Wajib Tahu, Ini Dampak Kesehatan Akibat Menonton Film 3 Dimensi

Wajib Tahu, Ini Dampak Kesehatan Akibat Menonton Film 3 Dimensi

Dampak Kesehatan akibat menonton film 3 Dimensi.

Kemajuan teknologi juga berimbas kepada dunia perfileman. 
Jaman dulu, film sangat biasa ditotnyon dalam fomat “layar tancep” atau “bisokop misbar’. Saat turun hujan atau gerimis, bioskop langsung bubar. 
Pada perkembangan selanjutnya, film layar lebar ditonton pada gedung-gedung bioskop yang lebih megah dan lebih canggih. Dan pada perkembangan terakhir, dikenal apa yang disebut dengan teknologi 3D atau teknologi 3 Dimensi untuk menonton film bioskop. 

Dengan melihat film dalam format 3 D ini, penonton seolah-olah berada dan terlibat di dalamnya. Sebab adegan-adegan film terasa benar-benar hidup. Karena itu pula film-film yang ditayangkan dalam format 3 D ini makin digemari. 
Tetapi apakah anda merasa pusing kepala setelah menonton film 3D

Itulah masalahnya, menonton film dalam format 3D ternyata dapat berdampak terhadap kesehatan. 

Hal ini yang dikatakan oleh Dr Daryan Angle, seorang ahli mata dari Kanada. Menurut Dr Daryan Angle, menonton film 3 Dimensi ( 3D) ibaratnya memaksa mata seseorang untuk melakukan lari marathon. Sebagaimana diketahui, untuk memutar sebuah film dengan Teknologi 3D (terbaru) digunakan sebuah proyektor yang mampu memindah gambar antara mata kiri dan mata kanan sebanyak 144 kali per detik. Karena itu pula dibutuhkan kacamata 3 D yang lebih baik. 
Karena itu pula akan membuat mata penontonnya harus bekerja hingga pada batas yang maksimal. "Bisa diibaratkan, otot mata kita sedang melakukan lari maraton," kata Dr Daryan Angle. 

Masalahnya adalah, pada sebagian orang tidak dapat memroses efek 3D dengan baik. Karena itu pada akhirnya mereka mengalami keluhan, yang paling banyak adalah merasa sakit kepala setelah menonton film 3D. Hal seperti ini bisa terjadi pada siapa saja. Baik pada orang dewasa maupun pada anak-anak. 
Namun menurut penjelasan Dr. Angle, efek pada anak-anak biasanya akan lebih berat. "Efeknya akan lebih berat bagi anak-anak, yang tidak tahu dengan pasti apa yang seharusnya mereka lihat," kata Dr Angle. Karena itulah Dr. Angle sangat merekomendasikan para orangtua untuk memeriksakan kondisi kesehatan mata anak- anaknya ketika mereka ( sering ) menonton film dalam format 3 D ini. 

Dengan melakukan pemeriksaan pada mata anak, diharapkan akan dapat membantu untuk menemukan apakah anak memiliki masalah pada mata yang akan membuatnya tidak dapat menikmati film 3D.

"Menonton film 3D itu memerlukan kendali otot serta pengelihatan yang baik," jelas Dr Angle. 

Yang patut diketahui, indra penglihatan dan kemampuan melihat pada anak-anak hingga usia 7 tahun masih dalam tahap perkembangan. Sehingga sebaiknya selama dalam proses perkembangan tersebut, harus didukung, salah satunya adalah dengan tidak memberinya stimulasi yang berlebihan, semacam menonton film 3D ini.
Tapi, film 3 D yang ini pasti seru :

Share this:

Disqus Comments