Ledakan Petasan Hingga Roket : Asal Mula Dan Sejarah Petasan

Daftar Isi Artikel
Setiap anak laki-laki sepertinya pasti pernah main petasan
Terutama pada setiap akhir bulan puasa Ramadhan atau hari Raya I’edul Fitri, perayaan hari raya keagamaan lainnya, saat Nataru, atau tentu saja saat perayaan Imlek
Seperti sebuah tradisi, pada momen-momen tertentu seperti itu, masyarakat Indonesia umumnya masih suka membunyikan petasan. 
Padahal petasan termasuk barang ilegal di Indonesia. 

Karena itu seperti biasa, pihak Kepolisian selalu disibukkan dengan kegiatan operasi atau razia petasan pada momen seperti itu. 
Sehingga hampir bisa dipastikan di setiap tahunnya selalu saja terjadi kucing-kucingan antara aparat kepolisian dengan pihak-pihak yang membuat, menyimpan dan menjual petasan. 

Mengapa petasan termasuk barang illegal yang di larang di Indonesia ? 
Padahal konon, petasan dibunyikan karena dipercaya dapat mengusir roh jahat. Sehingga dibunyikan pada acara dan upacara tertentu. 
Mengapa ada tradisi membunyikan petasan? 
Bagaimana sebenarnya asal mula dan sejarah petasan
Silahkan simak sampai tuntas artikel ini. 

ledakan petasan

Ancaman hukuman peredaran petasan 

Petasan atau mercon memang termasuk benda larangan/ilegal. 
Sejak zaman Belanda sudah ada aturannya dalam Lembaran Negara (LN) tahun 1940 Nomor 41 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Bunga Api 1939, di mana di antara lain adanya ancaman pidana kurungan tiga bulan dan denda Rp 7.500 apabila melanggar ketentuan "membuat, menjual, menyimpan, mengangkut bunga api dan petasan yang tidak sesuai standar pembuatan". 

Bermain petasan dapat dianggap melanggar, hukum sesuai UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 serta Peraturan Kapolri Nomor 17 Tahun 2017 tentang Perizinan, Pengamanan, Pengawasan, dan Pengendalian Bahan Peledak. Pelanggaran ini dapat dikenakan sanksi pidana dengan ancaman hukuman hingga 12 tahun penjara.

Pada penjual petasan dapat dikenakan Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Larangan Menyimpan dan Memperdagangkan Senjata Api, Amunisi atau Sesuatu Bahan Peledak, yang jeratannya hukuman mati atau hukuman penjara 20 tahun atau seumur hidup Pelaku yang terlibat dengan petasan (membuat, menyimpan, atau menyalakan) dapat dijerat UU RI No. 1 Tahun 2023 (KUHP) dengan ancaman penjara hingga 15 TAHUN. 

Petasan dan atau kembang api memang sering digunakan dalam perayaan tertentu seperti Tahun Baru, hari besar keagamaan, atau acara adat. 
Namun, penggunaannya tidak bebas dan diatur secara ketat oleh hukum karena berpotensi menimbulkan bahaya bagi keselamatan umum. 
Aturan hukum terkait petasan bukan dimaksudkan untuk mematikan tradisi, melainkan untuk menjaga keselamatan masyarakat. Negara memiliki kewajiban melindungi warga dari potensi bahaya yang dapat dicegah. Dengan adanya regulasi, diharapkan perayaan tertentu dapat berlangsung aman, tertib, dan nyaman bagi semua pihak. 
Penegakan hukum juga menjadi bentuk perlindungan bagi kelompok rentan yang sering kali menjadi korban dampak petasan. 

Di Indonesia, tidak ada izin untuk kepemilikan dan penggunaan petasan (mercon) karena bahan peledak di dalamnya (mesiu) dapat disalahgunakan dan membahayakan. 
Pihak berwenang melarang penjualan dan penggunaan petasan dengan kapasitas ledakan besar. Sebaliknya, kembang api (fireworks) dengan klasifikasi tertentu diizinkan, asalkan memiliki izin dari pihak berwenang dan digunakan di lokasi yang aman. 
Kembang api yang diizinkan biasanya adalah kategori F1, yaitu kembang api dalam ruangan atau jarak dekat dengan jarak aman minimal, seperti sparklers (kembang api percikan tangan) atau jenis lain yang tidak meledak dengan keras. 

