Tattoo Susi Pudjiastuti. Sejarah Pasang Surut Tatto Dari Ritual Ke Budaya Pop

Tattoo Susi Pudjiastuti. Sejarah Pasang Surut Tatto Dari Ritual Ke Budaya Pop


Ketika kabinet menteri Jokowi kemudian diumumkan, sempat timbul “heboh” pada salah seorang menterinya. Yaitu tentang Menteri Kelautan dan Perikanan, yang kebetulan dijabat oleh seorang wanita, Susi Pudjiastuti yang – rumornya – bertattoo. Yang bagi kelaziman masyarakat timur, masih dianggap sebagai sebuah “tabu”. Beda dengan di Negara barat. 

Mengapa tattoo dianggap sebuah tabu ? 
Dan mengapa tattoo masih selalu identik dengan tindak kejahatan ? 
Tetapi mengapa pula, para pesohor dunia saat ini malah memakai tattoo ? 

Jika dirunut sejarahnya lebih jauh, Tattoo merupakan sisa dari hasil peradaban kuno, meski sampai saat ini belum diketahui asal-usulnya. 
Ada yang menyebutkan, tattoo sudah ada di Mesir sejak tahun 1300 Sebelum Masehi ( SM ). Praktek tattoo juga ditemukan di Siberia pada tahun 300 SM. 
Dan ketika Julius Caesar menyerbu Inggris pada 54 SM, juga dilaporkan bahwa penduduk aslinya ber-tatoo. 

Dan jika dirujuk dari segi istilah, tattoo berasal dari bahasa Tahiti – Tatu – Arti kata tattoo adalah untuk menandai sesuatu. Yang kemudian diserap dalam bahasa Inggris menjadi tattoo, seperti tercatat pertama kali pada ekspedisi James Cook tahun 1769. 
Namun pemakaian tattoo ditemukan hampir di seluruh penjuru dunia sejak dulu. Namun, sejarah tattoo mengalami pasang surut.

Sebagian, menganggap tattoo sebagai kekuatan magis penangkal penyakit, penunjuk identitas, derajat sosial dan status pemakainya. Bahkan sebagian masyarakat Dayak percaya bahwa tattoo adalah obor dalam perjalanan menuju alam keabadian. 
Berawal dari fenomena budaya tradisional yang berkaitan dengan ritual dan adat, tattoo saat ini telah berubah menjadi budaya pop yang trendi. 

Di Eropa sendiri, tattoo sebenarnya pernah dilarang saat agama Kristen mulai datang. Namun dalam perkembangannya tattoo digunakan lagi pada abad 18 dan 19. Namun saat itu hanya terbatas penggunaannya pada para pelaku kriminal, tentara, pedagang atau pemain sirkus. 

Di Indonesia pun stigma buruk pernah melekat pada tattoo pada tahun 1980-an. Yaitu ketika para korban penembakan misterius ( Petrus ) selalu dihubungkan dengan para pelaku kejahatan yang umumnya ber-tattoo. Dari sejarah, antara tattoo dan kejahatan memang selalu berdekatan. 

Pada abad ke 19 misalnya, para narapidana Amerika Serikat yang telah bebas, tentara Inggris yang melakukan disersi, para narapidana di tahanan Siberia semuanya ditandai dengan tattoo. Demikian juga para tawanan kamp konsentrasi NAZI Jerman, semuanya di tattoo. 

Sisi buruk yang lain dari tattoo adalah ternyata dapat menyebabkan kanker kulit dan ditengarai peralatan tattoo tercemar yang digunakan dapat mengakibatkan dan menyebarluaskan penyakit Hepatitis. 
Belum lagi tentang aturan agama yang melarang pengikutnya untuk menandai tubuhnya dengan tattoo. Namun, karena perkembangan jaman, entah mengapa saat ini tattoo merupakan budaya pop. 
Dianggap trendi dan cukup digemari oleh kalangan generasi muda. Termasuk tattoo Susi Pudjiastuti

Lihat juga : 

Share this:

Disqus Comments