjalankan puasa.
Bahkan seandainya tidak ada embel-embel tambahan pahala puasa sekalipun.
Karena usaha yang dilakukan sangat sepadan – bahkan lebih dari sepadan – dengan hasilnya.
Tetapi mengapa harus puasa 12 jam sehari ? Selama 30 hari pula ? Apa sebenarnya yang terjadi pada tubuh saat puasa?
Ilmu kesehatan modern menyatakan, secara normal, untuk menyerap nutrisi dari asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi, tubuh memerlukan waktu selama 6–8 jam, yang akan diubah menjadi energi.
Apabila cadangan Glukosa habis (biasanya terjadi setelah 8-12 jam), tubuh akan beralih menggunakan lemak.
Baru setelah 12 jam, tubuh mulai kehabisan Glukosa dari makanan terakhir dan beralih membakar lemak sebagai sumber energi utama.
Pola yang memicu metabolisme tubuh untuk mengubah lemak menjadi energi setelah 12 jam, mengurangi resistensi insulin, dan mengurangi peradangan, memicu proses detoksifikasi dan regenerasi sel tubuh (Autophagy), mengurangi resistensi Insulin, mengurangi peradangan, dan masih banyak lagi dampak positif lainnya inilah yang oleh ilmu kesehatan modern dikenalkan dan dirumuskan sebagai Puasa 12 jam setiap hari atau metode 12:12.
Yang secara keseluruhan dinyatakan bahwa puasa 12 jam membantu tubuh beristirahat dari proses pencernaan terus-menerus, yang berdampak pada perbaikan metabolisme dan kesehatan jangka panjang.
Islam, telah mengenalkan konsep ini sejak sekitar 1500 tahun yang lampau.
Berdasar tinjauan medis, puasa selama 30 hari menghasilkan berbagai manfaat fisiologis dan metabolik yang signifikan bagi tubuh, selama dilakukan dengan pola makan yang benar.
Efek puasa 30 hari berdasar tinjauan medis antara lain : regenerasi sel dan Autofagi, peningkatan kesehatan metabolik, penurunan Body Mass Index (BMI) hingga 5-10%, peningkatan Imunitas (sel darah putih meningkat hingga 10 kali lipat), perlindungan jantung dan antikanker, meningkatkan fungsi kognitif dan meningkatkan suasana hati (mood) setelah minggu pertama, serta meredakan stres dan kecemasan.
Perubahan Fisiologis tubuh selama 30 hari :
Minggu 1-2:
Tubuh beradaptasi dengan perubahan pola makan, sering menyebabkan sakit kepala, lemas, atau kantuk (dehidrasi ringan atau penarikan kafein).
Data medis merujuk laporan dr. Irwan Heriyanto, MARS, Board of Medical Excellence Halodoc menunjukkan bahwa pada awal puasa lonjakan keluhan pencernaan seperti maag dan GERD.
Yang menariknya, lonjakan tertinggi (mencapai 150%) terjadi pada pukul 00.00–05.59 WIB, yang justru bertepatan dengan waktu sahur.
Puncak keluhan ini biasanya konsisten muncul di hari ketiga Ramadan.
Biasanya dikarenakan:
- Lambung menjadi lebih sensitif akibat perubahan jam makan.
- Kurangnya durasi tidur (karena harus bangun sahur).
- Tubuh masih beradaptasi dalam mengatur hidrasi (cairan).
Minggu 3-4:
Tubuh mencapai kondisi metabolik stabil. Lemak tubuh dibakar secara efektif untuk energi, dan metabolisme menjadi lebih efisien.
Di bidang medis kemudian dikenal dengan adanya puasa Intermitten Fasting atau juga Partial Fasting. Dan Islam, telah mengenalkan konsep ini sejak sekitar 1500 tahun yang lampau.
Menurut salah satu riwayat, dulu ketika nabi Adam, AS setelah makan sajjaratul khuldi di surga, maka syajjarah itu bercokol dalam perutnya selama 30 hari.
Setelah nabi Adam bertaubat kepada Allah, maka Allah kemudian memerintahkannya agar berpuasa selama 30 hari 30 malam.
Umat Islam sebagai umat nabi Muhammad, SAW diberi keringanan, yaitu hanya diwajibkan berpuasa selama 30 hari pada siang harinya saja.
Mengapa puasanya harus bulan Ramadhan, bukan bulan lainnya?
