Subhanallah, Seorang Romo Lulusan Terbaik Saint Peters Vatikan Memeluk Islam Gara-Gara Salah Buka Al Quran

Subhanallah, Seorang Romo Lulusan Terbaik Saint Peters Vatikan Memeluk Islam Gara-Gara Salah Buka Al Quran

Saat ini, nama Romo Christian mungkin sudah tidak lagi dikenal orang. Sebab beliau yang bersangkutan kini telah berganti nama menjadi Bangun Samudra. 

Penggantian nama seseorang mungkin sudah menjadi hal yang biasa di masyarakat Indonesia. 
Sebagai contoh mudah, pada jaman orde baru dulu, orang-orang Tionghoa yang tinggal dan menjadi warna negara Indonesia ( kadang disebut WNI Keturunan ) berbondong-bondong berganti nama dengan “nama Indonesia” ( atau sebagai nama alias ). 
Sehingga terkadang didapatkan nama-nama yang terdengar “janggal” waktu itu. Karena memadukan nama lokal ( misal Jawa ) dengan nama Tionghoanya. 

Namun itu jaman dulu. 
Proses pergantian nama dari ( Romo ) Christian menjadi Bangun Samudra justru menyimpan cerita yang lebih “dahsyat” lagi di belakangnya. 
Yang moga-moga bisa diambil hikmahnya. 

( Romo ) Christian sejatinya adalah seorang pastur. Dan bukan sembarang pastur. Sebab Romo Christian ini merupakan pastur lulusan terbaik dari Saint Peters Vatikan, Roma. 
Dari masa studi yang seharusnya ditempuh selama 3 tahun, beliau mampu menyelesaikannya hanya dalam waktu 1,5 tahun saja. 
Dan mau tahu berapa nilai atau IPK-nya ? 
Sempurna. Dengan kemampuannya, beliau mendapatkan nilai IPK 4.00, sehingga mendapat gelar Cum Laude. 

Menurut penuturan Romo Christian sebagaimana dilansir dari laman nahimunkar.com, saat menjadi pastur, Romo Christian justru ditugaskan untuk mempelajari kitab suci umat muslim, Al Quran. 
Tentu saja tujuannya bukan untuk mengkaji untuk meningkatkan ketakwaannya, melainkan untuk mencari kelemahan-kelemahan dari Al Quran, untuk dijadikan “senjata” melawan umat muslim itu sendiri. 

Suatu saat Romo Christian berada di ruang perpustakaan Vatikan, maksudnya untuk membaca dan mempelajari Al Quran sebagaimana yang ditugaskan kepadanya. 
“Sialnya”, karena tidak memahami tentang bagaimana cara membaca Al-Qur’an, ( disangkanya seperti cara membuka kitab-kitab yang biasa ) Romo Christian ini justru membuka Al-Qur’an ini dari arah yang salah, yaitu dari kiri ke kanan. Bukannya dari kanan ke kiri. 

Karena itulah Romo Christian kemudian ditegur oleh salah seorang uskup Agung, yang bernama Uskup Agung Alonso, dengan mengatakan : “you do the wrong with the open qur’an you should be right to left”. 

Dan entah merupakan bagian dari hidayah atau petunjuk kepada beliau, “sialnya lagi” halaman Al Quran yang dibuka waktu itu, pas pada surat Al Ikhlas yang berada pada posisi paling atas yang berbunyi : 
lam yalid walam yuulad, walam yakullahu kufuan ahad” 

Yang berarti : "Ia tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak ada sesuatu yang menyerupai dia”. 

Sebuah konsep dasar yang sangat jauh berbeda – bahkan bertentangan – dengan konsep dasar tentang Ketuhahan yang dipahaminya saat itu. 
Saat membaca surat Al-Ikhlas itulah, Romo Christian bergetar hatinya. 

Dan sejak berinteraksi dengan Al-Qur’an itulah – bukannya mencari kelemahan seperti yang ditugaskan kepadanya - Romo Christian justru malah menjadi mencintai Al-Qur’an. 
Hingga suatu saat, dengan kesadaran sendiri dan keyakinan penuh pada akhirnya Romo Christian memutuskan menjadi seorang mualaf, memeluk agama Islam. 
Dan sejak memutuskan untuk memeluk agama Islam, Romo Christian kemudian mengganti namanya dengan menjadi “Bangun Samudra” dan menjadi mubaligh. 
Sehingga kemudian dikenal sebagai Ustadz Bangun Samudra. 

Tidak hanya berhenti disitu saja, Romo Christian atau Ustadz Bangun Samudra kemudian juga berhasil memberi pencerahan kepada kakaknya. Sehingga kakaknya yang bernama Albertus bersama istri (Bernaded) dan anak anaknya pada akhirnya juga memeluk agama Islam. 
Demikian pula, adik beliau yang bernama Dhorotea pun juga sudah menjadi islam. 
Hingga dapat mengislamkan kedua orang tua nya pula. 
Subhanallah. 
Simak apa yang dilakukan oleh Dr. Zakir Naik :

Share this:

Disqus Comments