5 Masjid Tertua Di Dunia Yang Istimewa

Daftar Isi Artikel
Masjid merupakan tempat peribadatan ( utama ) bagi umat Islam. 
Masjid dianggap sebagai tempat suci, disebut sebagai “Rumah Tuhan”. 

Asal Masjid 

Masjid sebagai "Rumah Tuhan" atau dalam bahasa Arab disebut Baitullah merupakan istilah yang menggambarkan bahwa masjid sebagai tempat yang disucikan dan didedikasikan sepenuhnya untuk ibadah kepada Allah SWT.
Istilah ini bukan berarti Tuhan "tinggal" di dalam bangunan masjid tersebut, melainkan menunjukkan kedekatan, kehormatan, dan fungsi khusus masjid sebagai pusat aktivitas umat Islam dalam beribadah. Ringkasnya, Masjid sebagai Rumah Tuhan (Baitullah) artinya adalah tempat khusus yang disucikan, milik Allah SWT, yang difungsikan sebagai pusat ibadah dan pembinaan umat, di mana manusia mendekatkan diri kepada Sang Pencipta 

(Mungkin, sebagai salah satu akibat serbuan modernisasi, materialisasi dan sekulerisasi) Saat ini terjadi sedikit pergeseran/pengkerdilan peran dan fungsi masjid. 
Meski tetap digunakan untuk tujuan yang sama, yaitu beribadah kepada Allah SWT- kebanyakan masjid modern cenderung lebih sempit perannya - hanya sebagai tempat aktivitas ritual peribadatan (shalat, dzikir, membaca al Qur’an, kajian) belaka. 

Pada jaman lampau ( pada jaman nabi dan sahabatnya ), masjid adalah pusat kegiatan umat Islam. Masjid tidak hanya dipergunakan sebagai tempat peribadatan (shalat, dzikir, membaca al quran) semata, namun juga difungsikan sebagai tempat pusat mengatur tata masyarakat, tata pemerintahan sampai tempat untuk membahas dan mengatur strategi yang akan dilakukan di medan peperangan. 

Masjid merupakan serapan dari bahasa Arab, yang berakar dari kata kerja sajada-yasjudu-sujudan yang berarti "ia telah bersujud". 
Secara etimologi, masjid berasal dari bahasa Arab sajada (sujud), sementara secara akar kata berasal dari bahasa Aram masgid (tempat ibadah/tiang suci). 
Secara morfologi, kata masjid kemudian diartikan sebagai "tempat sujud" atau tempat untuk menyembah Allah. 

Pada awalnya bangunan masjid adalah tempat shalat yang sangat sederhana bagi umat Islam, dan bahkan lebih layak disebut sebagai ruang terbuka daripada disebut sebagai “bangunan” 
Pada bangunan masjid modern ( dimulai tahap pertama arsitektur Islam sekitar tahun 650-750 ), masjid terdiri dari ruang terbuka dan tertutup yang dikelilingi oleh dinding, dan umumnya dilengkapi dengan menara tempat azan. 
Bangunan masjid biasanya berisi mihrab dipasang di dinding yang menunjukkan arah kiblat ke Makkah, mimbar dan fasilitas wudhu. 
Masjid biasanya juga memiliki ruang terpisah untuk ibadah pria dan wanita. 

Bangunan masjid tertua di dunia yang masih ada 

Umat Islam percaya bahwa tempat peribadatan yang pertama dan paling tua di dunia yang dibangun manusia adalah Ka’bah. Yang dibangun oleh nabi Ibrahim, AS di Mekkah. 
Namun karena sebutan “masjid” muncul mulai jaman nabi Muhammad, SAW, maka Ka’bah tidak “dimasukkan” dalam kategori ini. 
Secara historis, Masjid Quba (di luar Madinah) adalah bangunan yang pertama kali dibangun dan secara eksplisit disebut sebagai masjid oleh Nabi Muhammad SAW dalam Islam. 

Dari catatan sejarah dan dari beberapa sumber yang berhasil dikumpulkan, masjid-masjid yang paling tua di dunia yang masih ada hingga saat ini adalah : 

1. Masjid Quba (tahun 622 Masehi) 

Masjid Quba merupakan masjid yang paling pertama kali yang dibangun oleh "tangan" Rasulullah saw. sendiri pada saat perjalanan hijrah dari Mekkah tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi, selama 5 hari sebelum masuk ke Madinah. 
Peletakan batu pertama bangunan masjid dilakukan oleh Rasulullah saw., baru kemudian diikuti oleh para sahabatnya (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan lainnya). 