Pada prinsipnya, petasan yang bersifat bahan peledak dilarang untuk diproduksi, diperjualbelikan, disimpan, maupun digunakan tanpa izin. 
Negara memandang petasan tertentu sebagai bagian dari bahan peledak yang pengawasannya berada di bawah kewenangan aparat keamanan. 

Orang masih membunyikan petasan meskipun dilarang oleh pemerintah (UU Darurat No. 12 Tahun 1951) dan seringkali difatwakan haram karena membahayakan, didorong oleh kombinasi faktor budaya, psikologis, dan lemahnya penegakan hukum di lapangan. 

Mengapa petasan dilarang ? Apa yang terkandung dalam petasan? 

Tetapi mengapa petasan dilarang, jika tujuannya “hanya” untuk memeriahkan upacara atau acara tertentu ? 
Definisi petasan (disebut juga sebagai mercon) adalah peledak berupa bubuk yang dikemas dalam beberapa lapis kertas, biasanya bersumbu, digunakan untuk memeriahkan berbagai peristiwa, seperti perayaan tahun baru, perkawinan, dan sebagainya. 
Pada dasarnya petasan -dengan komposisi bahan kimia di dalamnya - termasuk salah satu bahan peledak,meski daya ledaknya masuk dalam kategori daya ledak rendah ( low explosive ). 

Bahan peledak kimia sendiri sering didefinisikan sebagai suatu rakitan yang terdiri atas bahan-bahan berbentuk padat atau cair atau campuran keduanya yang apabila terkena aksi (misalnya benturan, panas, dan gesekan) dapat mengakibatkan reaksi berkecepatan tinggi disertai terbentuknya gas-gas dan menimbulkan efek panas serta tekanan yang sangat tinggi. 

Sesuai kekuatannya, bahan peledak kimia dibedakan 2, yaitu : 

1. Low Explosive (mempunyai daya ledak rendah) 
 Low explosive memiliki kecepatan detonasi (velocity of detonation) antara 400 - 800 meter per detik 

2. High Explosive (mempunyai daya ledak tinggi). 
Sedangkan high explosive mempunyai kecepatan detonasi antara 1.000 - 8.500 meter per detik. 

Bahan peledak low explosive disebut juga sebagai propelan (pendorong) yang dipakai pada peluru dan roket. 
Contoh lain dari bahan peledak low explosive adalah bubuk mesiu ( gun powder ) dan smokeless powder. 
Bubuk mesiu adalah jenis bahan peledak paling tua yang ditemukan oleh bangsa Cina pada abad ke-9. 
Di Indonesia, bubuk mesiu inilah yang digunakan untuk membuat petasan, termasuk petasan banting dan bom ikan. 

Komposisi pembuatan black powder alias bubuk petasan 

Komposisi pembuatan black powder yang dikenal secara umum, antara lain: 
• campuran antara potasium nitrat (KNO3), belerang, dan serbuk aluminium dengan perbandingan KNO3:Al:S = 5:2:3 
• campuran antara sodium nitrat (NaNO3), charcoal, dan belerang; 
• campuran antara potasium nitrat dan charcoal (tanpa belerang); dan 
• pyrodex, merupakan campuran antara potasium nitrat, potasium perklorat (KClO4), charcoal, belerang, cyanoguanidin, sodium benzoat, dan dekstrin. 

Jenis-jenis petasan dan petasan paling dahsyat daya ledaknya 

Dalam praktiknya, dikenal beberapa jenis petasan dan produk yang sering dianggap "aman dan wajar" . Produk petasan ini sering dijual sebagai alternatif adalah jenis kembang api tertentu yang tidak terbang atau meledak dengan keras. 
Secara umum, jenis petasan dapat diklasifikasikan berdasarkan cara kerjanya. 
Beberapa jenis yang sering ditemukan antara lain : 

• Petasan Air Mancur (Fountains) 

Jenis kembang api yang mengeluarkan semburan percikan api ke atas, bukan meledak. Ini termasuk dalam kategori kembang api yang lebih aman dan sering diizinkan. 

• Petasan Gasing 

Jenis petasan yang berputar di tanah sambil mengeluarkan percikan api sebelum meledak atau padam. 

• Petasan Kentut 

Yaitu jenis petasan kecil yang menghasilkan suara ledakan kecil dan biasanya dianggap relatif tidak berbahaya (sering dikategorikan sebagai mainan). 