Ramadhan adalah bulan ke-9 dalam kalender Hijriyah.
Ramadhan berasal dari bahasa Arab ar-ramad, yang berarti panas yang membakar atau kekeringan.
Secara historis (di jazirah Arab saat itu ), bulan ke-9 dalam kalender Hijriyah dinamakan Ramadhan karena bulan ini jatuhnya tepat pada musim panas yang sangat terik.
Secara Etimologi (ketata-bahasaan), Ramadhan berasal dari kata ramada-yarmudu-ramadan yang berarti membakar. Melambangkan terik matahari yang membakar permukaan bumi.
Namun secara filosofis, Ramadhan bermakna bulan yang membakar atau menghapus dosa-dosa manusia melalui ibadah dan amal saleh.
Jika tahu bulan Ramadhan sangat panas terik, mengapa umat Islam justru diperintahkan berpuasa pada bulan ini ?
Sekarang, andaikan anda seorang atlet.
Untuk menghadapi pertandingan atau kompetisi yang sangat ketat, mengatasi dan mengungguli lawan-lawan, tentunya anda harus berlatih.
Dan agar dapat berprestasi, anda akan berlatih melebihi apa yang akan dihadapi di pertandingan nanti.
Semakin berat dan keras berlatih, anda semakin siap.
Seperti ini pula halnya puasa Ramadhan.
Selain itu, menurut tradisi Islam, memang ada banyak keistimewaan bulan Ramadhan, diantaranya :
- Bulan diturukannya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an).
Para ulama terkemuka berpendapat bahwa Al-Qur’an diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan. Kitab suci lainnya seperti Taurat, Zabur, dan Injil juga diturunkan pada bulan Ramadhan
- Malam kemuliaan (lailatul qadar) adanya hanya di tanggal ganjil di akhir-akhir bulan Ramadhan. Malam lailatul qodar adalah satu malam dimana beribadah satu kali pada malam itu lebih baik dari beribadah seribu bulan.
- Menurut salah satu hadist, Ramadhan adalah induk atau kepala dari bulan-bulan lainnya.
Sesuai tradisi agama samawi, Ramadhan merupakan bulan yang istimewa dan terhormat. Umat-umat terdahulu, Yahudi dan Nasrani juga berpuasa pada Ramadhan.
Umat Islam sengaja berpuasa di bulan Ramadhan yang sangat panas terik untuk berlatih, untuk menempa, mengasah, atau mengasuh jiwa manusia (seperti mengasah senjata) agar menjadi lebih baik, sehingga dapat membakar atau menghapus dosa-dosa manusia melalui ibadah dan amal saleh untuk menghadapi event hari yang sangat berat, yaitu Yaumul Akhir.
Keistimewaan berpuasa, bayangkan bagaimana jika puasa ternyata seperti reaksi nuklir
Anda sudah tahu, jika dalam ilmu pengetahuan modern / science terdapat satu konsep dasar yang disebut hukum sebab-akibat. Hukum aksi-reaksi.
Setiap sebab menghasilkan akibat. Setiap aksi akan menimbulkan reaksi.
Salah satu hukum aksi-reaksi yang dianggap “hebat dan sangat menakjubkan” adalah tentang energi yang dihasilkan dari reaksi nuklir.
Dengan jumlah material yang amat sedikit dapat menghasilkan energi yang sedemikian dahsyat.
Jika pada umumnya 1+1=2, maka tidak sedemikian dengan reaksi nuklir, bisa menjadi sangat banyak, karena adanya reaksi berantai.
Hal ini, sepertinya berlaku pada ibadah puasa.
Jika amalan seorang yang ikhlas (aksi), umumnya dibalasi pahala (reaksi) “hanya” dengan dilipatgandakan antara 10 kali hingga 700 kali, maka tidak demikian dengan balasan pahala orang yang berpuasa.Allah sendiri yang akan membalasnya.
Ini dalil-dalilnya :
Setiap amalan kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Swt berfirman kecuali, amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah)
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”
Dari Abu Umamah Radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Hendaklah kalian berpuasa, karena tidak ada yang menyamainya.”
(Dishahihkan oleh Al-Albany dalam shahih Nasai)
Dikatakan oleh Sofyan bin Uyainah rahimahullah, “Ketika hari kiamat, Allah akan menghisab hamba-Nya. Dan mengembalikan tanggungan dari kezalimannya dari seluruh amalnya. Sampai ketika tidak tersisa kecuali puasa, maka Allah yang akan menanggung sisa kezaliman dan dia dimasukkan surga karena puasanya.”