Pada jaman Rasulullah, Quba merupakan kawasan pinggiran sekitar 5 km di sebelah tenggara pusat kota Madinah. Wilayah ini dihuni oleh kabilah Bani Amr bin Auf. 
Quba digambarkan sebagai sebuah desa di pinggiran Madinah yang dikelilingi kebun kurma. 
Sehingga masjid Quba yang pertama kali dibangun, awalnya berupa pelataran terbuka dengan tiang-tiang pohon kurma dan atap dari pelepah kurma. 
Di sebelah utara adalah serambi untuk tempat shalat yang bertiang pohon kurma, dengan beratap datar dari pelepah dan daun kurma yang bercampurkan tanah liat. 
Di tengah-tengah ruang terbuka dalam masjid yang kemudian biasa disebut sahn, terdapat sebuah sumur tempat wudhu. 

masjid quba asli

Meskipun sangat sederhana, Masjid Quba boleh dianggap sebagai contoh bentuk daripada masjid-masjid yang didirikan orang di kemudian hari. 
Bangunan yang sangat bersahaja itu sudah memenuhi syarat-syarat yang perlu untuk pendirian masjid. Ia sudah mempunyai suatu ruang yang persegi empat dan berdinding di sekelilingnya. 
Meski sangat sederhana – bahkan mungkin belum layak dibilang bangunan masjid untuk ukuran saat ini - Allah SWT memuji Quba dan orang yang mendirikan shalat di dalamnya. 
Masjid Quba adalah masjid yang dibangun atas dasar takwa. 
Sebagaimana difirmankan dalam (QS. At-taubah:108) 
Artinya : 
"Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri... "

Sejalan dengan perkembangan waktu dan kejayaan Islam, Masjid Quba telah beberapa kali mengalami renovasi. 
Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah orang pertama yang membangun menara masjid Quba ini. Setelahnya, pada era modern, renovasi masjid Quba ditangani oleh keluarga Saud. 
Pada masa pemerintahan Raja Fahd ibn Abdul Aziz pada 1986, dengan anggaran sebesar 90 juta riyal Masjid Quba direnovasi dan diperluas lagi, sehingga memiliki daya tampung hingga 20 ribu jamaah (Sejarah Madinah al-Munawarah ditulis Dr Muhamad Ilyas Abdul Ghani) 

Saat ini, total luas lahan Masjid Quba 13.500 meter persegi Melalui Proyek Raja Salman, Masjid Quba sedang dalam tahap perluasan secara besar-besaran.
Luas area bangunan masjid yang semula sekitar 5.035 - 5.860 meter sedang diperluas 10 kali lipat, untuk mencapai target akhir seluas 50.000 meter persegi, sehingga nantinya akan mampu menampung jemaah sebanyak 60.000 - 66.000 jemaah 

masjid quba saat ini

Pada awal tahun 2026 pun, Masjid Quba sudah tampil dengan wajah baru yang jauh lebih megah, modern, dan artistik, namun tetap mempertahankan nilai sejarah sebagai masjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad SAW. 
Area sekitarnya kini dilengkapi taman indah, terlihat lebih estetik dengan pencahayaan lampu yang indah, terutama pada sore dan malam hari, tempat duduk kerikil, serta spot foto cermin yang viral. Masjid ini memiliki 4 menara, 54 kubah kecil, dan dengan kapasitas lebih dari 20.000 jemaah. 

Keutamaan Masjid Quba : 

Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang bersuci (berwudhu) di rumahnya, kemudian datang ke Masjid Quba lalu shalat di dalamnya, maka pahalanya setara dengan pahala umrah"

2. Masjid Nabawi (622 Masehi) 

Masjid Nabawi merupakan masjid tertua kedua setelah masjid Quba, sekaligus termasuk dalam kategori salah satu masjid terindah di dunia, setelah Masjidil Haram di Makkah
Didirikan oleh Nabi Muhammad SAW sesudah membangun masjid Quba, juga pada tahun 622 M (1 Hijriyah) sesaat tiba di Madinah dalam perjalanan hijrah dari Makkah. 

Masjid Nabawi ini dibangun secara gotong-royong oleh kaum Muhajirin dan Anshar, di atas tanah tempat unta Rasulullah SAW berhenti yang merupakan tanah milik dua orang anak yatim dari Bani Najjar (Sahl dan Suhail) yang dibeli Rasulullah. 