• Petasan Cabe Rawit (Firecrackers) 

Petasan cabe rawit adalah petasan kecil berbentuk seperti cabai rawit yang menghasilkan suara ledakan • Petasan Banting 

Petasan yang hanya bisa meledak saat dibanting ke permukaan yang keras. 

Pada saat ini petasan yang dianggap paling eksplosif, paling keras, dan paling kuat yang tersedia di mana pun adalah Petasan Wolverine

Konstruksi / bagian-bagian dari petasan 

Konstruksi petasan (mercon) secara umum terdiri dari selongsong silinder, bahan peledak (mesiu/bubuk kilat), dan sumbu penyulut. 
Secara terperinci, komponen dan konstruksi petasan adalah sebagai berikut : 

1.Selongsong silinder (Casing)

Selongsong silinder / casing petasan umumnya terbuat dari kertas, karton, atau bahan pasta kertas yang digulung membentuk silinder dengan lubang/ruang kosong di tengahnya dan pada bagian akhir gulungan direkatkan dengan lem agar kuat. 
Selongsong silinder ini berfungsi untuk menampung bahan peledak sekaligus memberikan ruang pembakaran untuk menghasilkan gas panas bertekanan. 

2.Bahan Peledak (Propelan), bisa berupa : 

-Bubuk Mesiu (Black Powder): Campuran arang, belerang, dan kalium nitrat. 
-Bubuk Kilat (Flash Powder): Campuran yang lebih sensitif dan meledak lebih keras, biasanya terdiri dari kalium perklorat dan bubuk aluminium (rasio umumnya 70% kalium perklorat dan 30% bubuk aluminium). 

3.Sumbu penyulut (Fuse) 

Sumbu penyulut menghubungkan bagian luar petasan dengan bahan peledak yang terisolir/tertutup rapat (berada) di dalam ruang selongsong silinder/petasan. 
Sumbu penyulut merupakan sumbu piroteknik yang terbakar dengan lambat untuk memberikan waktu bagi pengguna guna menjauh sebelum ledakan terjadi (biasanya 3-5 detik). 
Bagian dimana sumbu berada umumnya disebut sebagai bagian atas petasan. 
Jeda waktu yang diinginkan (untuk menjauh) dapat diatur dengan memanjangkan atau memendekkan sumbu petasan. 

4. Penutup Ujung (Clay/Paper Caps) 

Pada bagian bawah, umumnya terbuat dari tanah liat atau tumbukan batu bata yang dipadatkan. Sedangkan pada bagian atas (tempat sumbu penyulut) dari kertas dipadatkan. 
Penutup ujung ini berfungsi agar bahan peledak yang dimasukkan ke dalam selongsong bisa tertampung dan tidak tumpah. 
Dan karena menyumbat kedua ujung selongsong (menahan tekanan gas panas), menjadikan suara ledakan petasan lebih keras. 

Cara membuat petasan 

1. Pembuatan tabung / selongsong silinder 

- Potong kertas panjang dan lebar tertentu. 
Makin panjang kertas makin mudah dan makin cepat selongsong silinder dibuat. 
 - Gunakan batang penggulung berupa bambu kecil ( bisa juga digunakan benda lain misal : pensil, spidol atau batang kayu bulat atau bahkan logam ) sebagai media penggulung 
Batang bambu kecil lebih disukai karena mudah didapatkan, ukuran (diamaternya) mudah disesuaikan, cukup keras, permukaanya rata halus licin, sehingga mudah digunakan untuk menggulung. 
- Gulung kertas / karton sehingga membentuk selongsong silinder sesuai ukuran yang dikehendaki. Semakin besar selongsong silinder / semakin luas ruang bahan peledak dan semakin tebal selongsong silinder, semakin keras bunyi petasan.
- Pada bagian akhir gulungan kertas direkatkan (dilem) agar tidak lepas lagi dan kuat. 