Betapa besarnya pahala ibadah puasa, hingga Allah sendiri yang “turun langsung” membalasnya, tak terbayangkan dahsyatnya.
Kenikmatan apa lagi yang kita dustakan.
Apakah boleh mengharapkan pahala ? Tapi alangkah baiknya tidak terjebak kedalam hitung-hitungan pahala layaknya mental dan pola pikir pedagang
Allah sebagai perancang dan pencipta manusia tentu saja sangat memahami konstruksi mental psikologis manusia.
Diantara sekian banyak kemuliaaan yang dianugerahkan kepada manusia, serta keisimewaan utama berupa akal, manusia juga memiliki mental dan sifat dasar yang kurang baik.
Dalam Al Qur’an beberapa sifat dasar kurang baik manusia, diantaranya adalah : lemah, suka mengeluh, zalim/bodoh, berlebihan, tidak berterima kasih, kikir/pelit/bakhil, berhitung-hitung mencintai harta, sekaligus suka membantah.
Manusia tidak mau melakukan sesuatu jika tidak dianggap menguntungkan dirinya (nafsunya).
Allah sebenarnya telah menetapkan konsekuensi logis setiap hal tindakan manusia (yang dalam science modern disebut hukum aksi-reaksi) sebagai mana dituangkan dalam Surat Az-Zalzalah ayat 7 dan 8 :
Fa may ya'mal miṡqāla żarratin khairay yarah
Artinya: "Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya,"
Wa may ya'mal miṡqāla żarratin syarray yarah
Artinya: "Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
Al Qur’an memang mengulang-ulang istilah ganjaran / pahala (sebagai hasil dari aksi ) dalam banyak ayatnya. Yang seyogyanya diterima sebagai kabar gembira, dorongan, pemicu, booster atau istilah sejenisnya.
Namun karena sifat dasar manusia, kita sering kali “terjebak” dengan iming-iming menjadikan ganjaran / pahala sebagai tujuan utama.
Kita sering memiliki mental dan pola pikir hitung-hitungan laiknya pedagang.
Jika saya melakukan ibadah ini seharusnya mendapatkan pahala ini
Jika saya melakukan ibadah itu seharusnya mendapatkan pahala itu. Dan seterusnya.
Tidak (sepenuhnya) salah memang.
Bahwasanya puasa akan mendapat ganjaran / pahala yang Allah sendiri yang akan membalasnya, dan juga amalan ibadah lainnya yang benar dan ikhlas juga akan mendapat balasan pahala sebagaimana dijanjikan Allah dalam Al Qur’an adalah benar dan pasti benar ( anda ingat hukum aksi reaksi ).
Namun jika tidak berhati-hati, akan sangat rawan, beresiko dan mungkin tergelincir menjadikan pahala sebagai tujuan utama, bukannya Allah yang seharusnya menjadi tujuan utama.
Karena itulah beberapa ulama terkemuka membagi tingkatan puasa.
Tingkatan puasa dan jenis puasa serta orang puasa tapi tidak mendapat apa-apa
Dalam kitab Ihya Ulumuddin, ulama besar Imam Al Ghazali membagi puasa menjadi tiga tingkatan:
1. Puasanya orang kebanyakan / orang Awam (Shaumul 'Am/Umum)
Yaitu puasa pada tingkat dasar yang hanya menahan perut dan kemaluan dari syahwat makan, minum, dan jima' (berhubungan badan suami istri)
2. Puasanya orang khusus (Shaumul Khowas/Shaumul Khusus)
Yaitu puasanya orang shalih yang tidak hanya menahan syahwat perut dan kemaluan tapi juga menahan pendengaran, penglihatan, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat atau dosa.
3. Puasanya orang khusus dari yang khusus (Shaumul Khowas al Khowas/Shaumul Khusus al-Khusus)
Yaitu puasa pada tingkatan tertinggi. di mana orang yang berpuasa telah memalingkan diri dari selain Allah SWT. Pada tingkatan ini, hati yang masih memikirkan dunia sudah dianggap membatalkan puasanya.Ini adalah puasanya para Nabi dan Shiddiqin, pengabdian total hati dan pikiran kepada Allah.
