Ketika Google “Bermain-Main” Balon Melalui Proyek Loon, Hasilnya : Akses Internet Makin Mudah

Ketika Google “Bermain-Main” Balon Melalui Proyek Loon, Hasilnya : Akses Internet Makin Mudah

Dengan Project "balon" Loon, akses internet makin mudah.

Bagi dunia anak yang memang masih dalam tahap ekplorasi dan rasa keingintahuan, balon, merupakan sebuah benda yang “ajaib”.
Ketika benda-benda lain tidak bisa bergerak dan hanya berdiam diri di tempatnya, maka sebuah balon – meski tidak memiliki sayap – malah bisa bergerak bebas dan terbang mengudara.
Karena itulah, balon menjadi salah satu “mainan” yang paling disukai anak.
Dari dulu hingga sekarang.

Hingga sampai tercipta sebuah lagu ( anak ) yang sangat fenomenal dan terkenal, yang secara khusus menceritakan tentang balon.
Pasti tahu dan masih ingat bukan, lagu “Balonku” ?
Terlebih lagi saat ini dengan majunya teknologi, balon dapat dibuat dengan beraneka macam bentuk. Terutama berbentuk berbagai macam tokoh animasi kartun yang memang juga disukai anak.
Jadi sampai kapanpun, balon sepertinya sebuah “mainan” yang tidak pernah dilupakan.

Bila ditelusur lebih jauh, balon sebenarnya bukan hanya sekedar mainan belaka.
Ketika pesawat terbang belum ditemukan dan dibuat seperti sekarang ini, orang-orang jaman dulu ketika berusaha untuk dapat terbang, setelah melalui berbagai macam penelitian dan percobaan, akhirnya membuat sebuah balon terbang. Balon Zeppelin.
Meski pada akhirnya balon Zeppelin ini meledak beberapa saat setelah mengudara, namun temuan balon terbang tersebut menjadi salah satu tonggak sejarah penemuan pesawat terbang modern.
Jadi ibaratnya, balon adalah sebuah temuan teknologi yang dibuat mainan.
Atau mainan yang mengandung unsur teknologi.

Balon-Balon Proyek Loon


Hal ini pulalah yang kemudian diaplikasikan oleh pihak Google dalam sebuah proyeknya yang dinamakan dengan Proyek Loon.
Mengapa Google “bermain-main” dengan balon ?
Sebagai sebuah perusahaan internet nomor satu di dunia, selain berkonsentrasi di dalam bisnis internet, Google juga dikenal memiliki komitment yang cukup tinggi terhadap inovasi dan penemuan teknologi terbaru dan terkini yang canggih.
Sudah banyak inovasi dan teknologi baru yang diaplikasikan pada sebuah alat yang diciptakan oleh pihak Google.

Pada proyek Loon, Google menggunakan teknologi untuk kepentingan bisnis internetnya.

Proyek Loon sendiri pada dasarnya merupakan sebuah proyek Google untuk menyebar luaskan dan memasyarakatkan internet, terutama bagi daerah-daerah terpencil dimana akses internet tidak dapat dilakukan.

Untuk tujuan ini Google menggunakan balon-balon – jumlahnya mencapai hingga ratusan – yang “disebar mengudara” di angkasa.

Bagaimana balon-balon dari proyek Loon Google dapat bekerja.


Secara sederhana dapat dijelaskan, balon-balon dari proyek Loon Google ini nantinya berfungsi mirip seperti sebuah pemancar dan penguat sinyal internet.
Persis seperti tower-tower dari perusahaan telekomunikasi yang saat ini semakin banyak ditemui.

Dan hebatnya, meski “hanya” dengan sebuah balon dan tidak berawak, namun balon proyek Loon ini nantinya dapat dikontrol dan dikendalikan oleh pihak Google sehingga tidak terbang kemana-mana dan tidak melenceng dari target sasaran yang telah ditentukan. Mirip seperti sebuah pesawat drone.

Dan jangan dibayangkan sebagaimana balon-balon mainan biasa, agar efektif dan memiliki cakupan wilayah yang cukup luas, balon-balon dari proyek Loon ini akan diudarakan pada ketinggian 20.000 km dari permukaan tanah.
Itu artinya balon-balon dari proyek Loon ini akan menempati lapisan Stratosfer di angkasa.
Dan dengan ketinggian tersebut, sebaran sinyal internet dari sebuah balon proyek Loon dapat mencakup wilayah seluas 40 kilometer persegi.

Jika balon proyek Loon Google “berkeliaran” di angkasa, nanti bisa tertabrak pesawat terbang dong ?
Jarak ketinggian dari lalu lintas penerbangan pesawat komersial biasanya adalah pada kisaran 35.000 km sampai 40.000 km di atas muka tanah.
Jadi balon proyek Loon akan terbang 5.000 km – 10.000 km lebih rendah dari wilayah lalu lintas udara penerbangan.
Dan ketinggian 20.000 km atau lapisan Stratosfer sendiri hingga kini memang belum diatur oleh Undang-undang penerbangan.
Jadi menurut pihak Google, balon-balon dari proyek Loon miliknya akan aman, tidak tertabrak oleh pesawat terbang yang mengudara.
Namun demikian meski berada di wilayah udara yang “unregulated” beberapa negara akan menerapkan aturan tersendiri untuk ijin terbang balon proyek Loon Google ini.
Misalnya, di Indonesia.

Lho, Indonesia juga akan ditempati oleh balon proyek Loon ini ?
Lalu wilayah mana saja yang akan ditempati balon-balon dari proyek Loon Google ?
Ya, Indonesia memang merupakan salah satu negara yang menjadi “sasaran” pihak Google untuk menerapkan proyek Loon-nya.
Wilayah-wilayah Indonesia yang akan ditempati oleh balon-balon proyek Loon adalah wilayah yang sulit dijangkau oleh akses internet.
Dalam hal ini terdiri dari 3 wilayah, yaitu Sumatera, kalimantan dan Irian Jaya ( Papua ).
Dan untuk penyebaran akses internet gratis melalui proyek Loon ini, pihak Google akan menggandeng operator seluler terbesar di Indonesia, yaitu telkomsel, XL Axiata dan Indosat.

Lalu kapan akses internet gratis melalui proyek Loon Google di wilayah Indonesia tersebut mulai berlaku efektif ?
Menurut keterangan pihak Google, setelah melalui ujicoba beberapa lama, proyek Loon akan mulai berlaku efektif di wilayah Indonesia mulai tahun depan, tahun 2016.

Tetapi apakah balon-balon proyek Loon ini seratus persen aman ?
Bukankah balon-balon proyek Loon ini bisa digunakan untuk “kepentingan lainnya”, seperti sebuah pesawat pengintai drone ?
Nah, ini yang terkadang menjadi tanda tanya.

Pihak Google sendiri menyatakan bahwa balon proyek Loon adalah untuk program penyebaran internet secara lebih luas. Tidak ada keterangan lainnya tentang hal ini.

Jadi jika seumpama tentang difungsikannya balon proyek Loon ini mirip seperti sebuah pesawat drone ( pengintai – mata mata ) hanya pihak Google sendiri yang tahu !

Ini yang dilakukan Google pada Korut:

Share this:

Disqus Comments