2. Penyumbatan ujung bawah 

- Siapkan tanah liat yang kering namun cukup lekat. Bisa juga digunakan batu bata merah yang ditumbuk menjadi bubuk. 
Penggunaan batu bata merah yang ditumbuk memberikan hasil yang lebih baik.
- Siapkan silinder dari batang kayu pejal (bisa juga dari logam) dengan diameter yang sedikit lebih kecil (hampir sama) dengan diameter dalam (lubang) selongsong silinder kertas yang dibuat 
- Siapkan juga tatakan dari batang kayu yang cukup tebal 
- Berdirikan selongsong silinder kertas yang sudah dibuat di atas tatakan kayu 
- Masukkan secukupnya tanah liat kering atau batu bata merah yang telah ditumbuk ke dalam selongsong silinder 
- padatkan (di-press) agar tanah liat / bubuk batu bata merah menutup rapat menggunakan silinder batang kayu yang sudah disiapkan 

3. Pengisian bahan peledak 

Isikan bubuk bahan peledak (mesiu/flash powder) secukupnya ke dalam tabung selongsong silinder yang sudah ditutup bagian bawahnya.
Sisakan sedikit ruang pada bagian atas selongsong silinder untuk digunakan sebagai penutup bagian atas 
cara membuat petasan

4. Pemasangan sumbu penyulut 

-Potong sumbu penyulut dengan panjang yagn disesuaikan dengan ukuran petasan.
-Perkirakan panjang sumbu penyulut dapat memberi jeda waktu antara 5-10 detik sebelum petasan meledak. Semakin panjang sumbu penyulut, makin panjang waktu jeda yang diberikan sebelum petasan meledak 
-Masukkan sumbu penyulut ke dalam tabung selongsong silinder yang sudah diisi bahan peledak. 

5. Penyumbatan ujung atas ( HARUS HATI-HATI) 

Langkah penyumbatan ujung atas petasan merupakan bagian proses yang paling berbahaya. 
Kesalahan atau bahkan keteledoran sekecil apapun dapat menyebabkan terjadinya ledakan. 

-Siapkan sebatang logam kecil yang dipipihkan pada salah satu ujungnya ( bisa digunakan batang logam korek telinga ).
Logam ini digunakan untuk “melipat” kertas tabung selongsong silinder
-Setelah sumbu penyulut berada di bagian tengah, gunakan batang logam di atas untuk melipat kertas / karton pada sisi bagian dalam tabung selongsong silinder dengan cara menekuk/melipat sebagian kertas selongsong ke sumbu penyulut. 
-Lakukan bertahap dan berulang kali hingga sumbu penyulut terjepit erat dan tabung selongsong silinder tertutup rapat, meninggalkan ujung sumbu di bagian luar petasan 
-Lakukan dengan penuh kewaspadaan dan kehatian-hatian. 
Jika terdapat keselahan/keteledoran bisa menyebabkan terjadinya ledakan. 
Ledakan bisa terjadi akibat batang logam yang menumbuk langsung bubuk bahan peledak! 

Peringatan Keselamatan: 
Petasan dikategorikan sebagai bahan peledak rendah (low explosive). Pembuatan dan penggunaan petasan ilegal sangat berbahaya karena risiko ledakan dini dan tidak adanya izin kepemilikan 

Bagaimana petasan bisa meledak ? Cara kerja ledakan petasan 

-Saat sumbu penyulut dinyalakan, api merambat sepanjang sumbu ke bagian dalam petasan yang tertutup rapat 
-Bahan peledak terbakar menghasilkan gas panas dan energi dalam jumlah besar.
-Karena selongsong kertas (terutama yang rapat/Reinforced) menahan gas tersebut, maka tekanan di dalam tabung selongsong silinder akan meningkat dengan begitu pesat 
- Tabung selongsong silinder sudah tidak kuat menahan tekanan gas panas 
-Tabung selongsog silinder pecah dan menghasilkan suara ledakan keras. 

Bahaya menyalakan petasan : materiil, kesehatan hingga nyawa taruhannya 

Sebenarnya sudah sangat banyak contoh nyata tentang bagaimana bahayanya petasan (termasuk membuat, menyimpan dan menyalakan/membunyikan).
Resiko fisik nyata yang dialami : luka bakar, cedera mata, cedera tangan, kebutaan, kehilangan anggota badan hingga nyawa melayang, kematian. 
Kerugian material juga terlihat jelas pada kasus-kasus yang telah terjadi : kebakaran/kehilangan rumah hingga kerusakan fasilitas umum. 

