Gawat ! Pasca Tur Nusantara, Sudah Ditemukan Cara Mengalahkan Timnas U-19

Gawat ! Pasca Tur Nusantara, Sudah Ditemukan Cara Mengalahkan Timnas U-19


Minggu ini, Timnas U-19 Garuda Muda telah selesai menjalani seluruh jadwal pertandingan dari keseluruhan Tur Nusantara yang direncanakan sebelumnya. 
Dan dari keseluruhan hasil pertandingan, Timnas U-19 memperoleh hasil yang cukup memuaskan, meski belum bisa dikatakan sempurna. 
Sebab dari keseluruhan pertandingan yang telah dilakoni Timnas U-19 belum pernah kalah sekalipun, namun juga belum bisa menang secara keseluruhannya. 
Dari hasil-hasil pertandingan tersebut, Tim pelatih yang dipimpin Indra Syafri tentu sudah menemukan kerangka tim dan pola permainan yang cukup matang sebagai bekal untuk menghadapi calon-calon lawan dalam event yang lebih besar nantinya. 
Dan dengan trend yang ditunjukkan Timnas U-19, ini tentu saja merupakan hal yang positif, meski masih ada satu dua hal yang memang perlu dibenahi lagi. 
Mengingat lawan-lawan yang dihadapinya nanti bukanlah tim sepak bola kelas “tarkam” alias “kampungan”. 

Namun disamping hasil positif yang telah dicapai, tim pelatih ada baiknya juga jika mempertimbangkan dan memperhitungkan “efek negatif” dari uji coba Timnas U-19 dalam Tur Nusantara.
( Yakin, hal ini pasti sudah diperhitungkan, namun untuk saat ini ada baiknya mulai fokus lagi tentang hal ini ). Sebab sangat mungkin sekali tim-tim calon lawan juga mengintip pertandingan untuk melihat kekuatan Timnas U-19 saat ini dan mengambil keuntungan darinya. 
Dan dari situ pula mereka mulai meracik strategi untuk menghadapi ( dan mengalahkan ) Timnas–U19 nantinya. ( Yakin pula, mereka pasti melakukannya ). 

Sebab dari keseluruhan pertandingan yang dijalani memang sudah sangat cukup untuk dijadikan bahan guna meracik strategi untuk menghadapi. 
Dan khawatirnya Pasca Tur Nusantara ini, sudah Ditemukan Cara Mengalahkan Timnas U-19. Dari kaca mata penonton ( tepatnya orang yang “ndelok = kendel alok” ), memang masih ada beberapa “kelemahan” yang bisa dijadikan senjata dan cara untuk mengalahkan timnas U-19.
Berikut di antaranya : 

Timnas U-19 masih terlalu “Dimas-Sentris” 

Ini masih sangat-sangat kentara. Tanpa mengecilkan peran pemain lainnya, tapi apa artinya Timnas U-19 tanpa Ivan Dimas. Hampir-hampir seperti macan yang ompong. 
Dalam pertandingan uji coba ini terlihat jelas ketika Ivan Dimas tidak dimainkan. Irama permainan pincang. Meski masih berhasil menang memang ( atau seri ). 
Tapi bukan berarti permainannya memang lebih unggul, namun cenderung lawan masih di bawah kelasnya. Dan hal ini tentu saja sangat mengkhawatirkan. Jika tiba-tiba ada “skenario dadakan”. Ivan Dimas cedera parah misalnya. 
Bahkan sekalipun Ivan Dimas tidak cedera, tetapi lawan memberikan pengawalan khusus ( man to man marking ) padanya, sangat diperkirakan jika permainan Timnas U-19 tidak akan berkembang seperti biasanya. 
Sebab mematikan Ivan Dimas, berati mematikan seluruh irama tim. 
Ingat, bahkan pemain sekelas Maradona-pun sempat dibuat “benar-benar mati kutu” ketika ia selalu ditempel ketat oleh pemain Italia dalam salah satu pertandingan piala dunia. 

Dalam pertandingan uji coba, Timnas U-19 mayoritas menang karena nama besarnya

Tanpa mengecilkan jerih payah dan usaha yang dilakukan timnas U-19 dan jajaran pelatihnya, bila mau sedikit jeli, kemenangan-kemengan Timnas selama uji coba juga banyak disebabkan tim lawan ( lokal ) “keder” terlebih dulu mendengar kebesaran nama Timnas. 
Ibaratnya mereka sebenarnya sudah kalah sebelum bertanding. 
Dan ini terlihat sangat jelas dalam mayoritas pertandingan. Tim lawan, belum-belum sudah membuat pagar betis, benteng pertahanan yang sekokoh-kokohnya. Sehingga permainan mereka justru tidak berkembang. 
Tetapi ketika timnas menemui lawan yang mempunyai mental “ndableg”,  Kukar misalnya, terlihat Timnas juga sangat kuwalahan. Sehingga pertandingan hasilnya seri, tanpa gol satupun. 
Ingat pula Mike Tyson, sebagian besar lawannya tumbang, sebab belum-belum merasa “miris” dengan jotosannya. Namun ketika ia bertemu Holyfield yang selengekan, Tyson justru tumbang sendiri. Bahkan sempat gigit kuping lawannya. Bisa lihat juga : Kesamaan Timnas U-19 Dengan Mike Tyson.
Dan ingat pula, keuntungan nama besar, nantinya tidak akan pernah didapatkan. 
Sebab calon lawan timnas U-19 nantinya bukan klub-klub lokal, tapi Interlokal ! 

