Bolehkah Berobat Dengan Air Yang Didoakan ? Ini Penjelasan Ilmiah Dari Air Yang Diberi Doa

Bolehkah Berobat Dengan Air Yang Didoakan ? Ini Penjelasan Ilmiah Dari Air Yang Diberi Doa

Di masyarakat umum sering terjadi perdebatan tentang boleh tidaknya berobat dengan menggunakan air yang didoakan. 

Sebagian mengatakan bahwa berobat dengan menggunakan air yang didoakan ( yang kadang disebut dengan bahasa sarkasme : “dijampi-jampi” ) adalah tidak boleh. 
Sebagian lainnya mengatakan boleh. 

Tentang masalah boleh tidaknya menggunakan air yang “dijampi-jampi” untuk mengobati suatu penyakit tentu tergantung kepada kepercayaan masing-masing. 
Namun sebelum memutuskan ‘apakah boleh atau tidak” ada baiknya menyimak terlebih dulu suatu penelitian ilmiah tentang bagaimana “perilaku” air ketika dikata-katai, dijampi-jampi atau didoakan. 
Setidaknya hasil penelitian ilmiah tersebut dapat digunakan sebagai wawasan atau wacana tentang hal tersebut di atas. 
Artikel ini sebenarnya sudah cukup banyak tersebar di internet, namun pembahasan dan sudut pandangnya mungkin berbeda. 

Adalah Dr. Masaru Emoto dari Universitas Yokohama Jepang beserta koleganya yang telah begitu tekun melakukan penelitian tentang sifat, karakteristik dan “perilaku” air selama bertahun-tahun. 
Dimana agar hasil penelitiannya dapat disebut benar-benar valid Dr. Masaru Emoto menggunakan sampel air dari jenis dan sumber yang berbeda. 
Air yang berasal dari sumur, danau, sungai, laut dan apapaun sumber-sumber air yang dapat ditelitinya. 
Dan tidak hanya berasal dari satu dua negara, melainkan dari berbagai negara, bahkan dari masing-masing benua di seluruh dunia. 


Prinsip dasar dari penelitian ilmiah Dr. Masaru Emoto sebenarnya sangat sederhana, meski membutuhkan peralatan moden yang begitu canggih. 
Dalam melakukan penelitiannya, prinsip dasarnya adalah, Dr. Masaru Emoto mengucapkan kata-kata tertentu pada masing-masing sampel air yang ditelitinya.
Kemudian sampel air yang telah “dikata-katainya” tersebut ditempatkan di bawah perangkat mikroskop elektron dengan kamera kecepatan super tinggi untuk melihat / menguji bagaimana perubahan bentuk pola dan struktur molekul air tersebut dibandingkan dengan kondisi awalnya. 

Kata-kata yang diucapkan Dr. Masaru Emoto dan timnya pada sampel air uji pada dasarnya dibagi menjadi , yaitu : 
1. Kata-kata yang baik dan atau memuji, misal “terima kasih”, “damai”, “malaikat” dan termasuk kata-kata dalam doa. 
2. Kata-kata yang buruk dan atau menghujat misal “sialan”, “setan”, dan sejenisnya. 

Lalu apa yang kemudian dilihat oleh Dr. Masaru Emoto setelah mengucapkan masing-masing jenis kata kepada masing-masing sampel air yang diujinya ? 

Dari hasil pengamatannya, Dr. Masaru Emoto secara mendasar mengambil kesimpulan bahwa terjadi perubahan pola dan struktur molekul air secara dramatis ketika air “mendengar” kata-kata tertentu. 

Sampel air yang “mendengar” kata-kata yang jelek dan tidak senonoh, maka pola dan struktur molekul air menjadi rusak bahkan hancur berantakan. 
Sedangkan sampel air yang “mendengar” kata-kata yang baik, memuji, atau kata-kata doa menunjukkan hal yang sebaliknya, pola dan struktur molekul airnya berubah menjadi bentuk kristal yang berbeda yang sangat indah berkilau mempesona, yang keindahannya tidak tertandingi oleh karya seniman manapun, bahkan yang kelas dunia. 

Dari hasil penelitiannya tersebut, Dr. Emoto dapat mengambil kesimpulan : bahkan air ternyata bisa “mendengar”, “mengerti” dan merekam pesan yang diterimanya. 

Hasil penelitian yang kemudian dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul “The Hidden Message in WaterDr. Masaru Emoto menyatakan bahwa air ternyata bersifat bisa merekam pesan, seperti pita magnetik atau compact disk. 
Dimana, semakin kuat konsentrasi “krenteg” dari yang memberi pesan, maka akan semakin “dalam” pula pesan tersebut tercetak dalam air. 
Hebatnya air juga bisa mentransfer pesan-pesan tersebut melalui dan kepada molekul air lainnya. 
Dan yang patut diketahui adalah bahwa tubuh manusia 75% merupakan bagian air. 
Pada otak prosentasenya 74,5% air, darah 82% air, bahkan tulang yang keraspun mengandung 22% air. 