Namun yang sering tidak disadari adalah petasan melepaskan campuran gas berbahaya dan partikel halus ke udara saat dinyalakan dan meledak. 
Ini termasuk karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen oksida, dan partikel halus (PM2.5 dan PM10). 
Partikel-partikel kecil ini sangat kecil sehingga dapat dengan mudah masuk ke aliran darah melalui paru-paru. 
Paparan partikel ini dalam jangka pendek dapat memperburuk penyakit paru-paru, menyebabkan asma dan bronkitis akut, serta meningkatkan kerentanan terhadap infeksi pernapasan . 
Pada orang dengan penyakit jantung, paparan jangka pendek terhadap asap kembang api telah dikaitkan dengan serangan jantung dan aritmia. 

Anda sudah tahu, bagaimana bau menyengat khas yang ditimbulkan ketika petasan dinyalakan dan meledak. 

Dilarang membunyikan petasan tapi tetap nekat : alasan membunyikan petasan 

Kedengarannya sederhana, namun sebenarnya sangat kompleks dalam prakteknya. 
Banyak alasan yang begitu berakar dari pada sekedar “fun” saat membunyikan petasan. 
Ada beberapa alasan/faktor mengapa masyarakat Indonesia masih tetap saja membunyikan petasan meskipun sudah ada peraturan perundangan yang melarangnya, berikut adalah alasan utamanya: 

1.Faktor kepercayaan (Mistis/Simbolis) 

Sebagian masyarakat (tradisional) Indonesia ada yang masih memiliki kepercayaan bahwa suara keras dari petasan dapat mengusir roh jahat atau nasib buruk. 
Misalnya
Masyarakat Bali membunyikan petasan atau kembang api, khususnya saat malam menjelang Nyepi (Pengerupukan) atau tahun baru, dipercaya sebagai simbol untuk mengusir roh jahat (Bhuta Kala) dan menciptakan suasana meriah/bising guna menetralisir energi negatif. 
Suara ledakan petasan bertujuan menyucikan lingkungan, namun penggunaannya dilarang keras saat Nyepi dan dibatasi pada upacara suci. 

2.Faktor tradisi dan budaya yang sudah mengakar 

Tradisi menyalakan petasan sebenarnya bukan budaya asli dari Indonesia, melainkan adaptasi dari tradisi Tionghoa/Tiongkok kuno (Cina). Namun karena sudah begitu lama di adaptasi oleh masyarakat Indonesia, akhirnyasudah menjadi berurat berakar. 
Menyalakan petasan sudah berakar sebagai simbol kemeriahan, kegembiraan, atau perayaan di sebagian masyarakat Indonesia. 
Sebagai contoh
- Di Cirebon, ada tradisi "Bledogan", yaitu membunyikan petasan pada malam lebaran sebagai penanda berakhirnya bulan puasa 
- Sejak zaman Kesultanan Banjar, masyarakat Kalimantan Selatan khususnya di Banjarmasin hingga Hulu Sungai, memiliki kebiasaan membunyikan petasan atau meriam bambu (karbitan) pada bulan Ramadan dan malam lebaran. 
- Dalam budaya Betawi, petasan merupakan bagian penting dari pesta adat. 
Petasan yang disusun berbentuk untaian (rentengan) dinyalakan umumnya untuk memeriahkan acara besar seperti pernikahan, sunatan, pindah rumah, hingga perayaan Maulid Nabi. 

3.Cara mengekspresikan kegembiraan (ekstrem/berlebihan) 

Sebagian orang – khususnya anak muda- menganggap bahwa suara ledakan yang keras dapat meningkatkan adrenalinnya. 
Sehingga untuk menjadi puncak kegembiraan dan sukacita yang dirasakan bersama komunitas mereka mengekspresikannya dengan membunyikan petasan. 
Makin besar main mantap, kegembirannya.

4.Kurangnya aternatif hiburan 

Di daerah-daerah pedesaan / pedalaman, pilihan hiburan bisa menjadi sangat terbatas. Sedangkan pada hari-hari tertentu / hari besar masyarakat membutuhkan relaksasi dan kemeriahan. Menyalakan petasan adalah alternatif hiburan yang murah dan mudah didapat. 

