Seperti Ini Cara Membuat Batu Ruby Sintetis

Seperti Ini Cara Membuat Batu Ruby Sintetis

Para pecinta batu permata atau gemstone lovers pasti tahu jika batu ruby – di Indonesia disebut sebagai batu Mirah - merupakan salah satu batu permata dari 4 batu permata utama yang sangat dicari dan diminati. Yang menurut perangkingan secara internasional, urutannya adalah sebagai berikut : Berlian, rubi, safir, dan zamrud.

Meskipun secara internasional menempati urutan kedua, batu ruby yang berkualitas sangat langka, jernih dan ruby halus, bisa berharga dari berlian dengan kualitas yang serupa.
Sebab ruby merupakan batu permata yang paling “sulit”, dan juga sangat tahan terhadap zat asam dan zat berbahaya lainnya.


Karena begitu berharga dan langkanya batu ruby ( yang berkualitas ini ) maka kemudian diusahakan cara-cara untuk meniru dan membuatnya secara sintetis.

Dimana untuk membuat batu ruby sintetis berpedoman dengan pedoman kandungan alami dari batu ruby ini. Batu ruby ( juga batu safir ) secara alami tersusun oleh korundum, yang merupakan bentuk kristal oksida aluminium, dengan beberapa mineral lainnya.
Adanya Kromium memberikan warna merah pada batu Ruby, dimana bahan ini tidak terdapat pada batu safir.

Menurut catatan upaya pembuatan batu ruby sintetis telah dimulai sejak tahun 1837.
Awalnya dilakukan oleh Marc A. Gaudin, seorang ahli kimia Perancis yang melakukan percobaan untuk menghasilkan batu rubi sintetis. Namun setelah melakukan uji coba selama 30 tahun, menyerah.
Baru kemudian pada sekitar tahun 1885, sebuah metode yang disebut dengan metode Jenewa – yang dilakukan dengan peleburan bubuk aluminium dan sejumlah kecil oksida kromium - telah berhasil membuat batu ruby sintetis meski dengan kualitas rendah.
Metode Jenewa ini boleh dikata sebagai tahap awal dari metode pembuatan batu ruby sintetis yang sekarang dikenal sebagai metode “Fusi Api”.

Setelah itu kemudian ada beberapa peneliti yang berupaya menemukan dan membuat proses pembuatan batu ruby sintetis.
Seperti kimiawan Perancis Edmond Frémy pada tahun 1877, kemudian, Auguste Verneuil, pada tahun 1891, lalu J. Czochralski pada tahun 1918 mengembangkan metode yang berbeda untuk sintesis batu rubi.

Selama Perang Dunia II, Divisi Linde dari Uni Carbine Corporation, memodifikasi metode fusi api Verneuil, sehingga mmapu menghasilkan batu ruby sintetis dalam jumlah yang lebih besar.
Pada tahun 1958, Bell Telephone Company mengembangkan proses dengan menggunakan suhu dan tekanan yang tinggi. Yang kemudian dikembangkan lagi oleh Carroll Chatham, San Francisco, sebagai proses hidrotermal. Juga mengembangkan aplikasi sukses secara komersial pertama dari proses fluks pembuatan ruby.
Namun demikian metode-metode yang dikembangkan untuk pembuatan batu ruby sintetis tetap saja memiliki keterbatasan, tentu saja dengan kelebihan masing-masing.


Dari sekian banyak metode proses yang ditemukan dan, kira-kira Seperti Ini Cara Membuat Batu Permata Ruby Sintetis :

1. Metode Fusi Api Verneuil
Secara garis besar metode ini dilakukan dengan memanaskan bubuk halus dari aluminium dan kromium oksida dengan nyala api pada suhu sekitar 3.600 ° F atau 2.000 ° C.
Bubuk akan jatuh ke dalam aliran oksigen yang membawa turun ke nozel, yang kemudian akan bercampur dengan aliran hidrogen dan dinyalakan.
Setelah sekitar lima setengah jam, terbentuk kristal batu ruby, aliran gas dihentikan, dan nyala api dipadamkan api. Kristal dibiarkan mendingin dalam tungku tertutup.

2. Proses Czochralski
Bahan Nutrisi cair dipanaskan di atas titik lelehnya pada sebuah cawan yang dikelilingi oleh pemanas listrik. Sebuah kristal ruby kecil melekat pada tongkat; kristal yang diinginkan akan tumbuh pada benih kristal socalled.
Benih ini diturunkan ke dalam wadah sampai nyaris tidak tenggelam dalam lelehan. Untuk mempertahankan suhu konstan batang ini terus diputar.
Bahan nutrisi akan menempel pada benih dan mengkristal.
Dengan metode ini laju pertumbuhan kristal batu ruby bisa sangat cepat. Kristal yang yang sudah besar kemudian ditarik.

3. Metode Pertumbuhan Fluks
Fluks adalah bahan yang meleleh ketika akan larut pada bahan lainnya yang memiliki titik lebur yang lebih tinggi. Proses ini menggunakan suhu di atas 2.200 ° F (1.200 ° C untuk menghasilkan kristal batu ruby berkualitas tinggi.
Sementara dilarutkan dalam fluks, molekul ruby akan melakukan transfer secara bebas dan menempel pada kristal yang tumbuh. Suhu dipertahankan dalam jangka waktu 3 sampai 12 bulan.
Kemudian ekstrak kristal ruby dipecah dari fluks dengan dipadatkan atau melarutkannya dalam asam.

4. Proses hidrotermal
Nutrisi bubuk atau kristal ditempatkan di salah satu ujung tabung bertekanan. Sebuah benih kristal lalu dipasang pada sebuah bingkai kawat di dekat ujung tabung. Tabung kemudian ditempatkan secara vertikal dalam ruang tungku.
Tungku dipanaskan, bagian bawah tabung akan menjadi lebih panas dari bagian atas tabung pada suhu sekitar 835 ° F atau 445 ° C, dibandingkan dengan 770 ° F atau 410 ° C.
Bahan nutrisi terlarut yang berpindah menuju benih kristal kemudian dikristalisasi pada permukaannya relatif lebih dingin. Tekanan di dalam tabung berkisar dari 83,000-380,000.
Kristal batu ruby yang tumbuh bisa mencapai laju 0,006 di (0,15 mm) per hari selama periode pemrosesan 30-hari .

Dari beberapa metode pembuatan batu ruby sintetis di atas pada tahap akhirnya masih tetap dilakukan proses finishing.

Dimana proses finishing ini biasanya berupa :
- Proses pemolesan
Yaitu dengan menggosoknya dengan partikel tertentu yang abrasif – umumnya bubuk berlian – sehingga semakin halus.
- Proses glossing
Yaitu proses lanjutan setelah pemolesan awal.
Dimana permukaan batu dipanaskan dengan cepat di atas api gas untuk mencairkan setiap proyeksi kecil. Permukaan tersebut kemudian dibiarkan dingin, dan lapisan tipis bahan cair didinginkan sebagai permukaan halus.

Menurut catatan sejarah batu ruby sendiri telah ditambang sejak 8.000 tahun yang lalu atau malah lebih. Batu Ruby alami bisa ditemukan di beberapa tempat di dunia, terutama di Myanmar (dulu Burma), Thailand, Sri Lanka, Afghanistan, Tanganyika, dan North Carolina.

Lihat juga :

Share this:

Disqus Comments