Mulai Sekarang Banyaklah “Nyebut”, Kalau Tahu Jika Malaikat Maut Ternyata Mendatangimu Sebanyak 70 Kali Setiap Hari !

Mulai Sekarang Banyaklah “Nyebut”, Kalau Tahu Jika Malaikat Maut Ternyata Mendatangimu Sebanyak 70 Kali Setiap Hari !

Bagi yang kebetulan bukan orang Jawa mungkin agak kesulitan untuk memahami istilah “nyebut”. 
Kata “nyebut” dalam bahasa Indonesia memang berasal dari akar kata “sebut”. 
Namun dalam pemakaian pada bahasa Jawa kata ini bisa memiliki makna yang sedikit berbeda. 
Dalam masyarakat Jawa, istilah “nyebut” sering digunakan untuk mengingatkan seseorang kepada Sang Maha Pencipta. 
Misalnya, ketika ada seseorang yang sedang melakukan tindakan jelek dan kemungkaran yang luar biasa, maka orang-orang di sekelilingnya akan mengingatkannya untuk “nyebut” agar ia menjadi ingat kepada Yang Maha Kuasa dan segera menghentikan kejelekan atau kemungkaran yang sedang dilakukannya. 
Kata “nyebut” bahkan lebih sering digunakan kepada orang yang ( sekarat ) akan meninggal dunia, namun diam membisu dan tidak mau berzikir. 

Dengan menuntun orang yang sekarat untuk “nyebut” maka diharapkan agar orang tersebut segera ingat dan berzikir, sehingga ( semoga ) bisa mendapatkan kemudahan dan kematian yang baik. 

Tetapi mengapa harus banyak “nyebut” ? sedangkan saat ini tidak sedang melakukan tindakan jelek dan kemungkaran ? 
Dan bahkan pula tidak sedang sekarat, akan meninggal dunia ? 

Jawabannya sangat sederhana, sebab sang maut ternyata selalu mengintaimu ! 

Dan itu tidak hanya sekali. Tahukah kamu jika Malaikat Izrail, Sang Malaikat Maut dalam seharinya ternyata selalu mendatangimu sebanyak 70 Kali ? 

Dan itu berarti jika dihitung dan ditafsirkan secara matematis , malaikat pencabut nyawa ini mendatangi setiap 21 menit sekali, dengan asumsi tenggang waktunya sama.
Sebab dalam dalam 1 hari ada 24 jam. 
24 jam = 1440 menit 
Jika 1440 menit dibagi 70 maka hasilnya adalah 20,571 menit, dibulatkan 21 menit. 


Gambar ilustrasi malaikat maut

Dari mana tahu hal itu ? 
Sebab ada sebuah Hadits Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : 

“Bahwa Malaikat Maut memperhatikan wajah manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari. Ketika Izrail datang merenungi wajah seseorang, didapati orang itu sedang bergelak-ketawa. Maka Berkata Izrail : ‘Alangkah herannya aku melihat orang ini, padahal aku diutus oleh Allah untuk mencabut nyawanya kapan saja, tetapi dia masih terlihat bodoh dan bergelak ketawa’.” 

Karena itu, alangkah pantasnya jika banyak-banyak “menyebut”. Mengingat ( berzikir ) kepada Allah dan kematian, sehingga dapat bersikap dan bertindak pintar dalam menjalani hidup. 

Tetapi karena sudah bersekolah – bahkan hingga pada jenjang yang paling tinggi – bukankah sudah pintar ? Dalam hal ini bagi seorang muslim, bukanlah “pintar” seperti itu yang dimaksud. 
Yang dimaksud pintar dalam hal ini adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, dalam sebuah riwayat. 
Seorang sahabat pernah bertanya : 

“Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling cerdas ?” 

Rasulullah SAW menjawab: 

“Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling Cerdas.” 

[HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy] 

Hal lain yang "dilakukan" malaikat :

Share this:

Disqus Comments