Saat pertama kali dibangun, masjid Nabawi berukuran sekitar 31,5×27 meter, dan tingginya hanya 2 meter berbentuk persegi sederhana. 
Dindingnya dari bata tanah liat, tiang batang kurma, dan atap pelepah kurma. Atapnya hanya tertutup sebagian, sementara sisanya terbuka. 
Meskipun sangat sederhana, selain digunakan sebagai shalat, masjid Nabawi juga digunakan sebagai pusat pemerintahan, majelis ilmu, perawatan medis, dan tempat tinggal para sahabat yang tidak mampu (Ahli Suffah). 

Setelah Perang Khaibar pada tahun 7 H, Rasulullah SAW melakukan perluasan pertama pada masjid Nabawi. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab (17 H) dan Utsman bin Affan (29 H) dilakukan perluasan lagi untuk menampung jumlah umat Muslim yang meningkat. 
Khalifah Umar bin Abdul Aziz merevolusi bangunan masjid dengan gaya yang lebih megah dan ditambahkan mihrab. 
Sultan Mesir, Qaitbay, memperbaiki makam Nabi setelah kebakaran pada 1481 M. 

Pada era modern, Kerajaan Arab Saudi melakukan perluasan massif, sehingga ukurannya lebih dari 100 kali lipat, menjadikan masjid Nabawi luasnya mencapai ratusan ribu meter persegi dan mampu menampung satu juta jamaah, merupakan masjid terbesar di dunia. 

masjid nabawi saat ini

Masjid Nabawi saat ini memiliki fasilitas modern berupa ratusan payung raksasa otomatis di halaman masjid yang dilengkapi dengan pendingin suhu. Dan tentu saja tidak ketinggalan penyediaan air zamzam gratis.
Masjid Nabawi juga dikenal dengan Kubah Hijau yang ikonik, yang menaungi makam Rasulullah SAW, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab. 
Seiring perluasan, makam Nabi Muhammad SAW dan dua sahabat, Abu Bakar dan Umar, kini berada di dalam kompleks masjid.
Bagian terpenting dari masjid ini adalah Raudhah (taman surga) yang berada di antara rumah Nabi (sekarang makam) dan mimbar. 

3. Masjid Qiblatain (623 Masehi) 

 Awalnya, masjid ini lebih dikenal sebagai Masjid Bani Salamah yang dibangun oleh Suwad bin Ghanm (Sawad bin Ghanam bin Kaab) pada bulan Sya'ban tahun ke-2 Hijriah ( 623 Masehi). 
Letaknya sekitar 7 km dari Masjid Nabawi di Madinah. Awalnya, Masjid Qiblatain ini mempunyai kiblat yang menghadap ke arah Jerussalem. 

Suatu ketika, saat Rasulullah SAW melaksanakan shalat zuhur, turun wahyu yang memerintahkan pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram. 
Seketika Rasulullah memutar arah kiblat 180 derajat, diikuti para sahabat. 
Persitiwa ini sebagaimana diabadikan dalam Surah Al-Baqarah ayat 144. 
Dan setelah perintah pemindahan arah kiblat menghadap ke arah Mekkah, maka untuk seterusnya kiblat ke Jerussalem ditiadakan. 
Atas dasar peristiwa itulah, masjid yang semula dikenal sebagai Masjid Bani Salamah kemudian menjadi Iebih dikenal sebagai ‘Masjid Dua Kiblat’ Masjid Al Qiblatain. 
Masjid Qiblatain merupakan masjid bersejarah di mana Nabi Muhammad SAW menerima wahyu untuk mengubah arah kiblat dari Baitul Maqdis (Palestina) ke Ka'bah(Mekah). 

Sebagaimana masjid-masjid tua bersejarah lainnya, Masjid Al Qiblatain juga ini telah mengalami beberapa kali renovasi dan perluasan, termasuk pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. 
Pada era selanjutnya, renovasi besar dilakukan oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz pada tahun 1987, yang mengubah tampilan masjid menjadi lebih megah dengan arsitektur modern, adanya kubah kembar, dan dinding putih bersih, meski tetap mempertahankan satu mihrab lama sebagai penanda sejarah perpindahan kiblat. 

masjid qiblatain saat ini

Renovasi modern, termasuk di bawah pengawasan Otoritas Pengembangan Wilayah Madinah, memperluas area masjid menjadi lebih dari 3.900m2 (total proyek >265.000m2) dengan kapasitas lebih dari 20.000 jemaah. 
Renovasi ini berhasil memadukan fungsi masjid sebagai tempat ibadah modern yang nyaman tanpa menghilangkan nilai historis penting dari Masjid Qiblatain. 
Raja Salman memerintahkan agar masjid Al Qiblatain ini dibuka 24 jam bagi para jemaah haji dan umrah. 

