Pertamax Turbo, BBM Standard Euro 4 Dengan Oktan Tertinggi dan Ramah Lingkungan Ini Seharga Pertamax Plus. Mengapa ?

Pertamax Turbo, BBM Standard Euro 4 Dengan Oktan Tertinggi dan Ramah Lingkungan Ini Seharga Pertamax Plus. Mengapa ?

Beberapa media cetak beberapa waktu lalu mengabarkan bahwa di beberapa kota, pasokan BBM Premium mulai dikurangi. Kabarnya pengurangan jatah premium di waktu mendatang akan terus dilakukan. 
Sebab ke depan, para pengguna kendaraan bermotor di tanah air “dibidik” untuk menggunakan BBM sekelas Pertamax, sekurangnya Pertalite. 
Bahkan untuk SPBU di wilayah Jabodetabek, Pertamina menginginkan agar Pertamax Plus “hilang” dalam jangka waktu setahun mendatang 

Baru-baru ini dalam sebuah acara Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2016, PT Pertamina (Persero) bahkan secara resmi telah merilis BBM baru yang dinamakan Pertamax Turbo. 

Apa itu Pertamax Turbo dan Mengapa “harus” Pertamax Turbo ? 


Di kalangan masyarakat awam muncul pertanyaan yang masalahnya sebenarnya sangat sederhana. Sebab ketika BBM Pertamax Plus saja belum digunakan “secara luas dan menyeluruh” - apalagi Pertamax Plus, Pertalite saja belum cukup banyak digunakan – mengapa Pertamina “buru-buru” meluncurkan generasi terbaru dari seri Pertamax atau Pertamax Turbo ? 
Sedangkan harga Pertamax Turbo ini sama dengan harga Pertamax Plus, yaitu Rp 8.700 per liternya, tetapi mengapa Pertamina menggenjotnya ? 

Sebagaimana keterangan dari Direktur Utama Pertamina yang dilansir dari laman CNN Indonesia ada beberapa hal yang menarik dari BBM Pertamax Turbo ini, diantaranya : 

● Nilai oktan Pertamax Turbo 

Pertamax Turbo merupakan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang memiliki nilai oktan 98. Hal ini menjadikan Pertamax Turbo ini, merupakan BBM dengan RON tertinggi yang diluncurkan oleh Pertamina. 
Pertamax Plus sendiri memiliki kadar oktan 95. 

● Harga jual Pertamax Turbo 

Meski mempunyai kelebihan dalam hal kandungan RON yang lebih tinggi dibanding Pertamax Plus, namun untuk saat harga jual Pertamax Turbo ditetapkan sama dengan harga jual Pertamax Plus, yaitu sebesar Rp. 8.700 per liter. 
Harga jual Pertamax Turbo ini dianggap merupakan harga yang ideal. 
Alasannya, dengan harga yang sama, konsumen bisa mendapatkan BBM yang memiliki kualitas lebih bagus. Utamanya bagi para pengguna “pecinta kecepatan”. Sebab Pertamax Plus terkadang masih dirasa kurang joss tenaganya. 

● Sasaran Pertamax Turbo 

Menurut keterangan Direktur Utama Pertamina lebih lanjut, sasaran utama dari BBM Pertamax Turbo ini adalah konsumen atau para pengguna mobil premium, terutama yang bertempat tinggal di kota-kota besar Indonesia. 

● Uji coba Pertamax Turbo 

Pertamax Turbo telah dilakukan uji coba pasar dalam tahap awal. Ada 8 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang menjual Pertamax Turbo yang tersebar di kota Jakarta , antara lain : 
- SPBU di jalan MT Haryono 
- SPBU Jalan Pondok Indah 
- SPBU Jalan Rasuna Said Kuningan 
- SPBU Jalan Pramuka 
- SPBU Jalan Abdul Muis 
- SPBU Cikini 
- SPBU Jalan Yos Sudarso 
- dan SPBU Pantai Indah Kapuk 
Dari hasil uji coba pasar tahap awal ini diklaim, jika animo masyarakat terbilang cukup tinggi. 

● Target penjualan Pertamax Turbo tahun ini 

Dengan nilai oktan yang setinggi itu namun dengan harga yang segitu, Pertamina mentargetkan akan bisa menjual BBM Pertamax Turbo hingga sebanyak 100 ribu kilo liter (kl) hingga akhir tahun ini. 

● Pertamax Turbo BBM ramah lingkungan 

Selain diklaim memiliki kualitas yang lebih bagus, hal lain yang menjadi issu penting adalah bahwa Pertamax Turbo ini juga diklaim sebagai BBM yang ramah lingkungan 

● Pertamax Turbo incar Eropa karena merupakan BBM dengan kadar emisi Euro 4 yang paling murah ! 

Yang lebih menarik lagi, Pertamax Turbo ternyata sebelumnya telah dirilis di negara Belgia dan bahkan menjadi BBM resmi dalam ajang Lamborghini Supertrofeo European Series pada 29 Juli 2016 lalu. Pertamax Turbo ini ternyata juga mengincar negara-negara Eropa, karena ( diklaim ) merupakan BBM dengan kadar emisi Euro 4 yang paling murah di negara-negara tersebut. 
Setelah Belgia, target sasaran selanjutnya adalah negara Denmark dan Italia. 

Dua point yang terakhir di atas, mungkin sejalan dengan “desakan” Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) melalui Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan yang meminta percepatan kepada Pertamina agar segera memproduksi bahan bakar minyak (BBM) dengan standarisasi Euro 4, yang menghasilkan nilai emisi “hanya” sebesar 50 PPM. 
Itu artinya emisi yang dihasilkan BBM Euro 4 ini 7 kali lebih kecil dari BBM yang digunakan di Indonesia saat ini. 
Sebab hingga kini negara Indonesia sebenarnya masih menggunakan BBM dengan standar Euro 2 yang menghasilkan emisi sebesar 350 PPM. Selain Indonesia, negara lain yang masih menggunakan BBM dengan Euro 4 hanyalah negara Vietnam. 

Selain itu, percepatan produksi Euro 4 diharapkan setidaknya akan membawa 2 dampak positif, yaitu : 

1. Emisi gas buang yang rendah, sehingga lebih ramah terhadap lingkungan 
2. Akan terjadi akselerasi produksi industri otomotif nasional 

Isu lingkungan ini dianggap penting sebab menurut survey yang dilakukan di kota-kota besar, biaya yang harus dikeluarkan pemerintah untuk biaya pengobatan akibat pencemaran udara hingga sebesar Rp 37,5 triliun. 
Bagi Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang terpenting – konon – adalah yang penting pencemarannya berkurang. 

Karena itu Pertamina, bahkan pernah direkomendasikan untuk segera melakukan impor BBM Euro 4, untuk alasan kebutuhan transportasi dan perkembangan dunia otomotif. 
Bahkan Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sepertinya juga setuju dengan opsi impor BBM standarisasi Euro 4 ( guna memenuhi kebutuhan otomotif dalam negeri ) 
Sebab – konon – Pertamina belum atau tidak mempunyai kilang minyak yang sudah mampu memproduksi BBM standard Euro 4. 
Yang ini tentang mitos BBM di Indonesia :

Share this:

Disqus Comments