Tentu saja saat berpuasa kita berharap agar jangan sampai berada di luar 3 tingkatan tersebut, karena menurut Rasullulah, ternyata ada orang yang menjalankan puasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali rasa haus dan lapar.
Rasulullah SAW bersabda :
"Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga" (HR. An-Nasa'i).
Ulama berpendapat bahwa orang yang berpuasa namun tidak mendapat pahala—hanya lapar dan haus—adalah mereka yang tetap melakukan maksiat, ghibah (menggunjing), berbohong, memfitnah, atau berkata kotor, meskipun secara lahiriah menahan makan dan minum.
Oleh karena itu, penting untuk menjaga lisan dan perbuatan, tidak hanya perut, agar puasa diterima.
Jenis Puasa
Dalam konsep ajaran Islam hanya dikenal 2 ( dua ) jenis puasa, yaitu :
1. Puasa wajib di bulan Ramadhan
2. Puasa Sunnah, yaitu puasa yang tidak wajib dilaksanakan oleh umat Islam dan merupakan ibadah tambahan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, semisal : puasa senin-kamis, serta puasa pada hari-hari tertentu yang telah diajarkan Rasulullah.
Diluar itu Islam tidak mengenal puasa jenis lainnya.
Tips medis untuk melaksanakan puasa di bulan Ramadhan agar tetap sehat dan bugar
Terakhir berikut ada sedikit tips dari sisi medis agar tetap sehat, bugar dan fit selama menjalankan ibadah puasa Ramadhan :
1. Usahakan melakuan Hidrasi (Pola 2-4-2) dengan minum air putih
Sebaik-baik minum adalah air putih .
Yaitu dengan minum 2 gelas air saat berbuka, 4 gelas sepanjang malam, dan 2 gelas saat sahur. Jika sampai kekurangan cairan maka tubuh menjadi lemas
2. Selalu makan sahur dan pilih nutrisi sahur yang tepat
Makan sahur sangat penting untuk memberikan bekal nutrisi selama seharian berpuasa.
Hindari makanan terlalu manis/lemak. Pilih karbohidrat kompleks (nasi merah, oat) agar kenyang lebih lama.
3. Berbuka puasa secara sehat
Mulai dengan yang manis alami (kurma/buah) dan hindari makan berlebihan saat berbuka untuk mencegah lonjakan gula darah dan lemak.
4. Hindari makanan yang mengandung gas
Karena akan menyebabkan rasa tidak enak pada perut dan pencernaan. Sebaiknya hindari : sawi, kol, buah nangka, kedondong, pisang ambon dan minuman bersoda.
5. Batasi makanan berlemak
Semakin banyak asupan makanan berlemak menjadikan tubuh harus bekerja lebih untuk mengolah lemak dalam tubuh.
6. Selalu konsumsi sayur dan buah-buahan
Mengkonsumsi sayuran dan buahan, selain bagus untuk pencernaan juga merupakan sumber kaya vitamin yang akan menyebabkan lebih bugar sepanjang hari.
7. Batasi minum teh, kopi dan minuman bersoda
Batasi minum teh, kopi dan minuman bersoda paling banyak 2 cangkir sehari. Ini sangat penting untuk mengurangi gejala sakit kepala di siang harinya.
8. Tidur yang cukup
Puasa memang akan mengubah pola dan ritme tidur, namun usahakan agar porsi tidur tetap cukup, terutama bagi para pelajar dan pekerja. Kurang tidur akan menyebabkan gelisah, sakit kepala, juga pencernaan menjadi buruk.
9. Usahakan tidur siang
Meski hanya beberapa menit, tidur siang yang lelap akan memberikan energy dan tenaga lebih bagi tubuh, sehingga tubuh menjadi lebih segar dan bugar.
10. Olah raga
Olah raga akan membantu sirkulasi tubuh berjalan lancar.Namun yang perlu diingat adalah agar menyesuaikan porsi olah raga dan tidak memaksa.
11. Sholat tarawih
Dengan sholat tarawih tubuh melakukan banyak gerakan, sehingga tetap aktif dan segar serta menjaga agar makanan tidak tertimbun dalam tubuh.
Kesimpulan
Kita sudah cukup banyak dan dalam membahas tentang puasa bulan Ramadha. Anda sudah bisa menyimpulkannya sendiri.
Pertanyaan kita sekarang adalah : Sudahkah saya berpuasa saat ini ?