Solusi Alternatif Mengatasi Masalah Fly Ash Dan Cara Memanfaatkan Kembali Fly Ash

Solusi Alternatif Mengatasi Masalah Fly Ash Dan Cara Memanfaatkan Kembali Fly Ash


Bagi kebanyakan industri, pasti ada satu hal yang membuat pusing kepala, yaitu masalah fly ash atau abu terbang. Sebab sesuai peraturan perundangan yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, fly ash termasuk ke dalam salah satu limbah beracun dan berbahaya atau limbah B3.

Dan sebagai limbah kategori B3 tentu saja butuh perlakuan yang lebih jia dibandingkan dengan perlakuan pada limbah yang non B3.
Padahal jumlah produksi fly ash ini begitu banyak jumlahnya, meski tentu saja tergantung pada jenis industrinya. Namun menurut catatan, pada tahun 2006 yang lalu saja, jumlah produksi fly ash di Indonesia sudah mencapai sekitar 1,66 milyar ton.

Selama ini kebanyakan industri menangani masalah fly ash ini dengan cara menimbunnya di lokasi-lokasi penimbunan atau landfill, baik yang bersifat sementara ataupun yang bersifat permamen.
Namun menumpuk fly ash – meskipun di lokasi landfill – suatu saat pasti akan menimbulkan masalah bagi lingkungan.
Terlebih lagi untuk menyediakan dan membangun lokasi penimbunan atua landfill yang benar-benar memenuhi persyaratan perundangan dibutuhkan lahan yang luas serta teknis yang cukup rumit, sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit jumlahnya.
Belum lagi masalah perijinan yang harus diurus ke kementrian Lingkungan Hidup.


Karena itulah beberapa industri – terutama industri skala kecil dan menengah – lebih menyukai menangani masalah limbah B3 fly ash ini dengan menyerahkannya dan bekerja sama dengan pihak ketiga yang telah memiliki ijin dari kementrian lingkungan hidup.
Meskipun masalah yang timbul pada akhirnya hampir sama, yaitu membutuhkan biaya yang sangat besar untuk bisa menangani semua limbah fly ash yang dihasilkan.
Namun cara kedua ini masih dianggap sebagai jalan yang lebh praktis.
Singkatnya, masalah fly ash ini sangat menguras, waktu, tenaga dan biaya bagi kebanyakan industri.

● Komposisi dari fly ash

Berdasar bahan-bahan penyusunnya, rumus empiris fly ash adalah :
Si1.0Al0.45Ca0.51Na0.047Fe0.039Mg0.020K0.013Ti0.011
Dan berdasarkan hasil pengujian komponen utama yang terdapat dalam fly ash ( dari pembangkit tenaga listrik ) berupa silika (SiO2), alumina, (Al2O3), dan besi oksida (Fe2O3), sisanya adalah karbon, kalsium, magnesium, dan belerang.

Komposisi lengkap dari fly ash adalah sebagai berikut :

Tabel 1. Komposisi kimia abu terbang batubara
Komponen / Bituminous / Sub- bituminous / Lignite
SiO2 : 20-60% / 40-60% / 15-45%
Al2O3 : 5-35% / 20-30% / 10-25%
Fe2O3 : 10-40% / 4-10% / 4-15%
CaO : 1-12% / 5-30% / 15-40%
MgO : 0-5% / 1-6% / 3-10%
SO3 : 0-4% / 0-2% / 0-10%
Na2O : 0-4% / 0-2% / 0-6%
K2O : 0-3% / 0-4% / 0-4%

Sifat-sifat kimia dari fly ash tentu saja sangat dipengaruhi oleh batu bara yang digunakan,dalam hal ini terutama oleh jenis batubara serta teknik penyimpanan dan penanganannya.
Apabila digunakan batubara lignit dan sub-bituminous maka akan dihasilkan fly ash dengan kandungan kalsium dan magnesium oksida yang lebih tinggi.
Namun memiliki kandungan yang lebih rendah pada silika, alumina, dan karbon.

Untuk mengukur kandungan karbon dalam fly ash dapat digunakan metode Loss On Ignition Method (LOI).

Secara fisis, fly ash berupa butiran halus yang bisa berbentuk bola padat ataupun berongga, dengan kerapatan sekitar 2100 sampai 3000 kg/m3 serta memiliki luas area spesifik antara 170 sampai 1000 m2/kg. Untuk mengukur luas area spesifik fly ash dapat digunakan metode permeabilitas udara Blaine.
Dari hasil pengukuran, fly ash dari hasil pembakaran batubara bituminous memiliki ukuran yang lebih kecil dari 0,075mm.

● Pemanfaatan kembali fly ash


Berdasar kandungan dan komposisinya di atas, fly ash sebenarnya dapat dimanfaatkan kembali untuk berbagai keperluan, antara lain :
1. Untuk campuran bahan baku batu bata, bata kering atau batako
2. Untuk penyusun beton pada jalan dan bendungan
3. Untuk bahan penimbun pada lahan bekas pertambangan
4. Recovery magnetit, cenosphere, dan karbon
5. Sebagai bahan baku keramik, gelas, batu bata, dan refraktori
6. Untuk bahan penggosok (polisher)
7. Sebagai Filler pada aspal, plastik, dan kertas
8. Sebagai pengganti dan atau bahan baku semen
9. Sebagai Aditif dalam pengolahanan limbah (waste stabilization)
10. Untuk konversi menjadi zeolit dan adsorben

Pemanfaatan kembali fly ash sebagai campuran bahan baku pada pembuatan batu bata, bata kering atau batako merupakan contoh aplikasi yang paling mudah dan sederhana.
Dengan perbandingan komposisi yang tepat, tetap dapat dihasilkan batu bata, bata kering atau batako yang cukup berkualitas.

Pemanfaatan yang efektif dari fly ash lainnya adalah untuk dikonversi menjadi zeolit dan adsorben. Beberapa keuntungan dari adsorben yang menggunakan fly ash antara lain :
- biayanya murah
- bisa digunakan pada pengolahan limbah gas maupun limbah cair
- bisa digunakan dalam penyisihan logam berat dan senyawa organik pada pengolahan limbah

Sedangkan apabila fly ash dikenai proses hidrotermal, kandungan Aluminosilikat pada fly ash dapat terkonversi menjadi Zeolit.
Dimana Zeolit dari hasil konversi fly ash ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bidang pertanian, pemurnian air, sampai pengolahan tanah.
Untuk masalah sludge, ini salah satu alternatifnya :

Share this:

Disqus Comments