Sehingga dengan logika yang paling sederhana sekalipun, ketika seseorang ( yang sedang mengidap penyakit tertentu ) mengkonsumsi air yang memiliki struktur molekul yang “sempurna” dan memuat “pesan” ( doa ) kebaikan dan kesembuhan di dalamnya, hasil yang diperoleh mestinya akan jauh lebih baik bila dibandingkan dengan mengkonsumsi air yang berantakan atau bahkan rusak struktur molekulnya atau yang biasa-biasa saja namun tidak memuat pesan apa-apa. 

Tentu saja hasil penelitian di atas tidak bisa semata-mata digunakan sebagai dalil dan menjadi kepercayaan mutlak bahwa “air bisa menyembuhkan penyakit”. 

Yang mana jika hal seperti ini terjadi, dikhawatirkan bisa terjerumus menjadi sirik. 
Sebab yang bisa menyembuhkan penyakit pada dasarnya HANYALAH Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Namun manusia juga diajarkan jika segala penyakit pada dasarnya ada obatnya. 

Sehingga air yang telah didoakan bisa jadi merupakan salah satu sarana penyembuhan terhadap suatu penyakit yang diderita manusia. 

Banyak riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah juga sering “mengobati” penyakit yang diderita oleh sahabat-sahabatnya dengan memanjatkan doa. 

Memang, saat ini masih banyak orang yang kurang atau tidak percaya jika doa juga bisa menjadi sarana pengobatan penyakit. Dan sekali lagi hal tersebut tentu sangat tergantung kepada kepercayaan masing-masing. 

Namun ( bagi yang muslim ) ada riwayat yang  terkenal yang menceritakan tentang kisah nabi Musa ketika suatu saat sakit dan berusaha mendapatkan obat. 

Dikisahkan, 
Suatu saat, nabi Musa, AS menderita suatu penyakit. 
Untuk kesembuhannya beliau kemudian berdoa, memohon dan “mengadu” kepada Allah tentang penyakitnya. 
Allah kemudian mengilhamkan kepada nabi Musa agar pergi ke sebuah ladang untuk mengambil sejenis rumput tertentu sebagai obat bagi penyakitnya. 
Dan benar saja, setelah menggunakan rumput yang diambilnya sebagai obat, penyakit nabi Musa, AS sembuh. 

Di waktu selanjutnya, nabi Musa menderita penyakit yang sama untuk kedua kalinya. Dan sekali lagi, untuk kesembuhannya beliau berdoa, memohon dan “mengadu” kepada Allah tentang penyakitnya. 
Sekali lagi, Allah mengilhamkan kepada nabi Musa agar pergi ke sebuah ladang untuk mengambil sejenis rumput yang dulu pernah diambilnya sebagai obat bagi penyakitnya. 
Dan setelah menggunakan rumput tersebut sebagai obat, penyakit nabi Musa juga sembuh. 

Di waktu selanjutnya, nabi Musa menderita penyakit yang sama untuk ketiga kalinya. 
Hanya saja kali ini beliau tidak lagi berdoa, memohon dan “mengadu” kepada Allah tentang penyakitnya. Melainkan langsung menuju ke ladang untuk mengambil jenis rumput yang telah dipergunakan untuk mengobati penyakitnya seperti yang telah dilakukan 2 kali sebelumnya. 
Namun untuk kali ini penyakit nabi Musa tidak kunjung sembuh juga meski telah diobati dengan rumput yang sama seperti yang telah digunakan sebelumnya. 

Barulah nabi Musa “mengadu” kepada Allah SWT. Nabi Musa berdoa ( mengadu ) : 
“Ya Allah, mengapa penyakit yang hamba derita tidak kunjung sembuh juga meskipun telah mengobatinya dengan jenis rumput yang sama seperti saat menderita penyakit ini 2 kali sebelumnya, sebagaimana yang Engkau ilhamkan kepadaku waktu itu ?” 

Allah kemudian mengilhamkan kepada nabi Musa : 
“Sebab ketika kamu ( nabi Musa ) sakit 2 kali sebelumnya, kamu memohon dan menyandarkan kesembuhanmu kepada-Ku ( Allah ). 
Sedangkan ketika kamu sakit untuk yang ketiga kalinya, kamu menyandarkan kesembuhanmu kepada jenis rumput yang telah AKU ilhamkan kepadamu. 
Maka penyakitmu tidak sembuh. 
Sebab yang bisa menyembuhkan penyakit pada dasarnya HANYALAH AKU ( Allah)”. 

Wallahu’alam. 

Catatan : 
Pada riwayat di atas, redaksi hadistnya tidak persis seperti itu. Untuk melihat redaksi yang sebenarnya, silahkan dicari sendiri ya hadistnya. 
Air "ajaib" lain untuk pengobatan :

Share this:

Disqus Comments