-->

Cara Memilih Additif Pelumas Yang Baik

Pesatnya teknologi otomotif, pada akhirnya juga menghasilkan produk-produk kendaraan dengan spesifikasi dan performance yang lebih prima.
Jika dulunya sebuah kendaraan dibutuhkan hanya untuk mempermudah transportasi dan mobilisasi, pada saat ini sudah tidak mencukupi lagi.
Tuntutan jaman membutuhkan suatu kendaraan yang disamping mudah dimobilisasi, juga membutuhkan kecepatan gerak yang nyaman dan memadai.

Oleh sebab itu diperlukan juga suatu pelumas dengan kualifikasi yang lebih untuk menyokong performa itu. Sehingga pada akhirnya, pasar merespon dengan mengeluarkan berbagai jenis pelumas dengan berbagai merk dan spesifikasinya tersendiri.

Pelumas yang dulu umumnya hanya dilayani oleh pelumas alami ( turunan langsung dari minyak bumi ), dirasa kurang mencukupi. Sehingga muncullah beberapa pelumas sintetik yang merupakan rekayasa lebih lanjut dari pelumas alami dengan beberapa perbaikan kualitas dan spesifikasi.
Dan dalam beberapa tahun belakangan pelumas sintetis ini lebih digemari pemakai karena dianggap mempunyai performa yang lebih baik dari pada pelumas alami.

Namun demikian, hal inipun dirasa belum mencukupi. Sehingga pada akhirnya dikembangkan dan dimunculkan apa yang dinamakan additive pelumas.
Yaitu suatu bahan tertentu yang ditambahkan untuk memperbaiki sifat-sifat tertentu dari pelumas sehingga dapat meningkatkan kinerja pelumasan pada mesin. Bahan-bahan additif ditambahkan umumnya untuk tujuan meningkatkan performance mesin, memperlama waktu pemakaian, meningkatkan jarak tempuh, meningkatkan RPM dan atau tujuan lainnya.

Penambahan additive pelumas ini sebenarnya tidak boleh dilakukan secara asal-asalan tanpa mengetahui tujuan pemakaian.

Umumnya awam beranggapan bahwa dengan penambahan additive ( apa saja ) maka kinerja dan performance suatu pelumas tentu akan lebih meningkat. Padahal semestinya tidak lah demikian.

Seringkali terjadi karena kurangnya kepedulian atau memang karena minimnya pengetahuan yang terjadi justru “salah sasaran” Sebagai contoh, misalnya :

● Pelumas yang digunakan pada mesin dengan bahan bakar bensin secara teknis memang didesign lebih encer bila dibandingkan dengan pelumas untuk mesin yang berbahan bakar solar.
Hal ini umumnya, pelumas ditandai dengan kode angka yang mewakili kekentalannya,contoh T10,SAE40,W50 dan sebagainya.
Tapi ironi yang terjadi adalah, produk-produk additif untuk pelumas mobil berbahan bakar bensin yang beredar di pasaran justru memiliki kekentalan yang lebih tinggi dibandingkan pelumas untuk mobil solar. Sehingga karena kekentalnya ini, dalam aplikasinya additif tersebut masih perlu di campur pelumas dan harus diaduk diluar mesin selama 15 menit.
Efek positif penambahan additive yang lebih kental ini memang menjadikan mesin terasa lebih halus, kurang tarasa getarannya.
Tetapi hal ini juga akan membuat akselerasi mesin menjadi berat , boros bahan bakar dan bahkan jika dilakukan dalam pemakaian jangka panjang justru akan menimbulkan kerusakan pada bearingnya, karena terkena beban kekentalan pelumas. Terlebih lagi jika mobil sering digeber pada RPM yang sangat tinggi. Seringkali akan terjadi metal friction atau penuaan dini pada bagian mesinnya.

● Kesalahan lainnya, adanya persepsi bahwa mesin tidak boleh terlalu dingin karena hal ini akan mengurangi efisiensi pemakaian bahan bakar.
Padahal sebenarnya adalah yang tidak boleh terlalu dingin “hanyalah” pada bagian pembakaran, tetapi pada bagian transmisi tenaga justru harus dingin dan tidak boleh panas. Karena logam yang ada pada pada sistem transmisi akan menjadi mudah aus dan lebih mungkin terjadi fraksi.

Nah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada mesin dan kendaraan anda, ada baiknya jika tahu, bagaimana cara memilih additive pelumas yang baik.

Secara umum ciri-ciri additive pelumas yang baik adalah :

1. Dapat menghindarkan terjadinya friksi
2. Mampu melengkapi pencapaian pada beban puncak
3. Mengurangi kebutuhan tenaga atau irit tenaga
4. Dapat mencegah terjadinya kontak langsung antar metal
5. Mempunyai kemampuan perlindungan langsung terhadap keausan
6. Dapat merontokan tempelan, timbunan kerak atau debu
7. Dapat memberi perlindungan terhadap serangan uap dan karat
8. Tidak terlalu terpengaruh oleh adanya perubahan suhu
9. Mampu menjangkau keseluruhan bagian mesin dengan baik
10. Aktif melindungi permukaan logam pada pemakaian jangka panjang
11. Mempunyai nilai Koefisien gesek yang jauh lebih rendah dari pada pelumas umumnya
12. Stabil terhadap panas
13. Stabil terhadap bahan kimia
14. Mampu menjaga ruang mesin tetap bersih
15. Memberi efek slip / menggelincir yang baik
16. Tidak mempengaruhi keberadaan oksigen

You may like these posts