5.Faktor iseng dan ikut-ikutan 

Terutama (di kalangan anak-anak dan remaja), para remaja menyalakan petasan seringkali awalnya hanya karena iseng pada orang-orang sekitarnya. 
Yang kemudian diikuti (ikut-ikutan),oleh anak-anak di bawahnya, agar dianggap berani atau tidak dianggap tidak kompak. 
Bahkan karena dipadukan dengan minimnya ruang publik dan adanya konflik remaja antar kampung , maka lahirlah apa yang disebut sebagai Perang Petasan ( Roman candle
Dewasa ini kasus Perang petasan kerap terjadi antar kelompok remaja atau warga kampung, terutama pada bulan Ramadhan, Idul Fitri, atau malam pergantian tahun, disebabkan oleh kombinasi faktor –faktor di atas. 

6.Lemahnya penegakan hukum 

Meskipun sebenarnya sudah ada peraturan perundangan yang tegas tentang petasan, namun diakui atau tidak, penegakan hukum di bidang ini dirasa masih sangat lemah, terutama di tingkat desa atau perkampungan. 
Aparat biasanya baru bertindak ketika terjadi kasus yang (dirasa) besar. 
Misalnya terbakarnya atau hancurnya rumah akibat ledakan petasan, dan sejenisnya. 
Factor-faktor itulah yang menyebabkan meskipun petasan dilarang karena alasan keamanan, risiko kebakaran, dan polusi suara/udara, tradisi ini masih sulit dihilangkan sepenuhnya karena telah dianggap sebagai bagian dari perayaan. 

Asal mula petasan-nggak nyangka- ternyata dari dapurnya Emak-emak 

Jika merunut lebih jauh tentang asal mula petasan yang bisa dibilang Mbah-nya meriam atau roket, pasti tidak akan menyangka jika petasan pertama kali bermula dari dapurnya emak-emak. 

Ceritanya
Ada satu legenda yang sangat populer tentang penemuan bubuk mesiu secara tidak sengaja yang terjadi sekitar 2.000 tahun yang lalu di Tiongkok (kuno). 
Legenda tersebut menyebutkan bahwa ada seorang koki yang bekerja memasak di dapur terbuka di lapangan secara tidak sengaja mencampurkan tiga bahan dapur umum pada masa itu: arang (charcoal), sendawa (saltpeter/potassium nitrate) dan belerang (sulfur) Arang adalah bahan bakar yang sudah lazim digunakan waktu itu. 
Pada masa yang sama Sendawa sudah sering digunakan sebagai pengawet makanan. 
Dan kebetulan berada di lapangan terbuka yang ada Belerang di sekitarnya. 
Entah bagaimana caranya, ketiga bahan tersebut tercampur secara tidak sengaja.Yang kemudian saat dibakar/terbakar, tiba-tiba terjadi ledakan. 

Awal munculnya tradisi menyalakan petasan 

Meskipun legenda koki penemu petasan ini sangat populer, beberapa sejarawan menyebutkan bahwa penemuan mesiu dikaitkan dengan alkemis Tao yang sedang mencari ramuan keabadian, atau biksu bernama Li Tian pada masa Dinasti Tang yang mendokumentasikan penggunaan mesiu dalam tabung kertas. 

Seorang biksu bernama Li Tian yang dipercaya hidup pada masa Dinasti Tang (618-907 M) di dekat kota Liuyang, Provinsi Hunan, Tiongkok memasukkan campuran bubuk ini (bubuk mesiu) ke dalam ruas bambu kosong dan melemparnya ke dalam api, campuran tersebut menghasilkan suara ledakan keras untuk mengusir roh jahat. 
Sehingga pada awalnya, petasan hanyalah bambu yang dibakar (dikenal sebagai baozhu atau ledakan bambu) untuk menghasilkan suara keras. 
(American Pyrotechnics Safety and Education Foundation) 

Jadi tujuan awal penemuan ini bukanlah untuk hiburan.
Suara keras dari ledakan bambu berisi bubuk tersebut dipercaya mampu mengusir roh jahat dan Nian (makhluk mitos yang takut pada api dan suara keras). 
Penduduk setempat menganggap Li Tian sebagai "nenek moyang petasan" dan merayakan penemuannya setiap tanggal 18 April. 
Kemudian petasan menjadi bagian penting dari perayaan Tahun Baru Imlek, pernikahan, perayaan kemenangan perang, pada saat terjadi gerhana bulan, sampai pada upacara keagamaan di Tiongkok 

