Mengapa Mobil Bermesin Diesel Tidak Laku Di Amerika ? Ini 3 Alasan Kenapa Orang Amerika Tidak Suka Mobil Diesel !

Mengapa Mobil Bermesin Diesel Tidak Laku Di Amerika ? Ini 3 Alasan Kenapa Orang Amerika Tidak Suka Mobil Diesel !

Masih ingatkah dengan sebuah iklan mobil yang terbilang fenomenal berikut ?
Jakarta-Bali hanya 40 ribu rupiah…cring…cring…cring..?”
Iklan mobil tersebut boleh dikata sebagai iklan yang fenomenal yang menjadi “kebangkitan” mobil Diesel Indonesia. Dengan iklan tersebut mobil Diesel menjadi laris manis bak pisang goreng dan “menancapkan kukunya” secara kuat di hati konsumen otomotif tanah air.
Mobil Diesel ( Panther ) menjadi salah satu mobil yang paling popular dan paling disukai konsumen Indonesia.

Mobil Diesel memang terkenal sebagai mobil yang sangat irit bahan bakar, sangat minim perawatan, tangguh dan kuat bertenaga. Meski mobil Diesel juga lebih “kasar dan berisik” dibanding dengan mobil bensin.

Karena itulah harga mobil Diesel relatif lebih mahal, pada spesifikasi yang sama dengan mobil bensin. Sebab biaya pabrikasi mesin Diesel memang lebih besar.

Dengan keberpilihan kebanyakan orang Indonesia pada mobil Diesel menjadikan konsumen Indonesia – boleh dikata – sebagai konsumen yang “smart” ( waktu itu ).
Namun, jika menengok ke luar negeri di kawasan Eropa, terutama Amerika akan terlihat fenomena yang “cukup aneh”. Orang Eropa (awalnya) kurang suka dengan mobil Diesel.
Orang Amerika bahkan sangat tidak suka dengan mobil Diesel.
Padahal orang-orang Amerika sangat terkenal sebagai orang-orang yang suka dengan mobil-mobil yang tangguh dan bertenaga, yang sering disebut “Muscle Car”- Mobil Berotot dan macho !

Sedangkan mobil bermesin Diesel memenuhi semua kriteria kesukaan dan hobi orang Amerika.

Aneh ..kan ??? Apa sebabnya ???

Jika ditelusuri, jawabannya pastinya tidak akan pernah ditemui di Indonesia.
Mobil bermesin Diesel adalah mobil yang menggunakan bahan bakar Solar.
Dan bahan bakar Solar, bagi orang-orang Eropa dan Amerika identik dengan “bahan bakar yang kotor”. Itulah sebabnya konsumen mobil di kawasan tersebut awalnya tidak suka membeli dan menggunakan mobil yang bermesin Diesel.

Namun ketika teknologi permesinan – mesin Diesel khususnya – telah berkembang sedemikian pesat, maka mobil-mobil Diesel bisa menjadi tidak kalah bersihnya dengan mobil bermesin bensin.
Mobil turbodisel 1,6 liter misalnya, kini sudah bisa menghasilkan emisi gas buang yang “cukup bersih” namun memiliki efisiensi bahan bakar yang sangat tinggi, dan mampu menghasilkan tenaga putaran jauh lebih besar daripada mobil bermesin bensin.
Jadi anggapan bahwa mobil Diesel adalah mobil “kotor” sebenarnya sudah tidak berlaku lagi.

Sehingga konsumen mobil Eropa pada akhirnya secara perlahan tetapi pasti mulai beralih menggunakan mobil-mobil bermesin Diesel.
Menurut catatan, di Negara Inggris misalnya, penjualan mobil bermesin Diesel saat ini ternyata telah mencapai lebih dari separuh dari total penjualan mobil di negara tersebut.
Itu artinya orang Inggris ( yang menggunakan mobil baru ) kini sudah lebih banyak yang menggunakan mobil Diesel (solar) dibandingkan dengan mobil bensin.
Padahal dengan statistik mengagumkan yang seperti itu, Negara Inggris ternyata masih ketinggalan jika dibandingan dalam hal penggunaan mobil Diesel negara-negara Eropa lainnya !
Lihat juga :

Maka kemudian menjadi aneh – dengan data dan fakta seperti itu – ketika orang-orang Amerika hingga saat ini masih “bersikeukeuh” tetap tidak suka untuk menggunakan mobil-mobil yang bermesin Diesel.
Apapun tipe dan merknya.
Sedangkan menurut hitung-hitungannya, mobil diesel seharusnya akan cocok sekali dengan gaya berkendara di Amerika.
Ada apa…???
Lalu mengapa orang Amerika tetap tidak suka – bahkan tidak mau – menggunakan mobil bermesin Diesel?

Jika ditelusuri lebih lanjut, alasan orang-orang Amerika tidak suka dan tidak mau menggunakan mobil bermesin Diesel sebenarnya ternyata tidak jauh-jauh dari sikap Rasionalitas mereka.
Dan alasan dibalik sikap orang Amerika yang “seperti itu” ternyata sangat "sederhana".

Yang pertama, Ketersediaan bahan bakar solar di Amerika boleh dibilang cukup terbatas.

Keterbatasan dalam ketersediaan bahan bakar diesel ( Solar ) ini pada akhirnya menyebabkan perbedaan yang besar dalam harga.
Ada sebuah hasil survei mengenai harga solar di Amerika yang memberikan gambaran bahwa kelangkaan bahan bakar Solar ini ternyata bisa menghasilkan fluktuasi harga ( turn – naik ) yang sangat drastis, bahkan mencapai tingkat perbedaan hingga 50 sen per galon.

Kedua, Harga bahan bakar solar di Amerika mahal.

Dengan kebutuhan bahan bakar yang rendah belerang, harga solar ternyata tak selalu berarti lebih murah dibandingkan bensin (premium) di Amerika.
Orang-orang Eropa sebenarnya juga mengeluhkan tentang mahalnya harga solar ini.
Tetapi mereka juga sadar jika jumlah konsumsi solar akan bisa berhemat hingga 30% lebih baik ketimbang bensin,
Lihat juga :

Ketiga, Aturan yang membatasi emisi gas buang yang (bisa) menyebabkan kabut asap dan hujan asam di Amerika sangat ketat.

Sedangkan akan lebih sulit untuk mengendalikan emisi gas NOx pada penggunaan mesin diesel. Akibatnya, untuk bisa memenuhi standar emisi yang lebih ketat, maka pengguna “harus dipaksa” menggunakan sistem pengelolaan yang lebih mahal.
Padahal, harga mesin diesel di Amerika secara umum sudah lebih mahal disbanding dengan mesin bensin dengan adanya turbo dan sistem injeksi yang kompleks.
Ditambah dengan sistem pengelolaan ini maka akan membuat harga mesin diesel jadi lebih mahal lagi.

Itulah sebabnya orang-orang Amerika tetap ngoto bersikeukeuh tidak mau menggunakan mobil yang bermesin Diesel yang berbahan bakar solar.

Hal yang menarik tentang mobil :

Share this:

Disqus Comments