Tempo permainan timnas satu saat bisa menjadi bumerang, senjata makan tuan 

Tidak bisa dipungkiri, gelandang-gelandang muda Timnas U-19 di bawah orkestrasi Ivan Dimas, Hargianto dan Zulfiandi merupakan salah satu trio gelandang terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. 
Dari lini inilah otak dan semua rencana permainan dimulai dan mengalir. 
Namun dalam beberapa pertandingan uji coba terlihat bahwa irama dan tempo permainan yang dimainkan boleh dikatakan terlalu lamban, bahkan terkadang membosankan. 
Bisa jadi itu karena merupakan “ciri khas” timnas U-19 yang sangat mengedepankan penguasaan bola. Atau entah karena memang melaksanakan instruksi pelatih untuk mengecoh mata-mata lawan. 
Tetapi yang jelas jika timnas sudah terlalu nyaman dengan irama yang lamban seperti itu berarti itu adalah alarm tanda bahaya. 
Dan suatu saat akan bisa menjadi bumerang, senjata yang makan tuan. 
Sudah menjadi kelemahan umum bagi tim-tim yang memainkan pola umpan pendek rapat dan lambat, ia akan keteteran ketika lawan memainkan pola-pola permainan yang cepat – terlebih jika kemampuan fisik mendukung. 
Ini bisa terlihat jelas, timnas selalu pontang-panting ketika mendapat serangan balik yang cepat. Seolah-olah “kaget”. 
Bahkan tim sekelas Barcelona-pun ( yang nota bene idem pola permainannya dan lebih matang ) seringkali “keponthal-pontal “ jika harus meladeni pola permainan cepat. 
Tentu akan lebih “menggiurkan” jika Timnas U-19 melakukan variasi dan kombinasi permainan, kadang cepat, kadang lambat. 
Kalau sesuai post saya terdahulu, saya menyebutnya dengan ” irama Barongan”.
Sekali waktu begitu halus bagai orang yang sedang ekstase, sekali waktu menyentak seperti orang kesurupan. 
Jika lawan mempunyai irama yang cepat ( Jepang misal ) Timnas akan pontang-panting. 
Satu lagi, jika lawan menggunakan pola serangan balik yang menggemuruh dengan kualitas striker yang “aduhai”, sebaiknya Timnas berfikir seribu kali. 

Timnas selalu bisa dikalahkan dengan bola-bola atas, umpan lambung dan silang

Jelas terlihat dari beberapa pertandingan uji coba. Gol-gol ke gawang Timnas mayoritas dari bola atas, lambung dan silang. Hansamu memang mempunyai postur yang sudah oke. 
Dan bisa diandalkan untuk bola-bola atas. Namun pemain bertahan lainnya sering kali kurang “sip” dalam menempatkan diri ketika terjadi bola crossing atau lambung. 
Koordinasi juga perlu menjadi PR berat. 
Dari kesemua lini, barisan pertahanan-lah yang paling perlu mendapatkan “drill” tambahan. 
Yakin, jka kondisi ini tidak segera dilakukan pembenahan serius, tidak mustahil Timnas U-19 dikalahkan dan gulung tikar. 
Ingat, lawan Timnas U-19 nantinya juga banyak yang berasal dari jazirah Arab. Dengan postur yang tinggi dan piawai dalam bola-bola atas. 

Satu lagi, butuh striker haus gol. 

Seperti posting terdahulu. Muklis Hadi Ning sudah cukup mantap. Namun belum cukup “joss”, lebih lagi pelapis keduanya. 
Coba kalkulasi dari semua gol yang diciptakan Timnas “hanya” berapa persen yang berhasil diceploskan oleh sang target-man ( bukan berarti meremehkan kerja keras striker ). 
Lini kedua justru yang banyak berperan. 
Kondisi ini sebenarnya juga merupakan sebuah kelebihan yang dimiliki oleh Timnas. Karena mempunyai amunisi ( yang cukup mematikan ) dari semua lini. 
Namun jangan berharap banyak jika trio gelandang Ivan Dimas bisa “berleha-leha” di pertandingan nanti. Sebab bisa dipastikan lini tengah akan menjadi ajang pertarungan yang mematikan. 
Bisa diduga, ujung tombak harus berjuang lebih. 
Makanya makanlah “katel” biar lebih galak nanti. 

Sebab rumus bola adalah sederhana. 
Jika lawan mencetak gol 1 cetaklah gol 2. 
Jika lawan mencetak 5 gol, cetaklah 7 gol. 
Semakin banyak gol tercipta, maka semakin dekat dengan kemenangan. 

Tapi ini tentu saja hanya sebuah analisis, reka-reka ala tarkam. Tidak bermaksud menggurui, hanya sebagai sebuah sumbang saran bagi Indra Syafri dan tim kepelatihannya untuk Timnas U-19.
Sebab harapan bangsa Indonesia sangat besar kepadanya.Lainnya ?

Share this:

Disqus Comments