Pabrik petasan pertama kali di dunia

Pabrik petasan yang didirikan pada zaman Dinasti Song (960–1279 M) di Tiongkok menandai era di mana petasan berevolusi dari sekadar bambu yang dibakar menjadi industri produksi massal untuk perayaan. 
Industri petasan berkembang pesat dan "berbunga" pada masa Dinasti Song, khususnya di wilayah Liuyang, Provinsi Hunan, yang kini dikenal sebagai "kampung halaman petasan" di Tiongkok. 
Pada periode ini, petasan menjadi sangat populer di kalangan masyarakat umum dan digunakan secara luas untuk perayaan dan acara penting lainnya. 
Dan sejak itu pula tradisi ( Cina ) membunyikan petasan akhirnya menyebar ke seluruh dunia. Termasuk ke Indonesia. 

Marco Polo membawa petasan dari Tiongkok ke Eropa pada tahun 1295 M. Italia menjadi negara Eropa pertama yang memproduksi kembang api/petasan untuk komersialisasi (diperjualbelikan) 

Tradisi menyalakan petasan di Indonesia 

Pada abad ke-15, saat bangsa China perantauan datang ke Indonesia untuk berdagang, sejarah petasan dan kembang api di Indonesia mulai terbentuk. 
Tradisi petasan dibawa ke Nusantara oleh warga Tionghoa yang merantau ke Batavia (Jakarta) dan wilayah lainnya Sama seperti di tanah leluhurnya, para perantau Tionghoa awalnya menggunakan petasan dalam ritual budaya, seperti perayaan Imlek (Sin Cia) dan Cap Go Meh untuk mengusir roh jahat (termasuk legenda Nian). 

Seiring waktu dan terjadi akulturasi budaya, penggunaan petasan meluas menjadi bagian dari perayaan masyarakat lokal, termasuk dalam tradisi Lebaran, pernikahan, dan penyambutan tahun baru. 
Namun setelah terjadi percampuran budaya, penyalaan petasan mengalami sedikit pergeseran makna. Selain untuk mengusir roh jahat, menyalakan petasan bergeser menjadi simbol keberuntungan, simbol perayaan kebahagiaan, kemenangan, dan tradisi dalam menyambut bulan Ramadan hingga Idulfitri. 

Pada masa penjajahan Belanda di Indonesia, petasan mulai populer di masyarakat karena dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan penjajah. 
Namun VOC melihat petasan sebagai sumber bahaya hingga akhirnya mengeluarkan larangan menggunakan petasan pada 1650. 
Alasan lainnya karena VOC menjadi sulit membedakan antara suara ledakan suara senjata api atau petasan itu sendiri. Setelah kemerdekaan, pemerintahan Hindia Belanda masih ikut campur dalam larangan penggunaan petasan. 
Tapi kebiasaan membakar petasan tetap saja sulit terbendung, terlebih saat perayaan Tahun Baru, Imlek, dan Lebaran, juga dalam tradisi masyarakat. 

Sentra produksi petasan di Indonesia 

Meskipun berakar dari tradisi Tionghoa, produksi petasan kemudian berkembang hampir di seluruh daerah di Indonesia, utamanya di pulau Jawa. 

Beberapa daerah yang sering diidentifikasi sebagai sentra produksi petasan rumahan atau perajin petasan antara lain: 

• Jawa Barat 
-Wilayah Indramayu, Desa Telukagung sering dilaporkan sebagai lokasi perajin petasan rumahan. Penggerebekan sering menemukan jutaan mercon di wilayah ini. 
- Wilayah Bogor sering menjadi sentra produksi petasan yang menyuplai berbagai pasar, dan razia kerap dilakukan di berbagai rumah industri di wilayah ini. 

• Jawa Timur 
-Beberapa daerah di Jombang pernah digerebek karena menjadi sentra industri petasan.
-Trenggalek dikenal sebagai daerah pemasok serbuk bahan petasan. 

• Jawa Tengah 
Wilayah Karanganyar, Kecamatan Tawangmangu, khususnya di lingkungan Blumbang, sempat diidentifikasi sebagai tempat perakitan petasan tradisional. 

Kesimpulan 

Kisah koki Cina menggambarkan bagaimana bahan yang biasa ada di dapur yang secara tidak sengaja pula ternyata dapat menciptakan penemuan besar (mesiu) yang mengubah sejarah perayaan (petasan) dan militer (meriam/roket) di seluruh dunia.