4. Masjid Palaiya Jumma Palli (628-630 Masehi) 

Uniknya, salah satu masjid tertua di dunia ternyata terletak di India. 
Masjid Palaiya Jumma Palli (Masjid Jumat Lama) atau atau Meen Kadai Palli, yang terletak di Kilakarai, Distrik Ramanathapuram, Tamil Nadu, India Selatan, merupakan salah satu masjid tertua di dunia dan tertua di India, dibangun sekitar tahun 628–630 M ( tahun ke 7 – 9 Hijriyah, pada masa hidup Nabi Muhammad SAW ) oleh pedagang Yaman yang menetap di kerajaan Pandya di India atas perintah Gubernur Yaman, Bazan ibnu Sasan setelah memeluk agama Islam. 

Masjid Palaiya Jumma Palli merupakan masjid pertama yang dibangun di India bersama dengan Cheraman Juma Masjid di Kerala. 
Masjid yang berlokasi di pesisir kota ini yang menjadi saksi sejarah perdagangan Arab-Tamil terkenal dengan arsitektur Dravida kunonya. 
Menampilkan perpaduan unik gaya Islam awal dengan elemen lokal Dravida/Tamil, memiliki atap datar, pilar batu, dan ukiran khas. 
Bangunannya mirip dengan kuil Hindu kuno, dengan pilar-pilar batu berukir, tetapi didesain khusus untuk peribadatan umat Islam tanpa patung atau berhala. 

masjid Palaiya Jumma Palli

Masjid ini sempat dibangun kembali atau direnovasi pada abad ke-11 (sekitar tahun 1036 M) namun tetap mempertahankan struktur dasarnya. 
Struktur bangunan yang ada saat ini mayoritas berasal dari renovasi besar yang dilakukan oleh seorang pedagang terkemuka, Shaikh Abdul Qadir (dikenal sebagai Seedi Qadir) pada masa pemerintahan Mughal Aurangzeb pada paruh kedua abad ke-17.
Masjid Palaiya Jumma Palli merupakan pusat Islam penting di India Selatan dan dianggap sebagai salah satu contoh arsitektur Islam Tamil terbaik. 

5. Masjid Jawatha (629 Masehi) 

Masjid Jawatha (Jawatha Mosque) yang terletak di desa Al-Kilabiyah yang jaraknya sekitar 12 kilometer sebelah timur laut Hofuf, Kegubernuran Al-Ahsa, Arab Saudi dibangun pada tahun ke-7 Hijriah (sekitar 629 M) oleh Bani Abdul Qais, suku yang menetap di kawasan timur Arab Saudi sebelum Islam masuk. 
Dikenal sebagai masjid tertua di Provinsi Timur Arab Saudi
Dinamai sebagai Masjid Jawatha karena Jawatha adalah ibu kota dari kota kuno Hajar pada tahun-tahun awal Islam. 

Tidak seperti masjid lainnya, arsitektur masjid Jawatha bentuknya sangat sederhana. 
Dindingnya terbuat dari batu bata lumpur – yang bahkan menyerupai benteng kuno -tidak memiliki kubah atau menara besar. 
Strukturnya juga sederhana dengan tiga koridor dan ventilasi yang disesuaikan dengan iklim panas. 

masjid jawatha saat ini

Masjid ini telah berkali-kali direnovasi. Salah satu renovasi yang signifikan terjadi pada tahun 1210 Hijriah karena kerusakan dan penutupan pasir. 

Masjid Jawatha ini menjadi istimewa karena merupakan masjid kedua tempat dilaksanakannya shalat Jumat dalam Islam setelah Masjid Nabawi. 
Selain itu dipercaya jika Hajar Aswad pernah disimpan di dalam Masjid Jawatha selama lebih dari 20 tahun oleh orang-orang Qarmatian 

Meskipun saat ini banyak bagian asli dari Masjid Jawatha telah runtuh dimakan usia, masjid ini tetap digunakan untuk beribadah dan menjadi salah satu situs warisan terpenting di Arab Saudi.