Bukti Ini Menunjukkan Jika Masyarakat Inggris Sebenarnya Miskin ?

Bukti Ini Menunjukkan Jika Masyarakat Inggris Sebenarnya Miskin ?

Selama ini Inggris dikenal sebagai salah satu Negara paling maju di dunia. Sehingga logikanya, Inggris adalah Negara kaya, masyarakatnya mestinya memiliki penghasilan di atas rata-rata. 
Di masa lampau, sebelum revolusi industri terjadi, Inggris bahkan merupakan Negara super power di dunia. Dengan armada laut yang sangat kuat dilengkapi persenjataan yang modern ( waktu itu ), Inggris merajai lautan. Tak pelak Negara Inggris kemudian menjelajahi dan menaklukkan begitu banyak wilayah di berbagai benua, yang kemudian menjadi wilayah jajahan Inggris. 
Hingga saat ini, wilayah-wilayah ( jajahan) yang masih tersisa bahkan masih tergabung dalam Negara-negara Persemakmuran Inggris. 


Singkat kata, tak ada yang meragukan jika Inggris merupakan Negara yang kaya. 
Namun sebuah penelitian yang dilakukan baru-baru ini memberikan hasil yang sangat mengejutkan. 

Apakah hasil penelitian ini bisa menunjukkan dan menjadi bukti jika masyarakat Inggris sebenarnya miskin ? Bukannya kaya raya sebagaimana yang dianggap selama ini. 

Sebagaimana dilansir dari laman BBC Indonesia, sebuah lembaga yang bernama Money Advice Service (MAS) telah melakukan penelitian terhadap 5 daerah di Inggris, yaitu di Northern Ireland, West Midlands, Yorkshire and Humber, North East England, dan Wales. 
MAS meneliti seberapa besar jumlah tabungan yang dimiliki oleh warga yang tinggal di 5 wilayah tersebut. 

Hasilnya : dari lebih 16 juta warga Inggris yang tinggal di wilayah tersebut, lebih setengah penduduk dewasanya jumlah tabungan yang dimiliki ternyata “hanya” kurang dari £100 atau sekitar Rp1,6 juta. 
Yang jika dirata-rata secara menyeluruh, artinya jumlah tabungan yang dimiliki oleh setiap orangnya hanyalah sebesar Rp. 0,1 saja ! 

Dari hasil penelitian tersebut MAS menyatakan kehawatirannya dan hal tersebut merupakan tantangan tertentu bagi warga yang rendah penghasilannya. 
Nick Hill, yang merupakan ahli keuangan di MAS menyatakan : 
“Angka ini memperlihatkan jutaan orang berisiko terkait kesenjangan tabungan di Inggris," 
"Bagi sejumlah orang berpenghasilan rendah, tabungan adalah suatu tantangan nyata karena mereka jelas-jelas tidak memiliki sisa penghasilan untuk ditabung." Lanjut Hill. 

Sebagai contoh, misalnya adalah seorang warga berumur 53 tahun yang bekerja sebagai pengirim kertas dan memasang perabot yang tinggal West Midlands bernama Martyn Alonzo. 
Dengan penghasilan £13.000 atau Rp218 juta per tahunnya, hingga enam bulan lalu Martyn Alonzo bahkan tidak mampu menabung sepeserpun.
"Saya sepertinya hanya bekerja untuk makan dan bertahan hidup," kata Alonzo. 
"Saya tidak mampu menyisakan dana." Imbuhnya. 

Dari seluruh jumlah warga, “hanya” sekitar seperempat warga dewasa yang memiliki penghasilan rumah tangga tahunan sekitar £13.500 atau Rp227 juta yang baru dapat menabung. 40% penduduk di kelompok penghasilan itu mampu menabung setiap bulannya. 
Dan jumlah tabungannya, ya… itu tadi “hanya” sebesar lebih £1.000 atau Rp16 juta. 

Namun demikian Martin Alonzo kemudian mampu menabung setelah terlibat proyek Money Advice Service tentang cara menabung. Alonzo dan kerabatnya sekarang mengumpulkan dana belanja memasak untuk empat orang bukannya dua orang lagi. 

Meskipun hasil penelitian MAS menunjukkan bahwa sebagian warga Inggris ternyata juga rendah penghasilannya ( miskin ? ), namun dapat dilihat adanya fenomena yang sangat menarik yang sangat jauh berbeda dengan pola dan kebiasaan orang Indonesia. 

Meski hasil penelitian memperlihatkan sejumlah orang di Inggris memiliki penghasilan yang rendah, namun mereka tetap ( berusaha untuk ) dapat menabung. 

Pola dan kebiasaan ini sepertinya berkebalikan dengan orang Indonesia. Yang sepertinya lebih suka menghambur-hamburkan uangnya untuk berbelanja, tanpa memikirkan menyisihkannya untuk dapat ditabung. 
Penelitian yang dilakukan untuk MAS oleh perusahaan data konsumen CACI itu sendiri memiliki bank data 48 juta warga dewasa Inggris. 
Masih tentang orang Inggris :

Share this:

Disqus Comments